Apakah Mulut Orang Berpuasa Baunya Wangi?

0

ISLAMCENDEKIA.COM – Bagi umat Islam, sebagian besar pasti
percaya bahwa bau mulut orang Islam ketika puasa Ramadan baunya wangi. Hal itu
sudah terbukti. Banyak penelitian menyebutkan manfaat berpuasa dalam berbagai
hal. Namun perlu ditegaskan kembali, apakah mulut orang berpuasa baunya
wangi?
Dalam perspektif kesehatan, Dewi Ayu Jamilah, peneliti
kesehatan STIKES Cendekia Utama Kudus menjelaskan bahwa mulut orang berpuasa
secara fisik memang agak bau. Tapi, jika dirawat dengan baik, wanginya akan
lebih daripada orang yang tidak berpuasa. “Orang berpuasa, mulutnya kan tidak
dimasukan makanan dan minuman apa pun, karena itulah ia bersih dan menjadi
wangi. Hal itu sangat berbeda dengan orang yang tidak berpuasa, mulutnya akan
bau ketika tidak disikat gigi. Kalau tidak percaya, silahkan dibuktikan
sendiri,” ujarnya.
Dalam perspektif Islam, dijelaskan dalam kitab terkenal Ihya
Ulumudin Al-Imam Ghozali, Juz 1 halaman 221 menjelaskan bahwa “Sungguh mulut
seorang yang berpuasa adalah lebih wangi menurut Allah dari pada minyak kasturi”.
Ini sangat luar biasa.
Banyak orang ragu dan termotivasi untuk membuktikan hal yang
dianggap mitos ini. Tapi setelah meneliti, ratusan orang menyatakan bahwa mulut
orang yang berpuasa baunya sangat wangi, baik secara jasmani maupun rohani.
Di sisi lain, ada pula hadist yang menjelaskan mengenal hal
itu. Seperti sabda Nabi Muhammad Saw yang artinya; “Semua amalan bani Adam
untuknya kecuali puasa (pahalanya tak terbatas),
karena puasa itu untuk Aku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika
salah seorang kalian sedang puasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak,
jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, ucapkankanlah : “Aku orang
yang sedang puasa (ucapan dengan lisan) [1], demi Dzat yang jiwa Muhammad di
tangan-Nya sesungguhnya bau mulut orang yang puasa lebih wangi di sisi Allah
daripada bau minyak misk [2], orang yang puasa punya dua kegembiraan, jika
berbuka gembira, jika bertemu dengan Rabbnya gembira karena puasa yang dia
lakukan. (HR. Bukhori (4/88), Muslim No. 1151).
Menanggapi hal itu, Hamidulloh Ibda, Direktur Forum Muda Cendekia
(Formaci) Jawa Tengah menilai sebenarnya wangi di sini tidak bisa diartikan
secara fisik. “Wangi itu kan tak haru secara fisik. Tapi, menurut Saya wangi di
sini ya ketika mulut itu suci, terhindar dari makanan-makanan haram dan ia
bebas dari tutur kata buruk,” ujarnya.
Secara implisit, lanjut Ibda, Ramadan itu merupakan bulan mulia
dan di dalamnya Allah menurunkan permulaan Alquran.  Di dalam Ramadan juga terdapat malam yang
lebih baik daripada 1000 bulan, setan-setan dibelenggu, semua perbuatan baik
dicatat, amal-amal baik dilipatgandakan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. “Karena
kemuliaan inilah, maka bau mulut di sini artinya bukan kita membiarkan untuk tidak
merawat mulut, tapi kita dianjurkan untuk memperbanyak puasa,” tuturnya.
Maka dari itu, wangi di sini harus dimaknai secara substansial dan
kita harus menjaga mulut dengan sikat gigi, menjauhi rokok dan alkohol. “Bau
mulut itu kan ada dua, dari rongga-rongga mulut karena banyak makanan yang
masih menempel dan bau mulut berasal dari lambung kita. Jadi, cara menjaganya
ya sangat sederhana dengan membersihkan mulut, gigi dan gusi serta menjauhi
makanan yang menyebabkan bau mulut menyengat,” pungkasnya.
Maka dari itu, seharusnya kita menjadi muslim yang wangi, kuat dan berbau mulut nikmat. “Sebaik-baiknya orang berpuasa adalah yang mulutnya wangi, secara jasmani dan rohani,” kata Ibda.

Reporter dan Editor: Nailul Mukorobin. Foto: Sehat Alami

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan