SMARTA School Semarang Ajarkan Kejujuran UN

0
SEMARANG, Islamcendekia.com – Wacana penghapusan Ujian Nasional (UN) harus ditindaklanjuti. Pasalnya,
selama ini UN terbukti tidak efektif bagi kemajuan pendidikan, bahkan membunuh
mental dan karakter siswa. Terjadi banyak kecurangan, dan parahnya banyak data
menyebutkan siswa bunuh diri karena malu tidak lulus UN.
Hal itu disampaikan Dian Marta Wijayanti, SPd selaku guru SDN Sampangan
1 dan Direktur Eksekutif SMARTA School saat diskusi pendidikan pada Kamis
(10/4/2014) di kantor SMARTA School Semarang.
Kita tahu, UN menjadi babak penentuan lulus atau tidaknya siswa dari bangku sekolah.
Namun, bagi Dian, hingga kini yang menjadi topik pembicaraan hangat adalah tentang
kejujuran pelaksanaan UN, baik pihak sekolah maupun siswa. Yang jelas, dengan
adanya UN, kejujuran siswa dan
sekolah diragukan.
Jadi, bisa dipahami bahwa hingga kini masalah UN
masih menjadi polemik.
Banyak masyarakat
yang menyalahkan
pemerintah, sayangnya mereka tak memberikan solusi atas sikap pemerintah dalam membangun kejujuran
saat UN. Sementara pemerintah
memandang, UN masih berjalan sebagaimana mestinya.
Lebih parah lagi
jika UN hanya dijadikan rutinitas
tahunan saja. Di sisi lain, standar UN yang dirasakan terlalu berat
adalah karena rendahnya mutu pendidikan dengan tradisi lulus 100 persen.
Sehingga, sekolah
berusaha meluluskan semua siswanya tanpa menghiraukan
substansi UN itu
sendiri.
Maka dari itu,
terjadilah manipulasi dan kecurangan
yang dilakukan sekolah dan
siswa. Kondisi ini
harus segera diperbaiki dengan gerakan yang membuat siswa dan
sekolah untuk berbuat jujur.
Selama ini, pemerintah
menilai pelaksanaan UN sudah berjalan dengan baik. Namun, fakta di
lapangan, UN sering
ternodai oleh ulah kotor para siswa dan perangkat sekolah.
Pendidikan Kejujuran
Dewasa ini, kejujuran memang menjadi barang mahal. Sangat sulit menemukan kejujuran di
masyarakat. Tak hanya di ranah pemerintah
dengan perilaku koruptifnya, tetapi juga di dunia pendidikan. Kejujuran telah hilang dari hati nurani insan
akademis. Kecurangan merebak di berbagai sekolah, bahkan menjangkiti siswa
sebagai salah satu insan terdidik.
Sebelum UN berlangsung, persiapan telah
dilakukan oleh sekolah, dari penambahan jam pelajaran, try out, dan sebagainya. Namun, para guru masih merasa cemas dan ragu. Betapa tidak,
bisa jadi salah satu siswa didiknya tidak lulus. Sama halnya dengan kecemasan orangtua
dan siswa. Bisa jadi, keraguan
yang mereka rasakan mendorong untuk melakukan segala hal, termasuk berbuat curang.
Ketidakjujuran dalam pelaksanaan UN merupakan fakta belum tercapainya
tujuan pendidikan nasional. Hal ini selaras dengan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang
Sisdiknas yang mengatakan “Tujuan
pendidikan adalah menjadi
kan
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara demokratis
serta bertanggung jawab.
Namun, hal itu telah
ternodai oleh kecurangan dalam pelaksanaan UN. Meskipun sudah ada upaya
dari pemerintah untuk meminimalisir kecurangan, namun kecurangan masih
merajalela. Dengan dalih ingin lulus 100 persen, cara apapun akan dilakukan oleh pihak sekolah dan siswa.
Langkah Startegis
Dian menyatakan bahwa pendidikan kejujuran sangatlah penting. “Untuk menciptakan UN yang bersih
dari kecurangan, haruslah dilakukan beberapa tindakan,” ungkapnya. Ada beberapa hal yang bisa
dilakukan. Pertama,
maksimalisasi pengawasan ujian, yaitu dengan memperketat pengawasan pada saat
siswa mengerjakan soal UN.
Kedua, pemasangan
CC TV di setiap sudut ruangan UN. Diakui atau tidak, terkadang pengawas lalai
dan kecolongan pada saat mengawasi siswa. Jadi, dengan pemasangan CC TV
diharapkan mampu meminimalisir kecurangan.
Ketiga, memperjelas
indepedensi pengawas UN. Selam ini, banyak pengawas yang disuap oleh pihak
sekolah dalam rangka memudahkan manipulasi UN.
Keempat,
pemeriksaan siswa sebelum memasuki arena ujian. Karena tak jarang banyak siswa
yang membawa HP dan sejenisnya untuk berkomunikasi. Jadi, pemeriksaan ini
seharusnya dimaksimalkan, termasuk pemeriksaan siapa pun yang ingin memasuki
arena ujian.
Sebenarnya, banyak
cara untuk meminimalisir kecurangan dalam pelaksanaan UN. Namun, yang jelas,
kejujuran harus ditanamkan sejak dini dalam dunia pendidikan. Apa arti sebuah
kelulusan jika itu hasil contekan. Berbuat jujur merupakan kunci kesuksesan,
begitu pula sebaliknya.
Seketat apa pun tata
tertib dalam UN, jika tidak dibarengi dengan kejujuran, maka hal itu akan
menjadi sia-sia. Yang terpenting adalah kejujuran yang tertanam di hati para
siswa dan perangkat sekolah. Sangat percuma jika UN dari tahun ke tahun selalu
dihiasi dengan kecurangan. Justru hal ini akan semakin memperburuk wajah
pendidikan kita. Jadi, berbuat jujur adalah harga mati
Maka dari itu, sudah saatnya pemerintah segera menindak tegas pihak
sekolah yang terbukti melakukan kecurangan pada saat UN. Hal itu akan menodai nilai-nilai pendidikan
yang selama ini diajarkan oleh para pendidik di sekolah.
Reporter: Hamidulloh Ibda

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan