Kesamaan Konsep Tuhan antara Islam dan Hindu

0

Oleh: Lismanto, Sarjana Hukum Islam IAIN Walisongo

Belakangan ini kita disuguhkan dengan acara televisi “Mahabarata” yang mengisahkan perang saudara antara Pandawa dan Kurawa. Sajian televisi juga menayangkan “Mahadewa” yang mulanya berkisah kebencian seorang raja terhadap Dewa Siwa. Menurutnya raja tersebut, dewa yang patut diingat dan disembah adalah Dewa Brahma dan Dewa Wisnu. Dalam ajaran Hindu sendiri, tiga dewa utama yang dikenal sebagai trimurti adalah Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa.

Dewa Brahma berperan sebagai pencipta, Dewa Wisnu berperan sebagai pemelihara, dan Dewa Siwa berperan sebagai pelebur atau penghancur. Hal ini dalam kehidupan sehari-hari, bisa dicontohkan dengan lahirnya manusia di mana ia diciptakan oleh Dewa Brahma. Masa hidup manusia dipelihara oleh Dewa Wisnu, sedangkan kematian dan meleburnya jasad manusia berarti ia dilebur oleh Dewa Siwa. Berawal dari keingintahuan saya tentang konsep ketuhanan menurut Hindu, maka saya mempelajari berbagai literasi yang memuat konsep ketuhanan menurut Hindu.

Mulanya, saya tidak sepakat dengan konsep Tuhan yang percaya pada banyak dewa. Dalam hal ini, dewa identik dengan Tuhan. Pandangan inilah yang membuat kalangan monoteisme terkadang tidak sependapat dengan ajaran Hindu. Setelah memahami aspek teologis dan konsep ketuhanan umat Hindu, maka saya sebagai Muslim menyatakan bahwa ada keserupaan bahkan kesamaan konsep tuhan dalam Islam dan Hindu. Tentu, dalam sebuah ajaran pasti ada aliran atau madzab, sehingga dalam hal ini saya menggunakan kacamata Syekh Siti Jenar untuk mewakili Islam dan ajaran Smarta mewakili Hindu.

Tulisan ini sebatas hasil kontemplasi, perenungan, dan dialektika filosofis saya untuk memahami konsep ketuhanan menurut Hindu yang kemudian saya tarik ke dalam konsep ketuhanan menurut Islam. Kalau masih kurang sepakat, anggap saja artikel ini merupakan opini pribadi saya belaka yang tidak disertai landasan spiritual yang kuat. Meski demikian, saya sangat percaya pada dasarnya agama-agama di dunia (terutama agama-agama besar) punya kesatuan atau kesamaan transendental.

Konsep Tuhan dalam Islam

Dalam Islam, Tuhan disebut sebagai Allah. Melalui kitab suci Al Quran, Tuhan sendiri memilih nama “Allah” untuk menyebut namanya. Seperti dijelaskan dalam Surat Al Ikhlas, Allah memiliki sifat maha esa atau satu, tidak beranak dan tidak juga diperanakkan. Tidak ada makhluk pun yang setara dengan Allah. Allah juga mandiri, independen, dan tidak bergantung pada siapa pun. Allah menjadi Tuhan di mana segala sesuatu akan bergantung pada Allah.

Yang dimaksud tidak beranak berarti Allah tidak memiliki anak. Sementara itu, tidak diperanakkan berarti bahwa Allah tidak dilahirkan atau diciptakan dari zat apa pun. Dengan demikian, konsep Tuhan dalam Islam digambarkan sebagai sosok imaterial yang menjadi zat paling kuasa di segala penjuru alam semesta. Ia yang menciptakan alam semesta. Ia pula yang berhak meleburkan alam semesta.

Sebagaimana kita tahu, kita telah mendengar kisah Syeh Siti Jenar yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. Bahkan, suatu ketika, ia pernah menunjuk kambing sebagai Tuhan. Konsep ini pasti aneh dan terkesan syirik atau menyekutukan Tuhan. Sehingga Syeh Siti Jenar dalam kisahnya menemui ajal dengan cara dibunuh karena ajaran dan konsepsi Ketuhanannya yang dianggap sesat dan menyimpang. Namun, jika ditelusuri secara filosofis, Syekh Siti Jenar justru menawarkan konsep ketuhanan yang secara spiritual bisa dipertanggungjawabkan. Syeh Siti Jenar beranggapan bahwa setiap makhluk terdapat manifestasi Tuhan yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Agung. Bukan berarti konsep yang demikian berarti menyamakan Tuhan sebagai mahkluknya, tetapi bagian dari spirit, manifestasi, atau aktualisasi Tuhan.

Atau boleh saya katakan, Nabi Muhammad dan nabi-nabi sebelumnya juga merupakan manifestsi Tuhan di mana sifat-sifat ketuhanan tecermin dalam diri Nabi Muhammad dan rasul-rasul sebelumnya. Ini bukan berarti menjadikan Nabi Muhammad sebagai Tuhan, tetapi memahami bahwa sifat-sifat Tuhan termanifestasi atau mewujud atau mengaktualisasikan diri dalam bentuk Muhammad sehingga perlu dicontoh dan diteladani bagi setiap manusia agar tercipta dunia yang benar-benar berdasarkan petunjuk Allah.

Demikian halnya malaikat yang sudah diberikan tugas oleh Allah untuk mengatur segala sesuatu, ia merupakan bagian dari manifestasi Tuhan sebagai makhluk suci yang taat kepada Tuhan. Di satu sisi, malaikat merupakan makhluk suci ciptaan Tuhan yang sangat taat. Di sisi lain, malaikat merupakan manifestasi Tuhan. Manifestasi bukan diartikan sebagai personalisasi atau wujud personal, melainkan pancaran atau cerminan dari zat Tuhan.

Maka, manusia apabila ia berbuat kebaikan, keadilan, kebenaran, kebajikan, menebarkan cinta dan kasih sayangnya kepada setiap makhluk, maka bisa dikatakan dirinya telah “bersemayam” Tuhan. Sifat-sifatnya “menyerupai” atau mendekati sifat-sifat Tuhan sehingga pancaran ketuhanan seseorang tersebut kuat. Berbeda jika seseorang itu jahat, iri, dengki, tidak punya rasa kasih dan sayang, maka dirinya dikuasai dan bersemayam Iblis. Dalam Al Quran sendiri dijelaskan bahwa manusia diciptakan dengan percikan cahaya Tuhan. Cahaya dalam Islam dikenal dengan istilah nur. Jika sifat-sifat ketuhanan dalam diri manusia itu dipupuk, disemai, dan diamalkan, maka ia bisa dikatakan menyatu dengan Tuhannya. Mungkin ini yang disebut Syekh Siti Jenar sebagai manunggal ing kawula lan gusti yang berarti menyatunya hamba (baca: manusia) dengan tuan (baca: Tuhan). Ini hanya perspektif dan pemahaman saya belaka.

Konsep Tuhan dalam agama Hindu

Dalam hal ini, saya memilih ajaran Hindu aliran Smarta dengan ajaran monistisnya yang memandang bahwa seluruh dewa dalam Hindu seperti Dewa Brahma, Siwa, Wisnu, Ganesa, Surya, Indra, Sakti, Skanda, dan puluhan dewa lainnya merupakan manifestasi dari sifat Brahman sebagai Tuhan yang Maha Esa. Dalam konsep itu, manifestasi dari Brahman atau Tuhan yang Maha Esa bisa disebut sebagai Iswara, Bhagawan, atau Parameswara.

Jadi, dalam pemahaman ini, dewa dalam Hindu bukanlah Tuhan yang Maha Esa. Dewa hanyalah sebagai mahkluk suci dengan kekuatan supernatural yang merupakan manifestasi Tuhan yang Maha Esa di mana dalam Hindu disebut sebagai Brahman. Orang yang merupakan ahli di bidang spiritual Hindu sendiri kemudian dinamakan Brahmana. Menurut pemahaman saya pribadi melalui semiotika bahasanya, Brahmana dalam Islam bisa dikatakan sebagai Kiai atau wali yang dianggap punya kedekatan khusus dengan Brahman atau Tuhan di mana ia lebih mahir dalam hal ritual-ritual yang diajarkan Tuhan. Brahmana (Hindu) atau kiai (Islam) dianggap punya kekuatan spiritual lebih dibandingkan manusia lainnya sehingga bisa dikatakan ia lebih punya kedekatan dengan Brahman atau Allah.

Dalam ajaran Hindu juga dikenal dengan istilah atman atau jiwa. Atman inilah yang dalam suatu istilah dianggap sebagai “percikan” Brahman. Menurut teologi Hindu yang monistis, sukma individu sama halnya dengan Brahman. Jiwa atau sukma manusia disebut sebagai jiwatman, sedangkan Brahman disebut paramatman. Bagi saya, ini sangat sesuai dengan ajaran Islam di mana dijelaskan dalam Al Quran sendiri bahwa manusia diciptakan dari percikan dari cahaya Allah.

Dalam Al Quran Surat Al Hijr 28-29, Allah menyatakan bahwa Ia menciptakan manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberikan bentuk. Setelah itu, tanah liat kering yang berbentuk tersebut ditiupkan ruh atau nur Tuhan, maka manusia lantas tunduk dan bersujud kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa.

Dalam Kitab Upanishad dikatakan bahwa manusia yang merasakan atman (jiwa) sebagai esensi, ia akan menyadari kesetaraan dengan Brahman (Tuhan) sehingga mencapai suatu kondisi yang dinamakan moksa. Moksa sendiri diartikan sebaai kemerdekaan dari proses reinkarnasi atau samsara. Dalam ajaran Islam, kondisi ini dikatakan sebagai manunggal ing kawula gusti atau menyatunya hamba dengan pencipta-Nya. Setelah sedikit berkontemplasi dan berfilsafat tersebut, saya berkesimpulan bahwa ajaran substantif ketuhanan antara Islam dan Hindu sebetulnya sama. Hal ini tentu terlepas dari ajaran-ajaran ritual dan tradisi yang tentu sangat berbeda antara Islam dan Hindu. Yang saya maksud ada kesamaan atau keserupaan di sini adalah konsep teologi ketuhanan di mana secara substantif sama-sama mengakui sebuah konsep “monoteisme” yang mengimani Tuhan yang Maha Esa. Ketuhanan yang Maha Esa inilah yang tercantum dalam Pancasila sebagai landasan atau filsafat kebangsaan manusia Indonesia.

Dalam Islam sendiri banyak aliran atau madzab yang sudah tentu punya konsep yang berbeda antara satu dengan lainnya. Demikian halnya dengan Hindu yang juga punya aliran dan madzab. Tulisan ini hanya sebagai perspektif pribadi saya belaka yang berusaha memahami konsep tuhan menurut agama Islam dan Hindu menurut akal, rasionalitas, filosofi, dan formula ilmiah pribadi saya. Oleh karena itu, harus saya akhiri tulisan ini dengan kalimat Wallahu A’lam Bishowab.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan