Memaksimalkan Teater Kampus

0
Oleh Hamidulloh Ibda
Mantan Pengurus Teater EFTA Semarang
Dewasa ini, tampaknya
geliat mahasiswa untuk berkecimpung di dunia teater mulai meredup. Padahal, sebenarnya teater tak sekadar dunia panggung atau lakon saja. Namun, teater merupakan dunia kecil
untuk merubah sikap dan pola kehidupan, percuma berkecimpung di dunia teater jika seseorang
tak berubah
sikapnya.
Diakui atau
tidak, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di dunia teater mampu
melahirkan orang-orang hebat. Di teater kampus mereka mendalami dunia lakon dan
seni, yang akhirnya mereka sukses karena proses belajar serius ketika ia aktif
di dalamnya. Maka dari itu, banyak alumni tetaer kampus yang eksis di dunia
hiburan di negeri ini
Sepi Peminat
Seiring
berjalannya roda kehidupan, teater kampus mulai sepi peminat. Hampir sama
dengan UKM lainnya seperti pers, olahraga, silat, dan sebagainya. Mereka
sama-sama membutuhkan kader, yang akhirnya saling berebut kader dan sedikit
yang terjaring di teater. Padahal, UKM teater memiliki kelebihan jika
dibandingkan UKM lainnya.
Di samping
itu, perlu diketahui bahwa teater kampus pada awalnya memiliki posisi
strategis dan bergengsi. Hal ini disebabkan oleh adanya kepercayaan masyarakat, bahwa
kampus merupakan tempat persemaian kaum intelektual
dan terdidik.
Sehingga, teater-teater di luar kampus banyak yang belajar dari teater
kampus.
Namun, mengapa teater kampus sekarang sepi peminat,
apakah karena kegiatannya tidak menarik? tentu tidak. Apatisme mahasiswa
terhadap teater merupakan bukti bahwa teater kampus mulai mengalami kemunduran.
Hidup enggan mati pun
tak sudi, begitulah kira-kira kata yang bisa mewakili keberadaan teater kampus
sekarang. Ada banyak problem,
hingga kenapa kelangsungan teater kampus menjadi kehilangan ruh
berkesenian lagi.
Kemunduran
Ada
beberapa hal yang menyebabkan teater kampus mengalami kemunduran, Pertama,
agenda
teater belum bisa memenuhi kebutuhan
mahasiswa. Mereka mengikuti
teater hanyalah sebatas hobi
semata, belum bisa menjadi spirit dan
menjiwai mereka. Motivasi mereka aktif di
teater hanya
sebatas mengisi sela-sela waktu kosong
saja. Artinya,
kegiatan teater hanya dijadikan
sebagai kebutuhan sekunder mahasiswa.
Kedua, kendala dalam hal pendanaan.
Memang tidak bisa dipungkiri, dana merupakan persoalan penting dalam berkesenian. Selama ini teater kampus hanya mengandalkan pendanaan dari
birokrasi kampus.
Mereka belum bisa mandiri mencari dana sendiri. Sehingga, setiap kali mengadakan kegiatan selalu
tersendat.
Ketiga, semrawutnya manajemen
teater kampus. Kelompok teater tidak
hanya mengelola tentang kemampuan keaktoran semata. Banyak komponen pendukung lainya, selain
berkutat pada pengelola kemampuan akting, bloking, dan dialog. Persoalan inilah
yang kadang luput dipahami aktivis
teater. Sehingga yang sering terjadi, ketika mereka pentas tanpa memperhitungan
persoalan pendukung lainya seperti publikasi, penataan panggung, pengaturan
lampu dan sound-system, penataan
penonton, dan sebagainya.
Keempat, semrawutnya 
kehidupan anggota teater.
Misalnya, banyak aktivis teater yang melalaikan kuliahnya. Padahal, anggota
teater menjadi cermin baik dan buruknya teater itu sendiri. Selain itu, aktivis
teater juga terkenal jorok dan semrawut dalam penampilan, sehingga hal ini
menjadikan mahasiswa memandang negatif dunia keteateran.
Memaksimalkan
Dari persoalan di atas, sudah saatnya aktivis
teater kampus mereformasi dan
menghidupkan kembali dunia keteaterannya.  Jika kita melihat jumlah
teater kampus saat ini cukup banyak, hampir setiap kampus di Semarang memiliki kelompok tetaer. Sebut saja Teater Beta,
Wadas, Asa, Matafisis, Mimbar (IAIN Walisongo), Kaplink (Udinus), Kolam Kodok (Polines), Esa (Unisula), Cabank (Unisbank), Gema (IKIP PGRI), SS (UNNES), Emka, Dipo, Buih (UNDIP),
G-Terwas  (UNWAHAS), Pitoelas (UNTAG), dan sebagainya.
Teater di atas merupakan teater kampus yang mengalami permasalahan
yang sama, yaitu kemunduran. Padahal, di Semarang sendiri sudah ada Forum Teater Kampus Kota Semarang (Fotkas) yang fokus bergerilya
dari kampus ke kampus untuk memaksimalkan gerakan teater kampus.
Fotkas tampaknya sedikit demi sedikit mampu membangkitkan spirit
aktivis tetaer untuk bangkit dari tidurnya. Lewat
berbagai kesempatan, pada momen-momen tertentu, mereka melakukan ekspansi
dengan menggelar pementasan di luar kampus.  Simpang Lima, Kota Lama, Tugu
Muda, dan beberapa kampung menjadi arena pentas yang pernah digunakan.
Paling tidak, sudah
banyak teater kampus di Semarang yang intens menggelar
pertunjukan di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) maupun tempat lainnya. Itu artinya, sudah ada
usaha nyata untuk menghidupkan kembali teater kampus. Geliat teater kampus paling tidak menjadi suluh akan lahirnya generasi
kreatif yang suatu akan menjadi ikon teater Semarang.
Teater memang
bukan segala-galanya, namun segala-galanya bisa berawal dari sana. Jadi,
menghidupkan kembali teater kampus merupakan harga mati.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan