Meneguhkan Kualitas Gerakan HMI

0
Alin Fithor

Oleh Alin Fithor

Ketua Umum HMI Cabang Semarang Periode 2012-2013
Keadaan bangsa Indonesia saat
ini terpuruk, khususnya masyarakat Islam di dalamnya. Bagaimanapun keadaan tersebut, tentu tidak
bisa dilepaskan dari intervensi
arus modernitas begitu deras dalam kita memberikan opini. Penilaian atas kondisi tersebut, mau menggunakan
analisis apapun, dari mulai analisis sosiologi klasik, sosiologi modern, sampai
sosiologi kritis, tetap saja yang diteropong adalah “perubahan”. Baik
perubahan pada wilayah nilai maupun praktek. Titik di mana perubahan itu berpijak hari ini adalah
pada garis modernitas atau kalau ingin sedikit lebih ke depan, postmodernitas.
Meskipun di atas
disebutkan mengenai masyarakat Islam sebagai yang khusus, namun tulisan ini
akan mencoba mengurai sedikit lebih luas dari hanya meletakkan masyarakat Islam
sebagai pelaku zaman. Sebab,
berbicara Islam di Indonesia hari ini, pada dasarnya juga berbicara dan
berfikir tentang Indonesia itu sendiri secara utuh.
Dalam perkembangannya, baik
Islam di Indonesia, maupun Indonesia itu sendiri, melalui beberapa rekaman
sejarah dapat dilihat fase-fase perubahannya, juga beberapa faktor serta dampak
dari perubahan tersebut. Sebagai entitas yang tidak ada dengan sendirinya,
keberadaan HMI hingga hari ini pun, tidak bisa dilepaskan dari beberapa
konsekwensi di atas. Dapat dikatakan juga, keberadaan HMI hingga hari ini
merupakan dampak sekaligus sumber dari perubahan sosial yang pernah ada (atau
akan ada) di Indonesia, baik dalam konteks keislaman maupun konteks sosial
secara umum.
Kemudian, di tengah
kondisi di mana kecenderungan ke arah fragmentasi pengetahuan serta spesefikasi
keilmuan yang memiliki pengaruh besar terhadap paradigma masyarakat, yang pada
akhirnya akan menentukan bentuk masyarakat yang ada, bagaimana HMI akan memposisikan
diri dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai organisasi perkaderan
sekaligus perjuangan? Maka
dibutuhkan refleksi sekaligus evaluasi yang dalam serta tajam selain pandangan
yang jauh ke depan (visioner) untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut.
Merevisit HMI
Menjadi sangat penting bagi
HMI, khususnya para kader, pengurus dan anggotanya untuk melihat kembali ke
belakang mengenai alasan keberadaan HMI. Mengapa
dan untuk siapa HMI ada? Melalui pendekatan sejarah, kita dapat
mengatakan bahwa alasan mengapa HMI ada merupakan sebuah kebutuhan dari tidak
hanya mahasiswa Islam pada waktu itu, namun juga masyarakat Islam di Indonesia
secara khusus dan bangsa Indonesia sendiri secara umum. 
Gerakan HMI pada masa awal berdirinya hingga
menjelang era reformasi dapat dikatakan masif, baik gerakan pada wilayah
intelektual, moral, maupun penyikapannya secara fisik terhadap beberapa
persoalan yang ada. Pada kisaran tahun 1947 hingga menjelang awal orde baru,
yang dihadapi oleh HMI jelas dan nyata, yaitu ancaman terhadap penjajahan jilid II dan ancaman
internal (PKI). Pada awal orde baru berkuasa hingga menjelang tahun 70-an, HMI
dihadapkan dengan perang pemikiran baik melawan tradisi pemikiran yang
berparadigma pembangunanisme yang notabene sebagai legitimasi hegemoni negara
terhadap rakyat, maupun keengganan dari masyarakat sendiri khususnya Umat Islam
untuk mempebarui pola pikir keislaman.
Kemudian pada akhir tahun
90-an, HMI berhadap-hadapan langsung dengan akumulasi represifitas negara, yang
hal itu mengakibatkan tidak hanya HMI, namun juga organisasi lainnya untuk
bersama-sama melakukan perlawanan nyata terhadap negara (orde baru). Pada titik
klimak dari gerakan mahasiswa itulah orde baru tumbang dan kran-kran demokrasi
mulai terbuka. Pertanyaannya kemudian adalah, apa yang saat ini sedang dihadapi
oleh HMI?
Perlu untuk melihat kembali
keberadaan HMI dengan sedikit membaca sejarahnya. Dari pembacaan atas
keberadaan HMI tersebut, dapat dilakukan analisa mengenai pola-pola gerakan
yang dilakukan oleh HMI dalam menghadapi jaman yang tentu saja mengandung
masalah dan akar yang tidak sama persis. Apa yang telah tertuliskan di dalam
lembaran hasil-hasil kongres, tidak lain hanyalah sebatas mimpi, atau lebih tepatnya gambaran
ideal. Untuk bisa mewujudkan mimpi tersebut, maka mimpi yang ada di dalam
lembaran hasil-hasil kongres harus dikeluarkan, harus dikontekstualisasikan dan
didialogkan dengan realitas. Apakah “Lima Kualitas Insan Cita HMI” harus sama persis dengan teks yang ada,
atau harus diformat ulang dalam arti dicarikan relevansinya dengan masa kini.
Kembali kepada “merevisit” HMI, apa yang telah
berlangsung di dalam sejarah, kemudian apa yang telah dihasilkan oleh sejarah,
serta apa yang bisa atau telah diproyeksikan oleh sejarah, paling tidak HMI
harus menampung itu semua sebagai bahan untuk menimbang ulang serta mempertegas
kembali minimal fungsi dan peran HMI. Yang secara ekstrimnya, fungsi dan peran itulah yang merupakan bagian
penting dari beberapa syarat keberadaan HMI. Dan aktualisasi dari fungsi dan
peran yang dimaksud tersebut haruslah memiliki selain signifikansi, juga relasi
dengan konteks yang ada (relevan).
Common Enemy
Hal paling sederhana yang
mampu menciptakan kesolidan dan kesamaan gerakan, adalah musuh bersama.
Penjajah dan PKI, pada era awal kemerdekaan, adalah musuh bersama bagi  tidak hanya masyarakat indonesia, namun juga
HMI. Arus dan paradigma pemikiran yang berkiblatkan Barat, pernah juga menjadi
musuh bersma dalam konteks pemikiran di Indonesia. Selain itu, orde baru dengan
hegemoninya melalui konsep pembangunanisme, serta represifitas dan
otoritarianisme sebagai alatnya, menjadi musuh bersama hampir seluruh masyarakat
indonesia yang  pro akan perubahan ke
arah yang lebih baik.
Keberadaan dan dipilihnya common enemy tersebut sedikit banyak
telah melahirkan selain kesadaran bersama, juga kekuatan yang lebih besar dan
pasti dalam melakukan suatu gerakan. Sebagai artikulator, HMI seharusnya lebih
mampu untuk menjadi inisiator penentuan tentang apa atau siapa musuh bersama
masyarakat Indonesia, apa atau siapa musuh bersama HMI. Meskipun pada tingkatan
lokal, HMI di cabang-cabang memiliki varian fokus gerakan masing-masing. Tetapi
untuk hal yang lebih besar, HMI harus memiliki itu, dan itu harus ditemukan
kemudian dipilih, secara tepat!
Dampak positif lain dari
langkah ini adalah akan meminimalisir terkurasnya tenaga dan fikiran secara
sia-sia dalam  pergulatan tidak produktif
pada wilayah internal. Serta mampu mengarahkan sehingga gerakan HMI bisa lebih
fokus dan konsentratif.
Harus diakui bersama bahwa
HMI hari ini sedikit mengalami jalan di tempat (untuk tidak mengatakan stagnasi
atau bahkan kemunduran). HMI hari ini tidak atau belum memiliki isu yang
bersifat strategis, isu yang memiliki dampak sistemik jika tidak disikapi.
Misalnya saja tentang ekonomi, yang menjadi perhatian serius dari HMI terkait
dengan isu-isu ekonimi?
Mengenai pendidikan,
kebudayaan, politik, serta beberapa isu yang berada pada berbagai sektor. Yang
ada di HMI adalah bidang atau lembaga sektoral (misalnya lembaga ekonomi,
lembaga pers, bidang ekonomi-politik, bidang pendidikan kalau ada , serta
keberadaan lembaga atau bidang sektoral lainnya). Namun tetap saja selama ini
lembaga atau bidang tersebut kebingungan atas apa yang akan dikerjakan. Hal ini
disebabkan oleh tidak adanya isu strategis tersebut, yang isu itu diharapkan
dapat merangsang progressifitas gerakan HMI dalam ikut menjawab tantangan
jaman.
Terkadang juga, HMI baik pada
struktur Pengurus Besar hingga Cabang atau Komisariat  sering melakukan kesalahan dalam menentukan
musuh bersama maupun memilih isu strategis. Apakah disebabkan oleh pisau
analisis yang lemah, atau kurang jeli dalam mengidentifikasi aktor dan isu,
yang jelas hal ini harus menjadi perhatian bagi HMI. Salah satu kesalahan saja
misalnya, HMI dalam menyikapi isu yang sedang berkembang tentang Bank Century,
sudah kehilangan makna dan signifikansinya. Penyikapan HMI terhadap isu yang
ada masih sngat parsial, sebatas permukaan, dan belum menyentuh kepada inti
persoalannya, substansinya. Padahal yang memiliki dampak sistemik dari sebuah
masalah terletak pada intinya, bukan pada variannya, atau isu sebagai
pengalihan isu.
Oleh karena itu, ke depan HMI
harus lebih memiliki kualitas gerakan yang lebih bagus. Dan hal itu salah
satunya dapat dimulai dari penentuan terhadap musuh bersama memilih isu
strategis yang tepat.
Re-empowering
Model dan pola gerakan HMI
tidak sama persis dengan model dan pola gerakan mahasiswa yang lain. Adapun
persamaan, mungkin itu dalam beberapa hal yang sifatnya furu’, profan. Jika
mengacu kepada AD/ART HMI, maka gerakan HMI merupakan formulasi akhir dari
beberapa ramuan seperti tujuan, fungsi, peran, arah perjuangan, yang
dikombinasikan dengan kebutuhan dari HMI sendiri dan masyarakat, dan
diakulturasikan dengan realitas atau kondisi yang sedang berlangsung. Sehingga
gerakan HMI dapat benar-benar merupakn gerakan yang sifatnya signifikan,
realistis, relevan, dan mudah untuk dievaluasi.
Dari beberapa ramuan seperti
disebutkan di awal, itu akan menentukan model dan pola gerakan HMI, baik pada
masing-masing Cabang, maupun HMI dalam skala nasional, yang dalam hal ini PB
HMI. Setelah dirumuskan model gerakan yang tepat bagi HMI, hal lain yang harus
diingat adalah jangan pernah lupa meletakkan NDP sebagai kerangka dasar
metodologinya, sebagai fundamental valuenya.
Sebuah gerakan harus memiliki
ideologi. Sebagai bagian dari masyarakat, HMI memiliki ideologi yang permanen.
Islam sebagai satu-satunya ideologi, harus mampu menggerakkan, mengarahkan,
menjadi pisau analisa, sekaligus dari Islam tersebut akan dilahirkan
inspirasi-inspirasi gerakan. Pemahaman dan internalisasi ideologi sangat
mempengaruhi komitmen dan konsistensi gerakan. Sejauh mana ideologi tersebut
dipahami dan terbatinkan, sejauh itu
juga sebuah gerakan akan besar, maju dan efektif.
Bagaimana HMI memahami dan
bersikap terhadap ideologi? Pertama,
bahwa Ideologi harus berangkat dari pandangan dunia dan basis epistemologi yang
jelas. Dalam hal ini Islam sebagai satu-satunya ideologi HMI, harus menjadikan
nilai-nilai Islam sebagai dasar perjuangan dan gerakan HMI. Kedua, perlu adanya penguatan ke dalam
terhadap ideologi, sehingga kekuatan di dalam akan melahirkan dorongan kekuatan
keluar. Wacana sebagai nutrisi penguat ideologi harus diperkaya, Islam harus
selalu diinterpretasikan kemudian diaktualisasikan, tentu harus selalu
dikontekstualisasikan dengan situasi dan perkembangan isu yang ada. Bagi HMI,
dalam hal ini pemahaman lebih dalam terhadap NDP menjadi sangat penting.
Niat baik akan baik juga
hasilnya jika dilaksanakan dengan cara yang baik dan benar (tepat). Bagi
gerakan HMI, ilmu tentang sebuah cara dalam menjalankan ide sangat penting.
Sebab dengan itulah tingkat keberhasilan sebuah gerakan dapat diukur dan
dievaluasi. Gerakan HMI harus memuat tiga hal pokok, pendidikan, empowering,
dan advokasi. Tiga hal pokok
tadi harus terjangkau dalam satu jenis atau bentuk program kerja HMI.
Membicarakan mengenai metodologi gerakan, dalam ruang yang terbatas ini tentu
tidak dapat secara detil.
Berikut beberapa kerangka
terkait dengan metodologi gerakan (sederhana dan lebih subyektif, hasil
refleksi lapangan). Pemahaman terhadap
realitas (fenomena atau fakta). Menangkap
fenomena, untuk menemukan noumena di baliknya. Memilih dan melahirkan isu
strategis, Isu yang harus menghegemoni, serta analisa dan perencanaan yang
matang.
Mengutip Isa
Anshari, hanya api yang bisa menyalakan kayu, hanya kayu yang menyala yang bisa
menyalakan kayu-kayu yang lain. Hanya
yang hak yang bisa meyakinkan hati, hanya hati yang yakin yang bisa meyakinkan
hati-hati yang lain. Untuk HMI, teruslah berkarya dan selalu yakin usaha sampai.
Dengan demikian  tugas hidup manusia
menjadi sangat sederhana, yaitu beriman, berilmu, dan beramal.
Hidup HMI….

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan