Keniscayaan Menjadi Aktivis

0
Oleh Anwar Said
Ketua Bidang KPP HMI Cabang Semarang 2012-2013, Penasihat LAPMI Tuntas Semarang
Dunia aktivis mahasiswa semakin hari semakin menipis
peminatnya. Kalaupun menjadi aktivis, itu hanya sampai pada jenjang permulaan
(atau sekadar kader dasar) saja. Karena semakin sibuk kuliah dan tugas dari
dosen, para mahasiswa akhirnya lebih senang sibuk di dalam kamar, mengerjakan
tugas kampus, dan menghabiskan waktu menonton televisi.
Ketatnya aturan dunia kampus menjadi alasan paling
utama mahasiswa untuk tidak aktif dalam dunia pergerakan. Mereka khawatir tidak
lengkap absensinya, atau khawatir nilainya buruk, gamang tidak bisa ikut ujian,
bahkan khawatir dimarahi orang tua. Dunia mahasiswa yang melempem ini semakin
menggejala dalam gerak kampus kita, sehingga dunia pergerakan saat ini miskin
kader militan yang bisa menggerakkan nalar kritis dalam menganalisis fakta
sosial kemasyarakatan.
Sementara pejabat kampus sendiri juga tak begitu hirau
dengan nasib dunia pergerakan yang makin menyusut. Pejabat kampus lebih senang
sibuk dengan aktivisme kampus yang birokratis dari pada menggerakkan jiwa
pemberani kaum mahasiswa sebagai agen perubahan sosial (agent of social change). Para pejabat kampus justru seringkali
merebut kursi atau proyek untuk menambah pundi-pundi kekayaannya. Terbukti,
para pejabat kampus sekarang makin necis dalam life style, kuat dalam
pencitraan, tetapi miskin dalam etos pembebasan.
Di tengah kondisi kampus yang makin mabuk dengan citra
dan materi inilah, dorongan menjadi aktivis yang terus berjuang untuk publik
makin menyusut. Bahkan bukan saja menyusut, melainkan malah menjadi takut,
karena terdapat pameo bahwa menjadi aktivis bisa lama kuliahnya, atau bahkan
bisa diburu negara. Pameo-pameo yang tidak lazim ini disebar-luaskan oleh 
oknum “pembunuh aktivis” yang menginginkan matinya aktivisme kampus untuk
melanggengkan para pemegang “status quo” kekuasaan. 
Fakta inilah yang harus kita refleksikan bersama di
tengah kondisi bangsa yang carut marut ini. Rezim kekuasaan juga semakin
semena-mena, sehingga aktivis kampus sebenarnya menemukan momentumnya untuk
bangkit melakukan perubahan, baik dalam tataran vertikal maupun horisontal.
Dari sini, kalau mahasiswa itu kritis, pastilah akan tergerak mengepalkan
tangan bersama aktivis lainnya untuk membela kebenaran yang diyakininya.
Saatnya sekarang membangun citra bangun dunia
aktivisme yang bisa memikat kaum mahasiswa lainnya untuk berjuang bersama
membela sebuah kebenaran yang ideologis. Saatnya menjadi aktivis sebagai sebuah
kebanggaan, bukan sebagai cemoohan yang kumuh dan menakutkan. Untuk itu, perlu
upaya reformulasi atas dunia aktivisme agar sesuai dengan target akademik
sekaligus juga bisa sesuai dengan agenda pergerakan. Reformulasi ini penting
agar dunia aktivisme selalu melakukan proses pembaharuan, tidak terpaku dengan
aktivisme masa lalu, dan bisa menjawab kebutuhan zaman yang terus berubah
setiap saat.
Kualitas Diri
Menjadi aktivis di dunia saat ini, bukan saja dengan
nalar kritis, jiwa pemberani, dan terjun di jalan raya, melainkan juga harus
diimbangi dengan prestasi akademik yang baik. Akademik yang baik bisa menjadi
lompatan cepat kaum aktivis untuk bisa meraih kemampuan setinggi mungkin.
Mahasiswa bisa bercita-cita kuliah di berbagai perguruan tinggi dunia, misalnya
Harvard, Yale, Oxford, dan sebagainya.
Memasuki aktivisme sekaligus dunia akademik yang
berkualitas akan menjadikan aktivisme semakin bermakna dan bisa menjawab
problematika sosial yang sedang berkecamuk.
Berambut gondrong atau celana sobek-sobek bukanlah harga mati sebagai ciri
khas seorang aktivis.
Formulasi masa depan lebih membutuhkan kecakapan
pribadi yang mumpuni dalam membangun jaringan sosial yang baik disertai
kemampuan akademik yang baik.  Jangan sampai terjebak dalam aksiomatika
yang normatif, sehingga mengabaikan formula lain yang sangat membantu dalam
kesuksesan seorang aktivis.
Dunia akademik sangat membantu dunia aktivisme untuk
melapangkan jalan perjuangan yang lebih baik dan strategis dalam menata
jaringan yang lebih mapan. Kemapanan jaringan bisa menjadi agenda utama dalam
menggerakan perubahan sosial kemasyarakatan. Inilah yang perlu dicamkan dari
dunia aktivisme sekarang. 
  
Jaringan yang kuat inilah memang yang menjadi daya
tarik paling bagus dalam dunia aktivisme. Sangat berbeda dari mereka yang hanya
berkutat dengan tugas kampus dan aktivisme kamar kos, yang hanya melihat dunia
kampus sepojok bangku kuliah saja. Aktivis kamar kos ini kerap gagap menghadapi
fakta sosial, karena kehidupan kampusnya jauh sekali dengan fenomena sosial di
sekelilingnya. Sementara aktivis lapangan begitu leluasa menggerakkan kakinya
dalam menjalin berbagasi relasi sosial yang didapatkan tatkala aktif dalam
pergerakan kampus. Jaringan sosial jelas sangat membantu menggerakkan
kesuksesan diri di tengah gejolak sosial saat ini.  
Banyaknya kemudahan jaringan tatkala menjadi aktivis
inilah yang perlu dipahami dalam dunia per­gerakan. Khususnya dengan para calon
mahasiswa yang sedang akan menjejakkan kakinya di perguruan tinggi. Jangan
sampai para calon mahasiswa takut terlebih dahulu dengan berbagai pameo negatif
ikhwal dunia aktivis. Sebelum mencoba dan merasakan nikmatnya sebagai aktivis,
rasanya tidak sah untuk berbicara ikhwal pameo negatif dunia aktivisme.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan