SMARTA School Semarang Ajarkan Wirausaha

0
SEMARANG, Islamcendekia.com – Selama ini, banyak pelajar dan mahasiswa selalu berpikir praktis dan instan. Mereka hanya berpandangan
bahwa dengan kuliah dan mendapatkan ijazah akan menentukan masa depan.
Namun,
dunia berkata beda, di
era globalisasi seperti ini mahasiswa tak cukup sekadar bermodal ijazah dan IPK
tinggi. Untuk menunjang itu, sebenarnya banyak ide dan cara yang bisa dilakukan
mahasiswa. Tergantung motivasi dan kemauan mereka untuk berkreasi dan melakukan
sesuatu untuk meretas kemandirian. Salah satu cara tersebut adalah
berwirausaha.
Demikian yang disampaikan Dian Marta Wijayanti saat ditemui Islamcendekia.com
dalam pelatihan membuat souvenir oleh SMARTA School Semarang. Di beberapa tempat, lanjutnya, banyak mahasiswa dari jurusan
dan kampus yang beragam melakukan wirausaha kecil-kecilan. Biasanya mereka
membuat kelompok atau sudah terhimpun dalam suatu organisasi. Di sana, mereka
berkumpul dalam rangka menekuni suatu bidang tertentu.
Sebenarnya, wirausaha
apa pun bisa dilakukan pelajar dan mahasiswa, dari jualan pulsa, baju, buku, sembako, dan sebagainya.
Selain berjualan, mereka juga bisa membuat kreasi atau souvenir yang disukai oleh kawula muda, terutama kaum hawa.
Dalam kegiaatan yang
diselenggarakan SMARTA School Semarang ini, mereka membeli bahan-bahan dengan harga yang terjangkau dari kantong. Bahannya
cukup murah, hanya menghabiskan uang Rp. 50.000, mereka mampu menyulapnya
menjadi kreasi yang lucu dan menarik. Bahan-bahan tersebut yaitu kain planel, lilin, korek api,
kapas, gunting, jarum, benang, lem, perekat, souvenir
tambahan, dan sebagainya. Cara membuatnya pun relatif mudah dan cepat. “Yang penting semua bahan-bahan di
atas sudah tersedia dan kita pun bisa langsung membuatnya,” jelasnya. 
Pertama,
menyiapkan kain planel dan mengguntingnya sesuai keinginan, bisa bentuk kupu-kupu,
dasi, dan sebagainya. Kedua,
menyalakan lilin dan menyiapkan lem untuk merekatkan kain yang sudah digunting.
Ketiga,
menyulam guntingan kertas tersebut dan memasukkan kapas jika memang perlu. Keempat, memberikan hiasan pada
kertas yang sudah disulam dengan asesoris tambahan. Kelima, menempelkan peniti pada bros yang sudah selesai dihias
tersebut. Langkah terakhir yaitu memeriksa bros jika kurang kuat jahitannya.
Selanjutnya, bros sudah jadi dan siap dijual.
Modal sedikit dan
untung banyak. Itulah prinsip dalam ekonomi yang harus dipraktekkan mereka. Bros
dan gantungan kunci tersebut biasanya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.
Namun, karena hasilnya banyak, maka bros tersebut dijual kepada mahasiswa dan
masyarakat. Biasanya, hasil kreasi mereka dititipkan di toko-toko baju, asesoris dan dijual di sekolah. Harga bros perbuah beraneka ragam, dari lima
ribu hingga puluhan ribu rupiah. Harga tersebut menyesuaikan bentuk bros.
Dengan modal sedikit,
namun mereka mampu menghasilkan uang ratusan ribu. Uang Rp. 50.000.,- itu bisa
menghasilkan 100 lebih bros cantik. Jika perbuah dijual Rp. 5.000,-, maka laba
yang didapatkan adalah Rp. 450.000,-. Sangat luar biasa, hal ini patut dicontoh
mahasiswa agar mandiri dan tidak menggantungkan diri pada orang tua.
Dian menambahkan,
pemuda haruslah tanggap dalam berbagai hal. Ia harus aktif, kreatif, inovatif,
dan mandiri. Maka, mulai sekarang mereka harus berwirausaha. “Jika tak bisa
mandiri, ia bukanlah pelajar, melainkan pemuda yang malas dan menjadi benalu,” tambahnya.

Reporter dan Editor: Hamidulloh Ibda.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan