Perbedaan Awal Ramadan Tak Boleh Jadi Pemicu Pertikaian

0

SEMARANG, ISLAMCENDEKIA.COM – Bulan Ramadan pada tahun 2014
ini, sepertinya hampir sama seperti tahun-tahun lalu, yaitu terdapat perbedaan
penetapan. Pasalnya, banyak ormas Islam yang tidak serentak dan mereka
menentukan awal Ramadan sendiri.
Prof Dr Thomas Djamaluddin pakar astronomi dari Lembaga
Penerbangan dan Antariksa pernah menyatakan, hilal ketika matahari terbenam jika
terlalu rendah, sehingga tidak bisa terlihat sangat menimbulkan beberapa tafsir.
Ketika hilal sudah di atas ufuk, namun ketinggian hilal kurang dari dua
derajat, kondisi ini memang membuka peluang perbedaan dan perdebatan. “Ketika hilal
kurang dari 1,5 derajat, dan terlalu rendah untuk diamati, cahayanya terlalu
lemah, maka pada saat itu tidak bisa dijadikan patokan untuk mengawali puasa,”
ujarnya.
Menanggapi hal itu, pemerhati astronomi IAIN Walisongo
Semarang, Syaifur Rohman menyatakan bahwa mengawali bulan Ramadan yang paling
etis adalah menunggu sidang isbat. “Biasanya, dalam sidang isbat kita
mendengarkan pandangan dari 17 orang peserta dari perwakilan ormas Islam, para
ahli astronomi dari LAPAN serta perwakilan Majelis Ulama Indonesia,” ujarnya
pada Islamcendekia.com tak lama ini.
Perbedaan itu wajar, yang tidak itu bertengkar. Itulah
ungkapan Syaifur Rohman selaku aktivis Islam. “Perbedaan penetapan awal Ramadan
dan Syawal, di Indonesia memiliki potensi perselisihan cukup besar. Ini diduga
karena belum adanya kesepakatan tentang kriteria hilal dan metode penentuan
isbat. Apalagi, semua ormas memiliki landasan dalam menentukannya,” jelasnya.
Di satu sisi, lanjunya, perbedaan yang muncul adalah bentuk
dinamika pemahaman dan pengambilan hukum (istinbath)
yang diperbolehkan dalam agama. Namun, apakah perbedaan, perselisihan,
perpecahan akan terus diabadikan? Tentu tidak. “Menyikapi semua itu, diperlukan
kearifan dan kebijakan berpikir dan bersikap. Pasalnya, pemandangan itu dinilai
memunculkan kesan ketidakkompakan. Kondisi ini telah menyita perhatian serius
para ulama dan pemerintah,” harap Syaifur.
Nabi Muhammad SAW, secara jelas dan tegas pernah bersabda; ikhtilaf ummati rahmah. Artinya, perbedaan
pendapat umatku adalah rahmat.
“Karena itu, mari
kita menjadikan bulan Ramadan tahun ini sebagai bulan pendidikan, bulan
pencerah, toleransi, dan bulan untuk menanam amal,” harapnya.

Reporter dan Editor: Achmad Hasyim

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan