Cara Mencari Istri Saleha Menurut Penulis Buku Stop Pacaran Ayo Nikah

0

SEMARANG, ISLAMCENDEKIA.COM – Dalam rumus internal Islam,
memilih istri itu harus mempertimbangkan agamanya, hartanya dan keturunannya,
kadang juga wajahnya. “Itu konsep simpel dalam Islam, namun jika diperlebar,
istri saleha itu harus siap lahir batin menerima laki-laki apa adanya,” tutur
Hamidulloh Ibda, saat diskusi Pacaran dan Pernikahan tak lama ini yang
bertujuan dan puncaknya merumuskan cara mencari istri saleha.
Selaku penulis buku Stop Pacaran Ayo Nikah, Ibda juga
menjelaskan bahwa istri itu untuk teman hidup selamanya, tak hanya di dunia
namun juga di akhirat. “Setidaknya, istri saleha itu adalah yang taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah, ia mampu menjaga
kesucian dan memegang teguh iman dan takwa,” jelasnya.
Laki-laki, baik yang menikah maupun yang
belum, menurut Ibda dibagi menjadi 3 T. “T pertama itu untuk yang sudah menikah
dan punya anak, namuan Tuwo (tua).  Maka ia dituakan sama anak dan istrinya. Ada
yang memanggil abah, abi dan romo maupun bapak. T yang kedua adalah yang sudah
menikah tapi belum punya anak, namuan Tahu. Yang ketiga adalah laki-laki yang
belum dan tak berani menikah, namanya Taek,” ujar Ibda dengan nada
guyon.
“Menurut Saya, anak-anak muda sekarang dalam
dua kondisi, yaitu sial dan beruntung”. Sial karena tahu ciri-ciri istri
saleha, tapi tidak mau tahu cara pandang dan logika berpikir istri saleha itu
yang seperti apa. “Kalau kita mau ngomong tentang istri saleha, istri laknat,
istri nakal, itu kan sebenarnya hasil atau out put dari paradigma
berpikir kita,” jelasnya.
Seperti contoh, lanjut Ibda, kalau paradigma
kita adalah materialisme, maka kita akan mencari keuntungan sebanyaknya. “Maka,
koruptor itu fahamnya ya materialisme. Jika dalam ekonomi, itu disebut modal
dikit, untung sebanyaknya,” tandas lulusan IAIN Walisongo Semarang itu. Jika
dilihat dari sudut pandangan materialisme, itu namanya kearifan yang sangat
arif. “Pasalnya, ya memang paradigmanya seperti itu. Tapi, masalahnya orang
tidak mau mencari tahu substansi dan mencari sampai radikal makna kearifan itu,
salah satunya dalam mencari istri.
“Banyak orang mencari istri, tapi tidak
berpikir demikian. Ya karena mereka melanggar cara berpikirnya sendiri. Ini
sangat aneh dan korslet tingkat tinggi,” papar Ibda selaku penulis buku Stop
Pacaran Ayo Nikah itu.
Dalam perspektif ekonomi, lanjut Ibda, ada
istilah hukum investasi yang intinya kita menanam modal untuk dikembangkan dan
menjadi banyak dan untung. “Untuk mencari tempat atau kawan investasi, kita
tentu harus menggali informasi sebanyaknya tentang tempat dan kolega itu.
Dengan informasi itu, kita tahu kelemahan dan kelebihannya. Begitu pula dengan
mencari istri, kita harus tahu bibit, bebet dan bobotnya,” tandas Ibda.
Menurut mahasiswa Pascasarjana Unnes itu,
informasi tentang calon istri harus jelas. “Kalau informasinya masih rumor,
kira-kira, remang-remang, kita pasti tidak 100 % percaya padanya. Kan memang
demikian. Kita tidak akan membeli barang jika barang itu tidak jelas wujud dan
kadarnya. Sama seperti memilih istri,” jelasnya. 
Maka, menurut Ibda, yang paling penting
adalah mencari “kepastian”. Pasalnya, di era modern seperti ini banyak orang
khianat pada hakikat nilai dan kenyataan. “Dalam hukum alam, semua orang pasti
mati. Tapi, banyak orang enggan melakukan investasi untuk kematiannya tersebut.
Ini sangat tidak logis. Entah karena budaya dan pendidikan salah, atau struktur
berpikirnya yang lucu, sama halnya seperti investasi untuk mendapatkan istri
saleha,” ujarnya.
Pemuda yang paling beruntung, lanjut Ibda, ya
yang mampu melakukan investasi untuk mencari istri saleha. Karena, istri itu
akan menjadi jalan kita menuju Tuhan. “Kalau invetasi kita baik, pasti kita
dapat istri baik. Maka, orang Jawa sering berkata orang baik pasti dapat orang
baik, meskipun fakta berkata lain. Tapi, Tuhan sudah memberi keputusan istri
kita siapa dan kita ketemu di mana. Karena mati, rezeki dan jodoh itu merupakan
rahasia Tuhan,” pungkasnya. Kan sudah Saya buktikan, lanjut Ibda, Saya penulis,
istri Saya juga penulis hebat, pernah juara LKTI dan lomba esai/artikel di
mana-mana,” ujar Dia. Lalu, lanjut Ibda, mahar Saya juga buku Stop Pacaran Ayo Nikah.
Secara simpel, Ibda juga menjelaskan sebenarnya
kriteria istri saleha itu serumit dalam rumus Islam. “Yang jelas, cintailah
calon istri karena cinta itu sendiri. Karena, jika kamu menikahi istrimu karena
harta, wajah cantik, jika suatu saat hartanya habis dan cantiknya hilang, kamu
akan kehilangannya. Namun jika menikah karena cinta, Saya yakin hal itu menjadi
fondasi untuk menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah,” ujarnya.

Reporter dan Editor: Achmad Hasyim.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan