Surga itu Tidak Penting

0
Oleh Lismanto, Sarjana Hukum Islam IAIN Walisongo Semarang
Tulisan ini
hanya sebagai refleksi terhadap hiruk-pikuk, karut-marut kehidupan beragama di
mana setiap tingkah laku dan perbuatan selalu dikaitkan dengan sebuah
pengharapan: surga. Setiap kali ulama dan Kiai memberikan ceramah, ia selalu
memberikan iming-iming surga dan pahala dalam berbuat kebaikan. Tidak heran
jika setiap tingkah laku, perilaku dan perbuatan yang baik selalu berujung pada
imbalan berupa pahala, selalu mengharap dan mendamba surga dengan segala
kesenangan hakiki di dalamnya.
Beberapa waktu
lalu saya ketemu dengan seorang yang sedang menekuni fikih. Ia merasa bahwa
fikih adalah segalanya, bisa menuntun kepada kebaikan hakiki tanpa menghiraukan
aspek-aspek lainnya. Ia datang ke rumah saya dan melihat foto kakak saya yang
berjubah putih dengan ikat kepala berwarna hijau laiknya para sunan, sementara
kakak saya bukan orang alim, bahkan baca Al Quran saja belum bisa, apalagi soal
fikih dengan segala kerumitan nahwu sorof-nya. “Kalau melihat fotonya, harusnya
ilmu nafwu sorofnya mahir betul ini,” komentarnya sembari menyindir.
Mendengar itu,
saya hanya berkomentar, “Rahasia Allah itu luas dan tidak bisa dilogika dengan
ilmu-ilmu fikih semata. Jalan menuju Allah bukan saja bisa ditempuh dengan
menghafal nahwu sorof, tetapi bisa ditempuh dengan banyak jalan. Rahasia Allah
yang begitu agung tidak bisa ditebak dan dirasionalisasikan, bahkan penuh
dengan misteri. Kita sebagai manusia sebatas berusaha untuk berbuat kebaikan
dan mencoba untuk mendekatkan diri pada-Nya. Masalah apakah Allah menerima
ikhtiar dan usaha kita, itu bukan urusan kita,” ujar saya kepadanya. Mendengar
kata-kata saya, ia tampaknya lebih memilih logikanya dan mementahkan kata-kata
saya dengan mencoba mendebatnya. Saya sendiri lebih memilih diam.
Di lain
kesempatan, saudara saya yang menekuni ilmu tarekat sempat bercurhat kepada
saya. “Kata guru saya, ilmu syari’at tidak bisa digunakan untuk masuk surga.
Mendengar itu, hati saya bergetar dan langsung ikut jamaah tarekat. Dengan ikut
jamaah tarekat, maka kita bisa saling berpegangan tangan dengan guru kita,
ulama, sampai kepada Nabi Muhammad untuk masuk surga. Kalau tidak ada pegangan,
kita tidak akan bisa masuk surga,” ujarnya.
Saya sendiri
berpikir, “Kenapa syari’at dengan segala kemuliaannya yang diturunkan kepada
manusia sebagai petunjuk kehidupan malah dikatakan tidak bisa dijadikan dasar
untuk masuk surga? Kenapa hidup selalu dihadapkan pada sebuah pengharapan surga
tanpa menyadari bahwa kita adalah khalifah fil ardh, pemimpin bumi yang
seharusnya mengelola bumi dengan baik, menebar kebaikan dan kemaslahatan bagi
segenap makhluk serta alam, bersosial kepada setiap makhluk dengan baik?”
Dari dua
peristiwa tersebut, hati saya terkoyak. Di satu sisi, orang fikih merasa
kebenaran hanya bertumpu pada fikih yang sedemikian kaku tanpa melihat
kebenaran di luar itu. Kebenaran hanya diukur dari seberapa pintar dia memahami
nahwu sorof. Di sisi lain, orang tarekat melepas urusan hiruk pikuk dunia
semata untuk sebuah pengharapan berupa surga yang hakiki. Itu hanya beberapa contoh
potret, belum lagi segala pemaknaan-pemaknaan kehidupan yang seharusnya
sederhana dibuat rumit sendiri oleh paradigma-paradigma yang tidak jelas
semacam itu.
Kemudian saya
berdialektika dengan paradigma saya sendiri dan menyimpulkan bahwa kebenaran
tidak bisa diukur dengan rasionalisasi fikih dengan segala rumus nahwu sorofnya.
Kita tidak bisa mengabaikan ilmu hikmah, pesan tersirat, serta rahasia-rahasia
Allah di balik itu. Fikih itu sangat bagus, tetapi bukan jadi satu-satu alat
untuk menyingkap rahasia kebenaran Allah. Jika ini tidak kita sadari, kita akan
menjadi “wakil Allah” yang selalu menyalahkan dan mengkafirkan kebenaran di
luar pemahaman kita tentang fikih, sedangkan Allah sendiri dengan samudera
kemuliaan dan rahasia kebenaran-Nya tidak bisa dirumuskan dengan formula
matematikanya fikih secara “kacamata kuda”.
Berbuat kebaikan
juga tidak semata berujung pada sebuah pengharapan berupa pahala dan surga. Jika
kita selalu berparadigma semacam ini tanpa mengabaikan aspek-aspek lain, kita
setiap hari akan dihantui oleh ritual-ritual ibadah maqdah dengan
mengabaikan aspek-aspek sosial. Padahal, tujuan manusia diturunkan di bumi
bukan lain sebagai tugas manusia untuk memberikan kemaslahatan kepada segenap
makhluk dan alam di bumi. Kalau surga dijanjikan oleh Allah kepada manusia, hal
itu merupakan konsekuensi logis yang tidak harus diburu karena sudah menjadi
bagian dari sunatullah, hukum alam. Surga adalah balasan dari setiap perbuatan
kebaikan. Tidak usah diharapkan, itu sudah menjadi bagian dari hukum alam yang
tak dimungkiri.
Surga itu
tidak penting
Dalam sebuah
pengajian jamaah Maiyah bersama Muhammad Aiun Nadjib (Cak Nun) dan Kiai
Kanjengnya, ia mengatakan bahwa dalam kehidupan ada beberapa prinsip yang harus
dipegang, yaitu ibadah (mahdhah, ketuhanan), ilmu, dan kerja keras.
Ibadah dimulai
dari akil baligh, sedangkan kerja dimulai sejak manusia dilahirkan. Orang yang
rajin beribadah mahdhah akan disedikan surga baginya. Sementara orang yang beribadah dan berilmu diberikan tempat surga yang
lebih mulia daripada orang yang sekadar beribadah. Namun jika orang itu beribadah, berilmu, sekaligus bekerja keras untuk
kebaikan, maka ia akan bertemu dan dibukakan wajah Allah untuknya. “Kalau sudah
bertemu dengan Allah, ya masak masih kepengen surga?” tutur Cak Nun.

Inilah kenapa
surga itu tidak penting. Bukan berarti kalimat ini dimaknai secara kaku dan skriptural,
apalagi disertai dengan amarah dan kalimat pengkafiran, tetapi kalimat ini
harus dimaknai sebagai sebuah penghayatan bahwa puncak tertinggi suatu kehidupan
adalah perjumpaan kita kepada Sang Ilahi, bukanlah sebuah surga yang lantas
karenanya kita disibukkan dengan aspek-aspek kehidupan yang hanya berkutat pada ibadah mahdhah yang mengabaikan aspek-aspek substansial lain sebagai seorang manusia.

Berawal dari
sini, saya berpedoman bahwa: “Ujung daripada tugas dan penghambaan manusia terhadap kehidupan bukanlah sebuah surga, melainkan perjumpaan kita kepada Tuhan dengan segala cinta dan kasih sayang-Nya. Inilah sebuah substansi kehidupan yang sejati dan hakiki.” Wallahualam
Bisshowab
.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan