Hukum Guru Merokok di Sekolah

0

Oleh Dian Marta Wijayanti, SPd
Guru SDN
Sampangan 1 Gajahmungkur, Kota Semarang, Tim Asesor EGRA USAID
Prioritas Jawa Tengah
Merokok dan tidak merokok sebenarnya adalah keputusan
pribadi. Namun, bagaimana dengan hukum guru merokok di sekolah? Hal ini harus
dipertegas. Pasalnya, merokok di sekolah telah menunjukkan dampak tidak baik
bagi siswa dan guru lain yang tidak merokok.
Mengapa demikian? Di sekolah, guru tidak hanya menjadi
“simbol ilmu”, namun juga menjadi “simbol moral” bagi masyarakat sekolah. Jika
guru merokok, hal itu terkesan negatif dan seolah-olah guru tidak mampu
memberikan contoh baik bagi siswa.
Fenomena guru merokok sangat berdampak pada siswa.
Apalagi, jumlah perokok remaja 15-19 tahun di Indonesia naik hingga 150% selama
2001-2007. Sementara itu, perokok pemula usia 10-14 tahun naik hampir 2 kali
lipat selama periode yang sama (Media Indonesia, 4/3/2014). Ini sangat ironis jika guru tidak peduli dengan
merebaknya “kebiasaan” merokok di sekolah, padahal seharusnya guru menjadi
pemicu dan motivator sejati bagi siswa untuk menjauhi rokok.
Digugu dan ditiru
Urgensi larangan merokok di sekolah bagi guru tak bisa
dinego lagi. Jangan sampai tempat menuntut ilmu dinodai dengan aktivitas yang
tidak patut dicontoh. Apalagi yang merokok adalah guru yang seharusnya digugu lan ditiru. Artinya, guru sebagai
panutan hendaknya tidak melakukan hal yang tidak baik untuk kesehatan.
Melalui pembelajaran seringkali guru mengatakan
“merokok tidak baik bagi kesehatan”. Tapi, kenyataan di lapangan guru
mengkhianati kata-katanya sendiri. Tak jarang kita temui pada waktu luang di
jam istirahat banyak guru menikmati asap rokok tanpa pandang tempat. Bersembunyi
dan merokok di ruang guru agar tidak terlihat oleh siswa sangat tidak patut
dilakukan. Hal
itu justru membuktikan “karakter asli” para guru yang suka “menyembunyikan aib”
di hadapan siswa. Hal ini perlu diperhatikan, jangan sampai siswa berpikir
negatif terhadap guru mereka sendiri.
Situasi yang memprihatinkan juga terjadi ketika guru
tanpa basa-basi merokok di depan siswa. Hal ini sangat tidak etis jika melihat
“sekolah” sebagai tempat menuntut ilmu. Guru yang merokok di sekolah menandakan
bahwa dirinya tidak “bijaksana” terhadap diri mereka sendiri. Selain merugikan
kesehatan pribadi, merokok di sekolah sama halnya dengan membunuh siswa secara
pelan-pelan. Membunuh di sini bukan berarti menghilangkan nyawa, melainkan
membunuh karakter positif diri siswa.
Beberapa zat berbahaya dalam asap rokok seperti karbon
monoksida, karsinogen, nikotin, iritan dan tar merupakan motif yang kuat untuk
menjauhkan siswa dari rokok. Meskipun tidak semua siswa terpengaruh untuk
merokok, sebagai perokok pasif siswa pun merasakan dampaknya. Maka, guru harus
pandai menempatkan diri untuk merokok di sekolah atau tidak. Jika filosofi diguru lan ditiru dikhianati guru
dengan  merokok, maka sepertinya guru
seperti itu “pura-pura” menjadi guru.
Merokok adalah pilihan
Setiap orang punya pilihan untuk merokok atau tidak.
Tapi berbeda jika yang berbicara itu guru. Tidak ada hukum jelas yang melarang
seseorang untuk rokok. Bahkan, mustahil juga jika negara ini menutup pabrik
rokok. Karena bisa dibayangkan jika pabrik rokok ditutup, fenomena besar akan
datang mengiringi. Petani tembakau bangkrut, banyak pengangguran, dan yang
jelas akan semakin banyak generasi muda yang putus sekolah. Maka, pilihan untuk
merokok atau tidak bagi seorang “guru” tidak bisa dianggap sepele meskipun
kesannya hanya sekadar omong kosong yang terlalu membesarkan perkara.
Tidak ada salahnya bagi orang berstatus guru untuk
“merokok” asalkan guru tersebut tidak merokok di sekolah. Status guru memang
tidak sebatas ketika berada di sekolah, tapi berbeda ketika sama-sama
merokoknya dan itu dilakukan di rumah atau sekolah. Di rumah, seseorang dapat
dengan bebas merokok. Sedangkan di sekolah, guru harus mengingat statusnya
sebagai guru.
Guru adalah sumber ilmu. Banyak siswa mengidolakan
salah satu guru mereka sebagai panutan, bahkan pandangan hidup ke depan.
Sebagai idola, tentu siswa tidak hanya tertarik pada sekadar paras tapi juga
perilaku. Akan sangat memprihatinkan jika sampai tertanam konsep “guruku saja merokok tidak apa-apa, jadi
tidak ada salahnya juga jika aku merokok”.
Konsep yang tumbuh pada
pemikiran siswa adalah awal keinginan siswa untuk mencoba rokok. Meskipun
keputusan siswa untuk merokok tidak hanya dipengaruhi guru, tapi guru yang merokok
di sekolah dapat memotivasi siswa untuk merokok.
Informasi tentang bahaya rokok memang sudah banyak
digaungkan oleh pemerintah maupun perusahaan rokok itu sendiri. Hal itu
menunjukkan bahwa meskipun merokok tidak dilarang, tapi bahaya akan rokok sudah
jelas terpampang. Maka, bagi publik memilih untuk merokok atau tidak, semua itu
adalah pilihan pribadi. Namun berbeda urusannya jika yang merokok masih
berstatus siswa, kondisi organ tubuh yang masih belum kuat serta keuangan yang
masih disokong orang tua tampaknya harus diluruskan untuk tidak lebih dahulu
merokok.
Ketegasan sekolah
Ketegasan sekolah menghadapi fenomena ini sangat
penting. Pasalnya, sekolah adalah pihak yang mempunyai kewenangan untuk membuat
“tata tertib”. Setidaknya, peraturan tidak hanya dibuat untuk siswa tapi juga
untuk guru. Dengan peraturan tersebut guru akan tahu hak serta kewajiban yang
berkaitan dengan bahaya merokok karena hal ini tidak hanya menyangkut kesehatan
individu tapi juga banyak orang.
Pertama, guru dilarang keras membawa rokok di sekolah.
Jangankan merokok, membawa pun harus dilarang. Ini adalah awal yang akan
menjadi akhir dari kebijakan mengharamkan guru merokok di sekolah. Karena
dewasa ini meski tidak ketahuan merokok di depan siswa, namun siswa sering
menemukan bungkus maupun puntung rokok di lingkungan sekolah. Hal itu sangat
disesalkan dan seharusnya bisa dihindari.
Kedua, guru dilarang merokok di lingkungan sekolah.
Tidak ada salahnya guru merokok asal tidak di sekitar majelis ilmu. Guru harus
memberikan contoh yang baik di depan peserta didiknya. Artinya, guru
memperjelas bahaya rokok dengan tidak hanya “melarang” tapi juga mencontohkan
secara langsung kepada siswa.
Ketiga, pendidik itu tidak hanya menjadi pentransfer
ilmu, namun juga pembentuk karakter. Maka, jika pendidik merokok, karakter yang
terkonsep pada pelajar justru karakter negatif dan pemboros. Pasalnya, perokok
adalah pemboros yang membuang uang hanya untuk dibakar.
Keempat, guru menyampaikan bahaya rokok sejak dini
agar perokok pemula segera menentukan keputusan untuk melanjutkan “merokok”
atau “tidak” setelah mengetahui bahaya rokok. Secara agama merokok memang tidak
haram, tapi jika bisa menjaga organ tubuh dengan tidak merokok tentu guru punya
pilihan untuk lanjut merokok di sekolah, merokok di luar lingkungan sekolah,
atau berhenti merokok. Guru punya pilihan!

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan