Sweeping Ramadan Menurut Aktivis Islam

0

SEMARANG, ISLAMCENDEKIA.COM –
Sweeping atau penggrebekan tempat hiburan di bulan Ramadan sudah sering terjadi
di tahun-tahun lalu. Di tahun ini, hal itu sudah tampak kelihatan di berbagai
tempat, khususnya di Semarang. Tak hanya di bulan Ramadan, menjelang Ramadan
pun sudah banyak yang menggelar sweeping.
Menurut Nailul Mukorobin, Ketua
Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Unnes Konservasi, sweeping
sebenarnya sangat efektif jika tepat sasaran. “Islam itu mengajarkan kedamain,
bukan kekerasan. Jika sweeping justru menodai esensi Islam, Saya kira itu tidak
tepat. Karena Islam itu damai, bukan seperti preman,” tuturnya tak lama ini.
Senada dengan itu, M Kholil
Syaroni, mantan Ketua IPNU Ranting Ngaliyan, Semarang juga berpendapat bahwa
sweeping itu sebenarnya adalah tindakan yang bertujuan mengamankan bulan
Ramadan dari gangguan, seperti maksiat, karaoke malam, prostitusi,
minum-minuman keras dan sebagainya. “Jika dilakukan dengan baik, benar dan
santun, Saya kira tidak ada masalah. Tapi jika sudah merusak, itu bukan Islami
lagi. Masak orang Islam di zaman seperti ini masih main kekerasan. Ini jelas
melukai substansi agama. Jadi sekali lagi, tidak ada sweeping atas nama agama,”
jelas Dia.
Kholil yang saat ini menjadi
Direktur Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Semarang menyatakan bahwa
orang yang melakukan sweeping atas nama agama, ormas Islam, harus ditegaskan
oleh polisi. Apakah mereka oknum atau hanya sekelompok orang yang ingin merusak
citra Islam. “Yang namanya orang Islam itu pasti menyenangkan. Kalau
menjengkelkan, mereka ya tak patut disebut orang Islam. Apalagi merusak. Itu
jelas-jelas melukai esensi Islam Rahmatal Lilalamin,” ujar mahasiswa IAIN
Walisongo Semarang itu.
Tak hanya aktivis mahasiswa
Islam, Forum Persaudaraan Antaretnis (PERANTARA) Jawa Tengah juga ikut
berpendapat. Menurut Ahwani, selaku Ketua Umum PERANTARA Jateng, sweeping itu
harus jelas tujuannya, mangfaatnya, jika hanya merusak itu bukan sweeping
namanya. “Orang Islam di era modern saat ini sudah salah dan kaprah memahami
esensi sweeping. Jadi, selama sweeping dilakukan dengan kekerasan, merusak dan
merugikan orang, hal itu bukan Islam. Karena sejatinya, Islam tak menganjurkan
merusak dan merugikan orang lain,” tuturnya pada Islamcendekia.com.
Direktur Forum Muda Cendekia
(Formaci) Jateng, Hamidulloh Ibda, juga membeberkan bahwa sebenarnya sweeping
itu adalah masalah hukum dan agama serta fenomena sosial. Jika ini hanya
disebut masalah agama, lanjutnya, Saya kurang sependapat. Pasalnya, menurut
Ibda, yang perlu tegas di sini adalah pemerintah. “Masak pemerintah kalah
dengan ormas. Kalau kalah, ini jelas membuktikan ketidakseriusan pemerintah
menindak ormas nakal. Begitu pula dengan ormas yang mengatasnamakan agama untuk
melakukan sweeping. Saya menentang tegas hal itu. Orang Islam kok tak ada
bedanya dengan preman,” tuturnya.
Mahasiswa Pascasarjana Unnes itu
juga berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan tegas. Artinya, UU yang
mengatur antara prostitusi dengan hiburan itu beda. “Jadi, pemerintah harus
membedakan, mana hiburan, mana prostisusi. Aturannya tak boleh digebyah uyah,”
jelas Dia.
Reporter dan Editor: Achmad
Hasyim

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan