Salah Kaprah Samin Surosentiko Blora

0

Indra bersama Mbah Lasio dan Poso
BLORA, Islamcendekia.com – Selama ini banyak orang
salah kaprah memaknai Samin Surosentiko. Sebagai tokoh
pejuang di Blora, Jawa Tengah, Samin Surosentika dimaknai hanya “satu orang”. Padahal, yang
membawa ajaran Samin Surosentiko itu tiga orang satu guru. Mereka bersama-sama
melawan Belanda pada saat itu, baik berupa kekerasan atau aksi pembangkangan.

“Sebenarnya, Samin Surosentko itu ada tiga orang,
yaitu Suro Samin, Suro Sentiko dan Suro Sumanto,” tutur Indra Bagus Kurniawan
setelah berkunjung di perkampungan Samin, Blora, Jawa Tengah.

Namun, di buku, internet dan wikipedia masih salah
kaprah, karena hanya menganggap bahwa pembawa ajaran Samin Surosentiko itu satu
orang, padahal ada tiga orang. “Ini harus diluruskan, karena banyak masyarakat
sudah salah kaprah dalam memaknai Samin Surosentiko,” tutur Indra yang juga
peneliti Samin.
Di Blora, warga Samin dipusatkan di dukuh Karangpace, desa Klopoduwur,
Blora, Jawa Tengah.

Saat berkunjung di Klopoduwur, Indra bertemu Mbah
Lasio (58 tahun) dan Mbah Poso (53 tahun). Kedua sesepuh Samin tersebut
merupakan generasi keempat dari Mbah Suro Samin atau Mbah Engkrek.

Indra selaku peneliti dan penulis karya ilmiah
menyimpulkan banyak salah kaprah masyarakat dalam memaknai dan memahami ajaran
Samin. “Di Wikipedia, orang Samin dikatakan mengharamkan berdagang, padahal
mereka tidak mengharamkan berdagang, namun hanya melarang mengambil keuntungan
dari jual beli tersebut,” tutur Indra. Karena bagi warga Samin, mengambil keuntungan dari sesama manusia itu tidak baik, apalagi masyarakat Samin menganggap semua orang sebagai saudara.

Dalam penelitian Indra, pada saat melawan Belanda
dulu, Surosentiko melanggar dengan aksi kekerasan. Padahal, warga Samin dulu
boleh melawan Belanda, asalkan tidak boleh dengan kekerasan. Sedangkan aksi
pembangkangan terhadap Belanda adalah Suro Samin. Karena Suro Sentiko melawan
Belanda, akhirnya dia diasingkan di Padang dan meninggal di sana bersama
puluhan pengikutnya. Sedangkan Suro Sumanto mati di Bali di pemakaman Tapak
Siring.
“Bagi masyarakat, seharusnya tidak perlu percaya terhadap situs seperti Wikipedia. Jika ingin tahu kebenaran aslinya, lebih baik langsung datang ke Blora untuk wawancara terhadap sesepuh Samin, karena Saya lebih percaya pada keturunan Samin daripada situs di internet,” pungkas Indra.
Reporter dan Editor: Hamidulloh Ibda.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan