Benarkah Tidurnya Orang Puasa Ibadah?

0
ISLAMCENDEKIA.COM – Pertanyaan di
atas pasti muncul jika bulan Ramadan tiba. Ya, saat ini puasa Ramadan 2014
telah berjalan. Menjadi menarik ketika kita kaji kembali, benarkah tidurnya
orang puasa ibadah?
Jika kita telisik lebih dalam, ternyata hadist yang
dijadikan dasar tidurnya orang puasa ibadah adalah dhaif atau lemah. Hadist tersebut
adalah: “Tidurnya
orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Doanya adalah doa
yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.”  Perawi hadits ini adalah ‘Abdullah bin Aufi.
Hadits ini dibawakan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437.
Dalam literatur lain, dikatakan juga bahwa hadis tersebut
ternyata merupakan hadis dhaif (lemah). Hadis ini ditemukan didalam kitab Ihya’
Ulumuddin Karangan Imam Al Ghazali Jilid 1 halaman 242.
Dalam kitab tersebut disebutkan; Dari Abdullah bin Abi Aufa radhiallahu
‘anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah,
diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, dan amalnya dilipatgandakan.” (HR.
Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman) Al Baihaqi sebagai periwayat hadis
mengatakan,dalam sanad hadis ini terdapat perawi yang bernama Ma’ruf bin Hassan
dan Sulaiman bin Amr An-Nakha’i.
Lalu, mana yang benar? Secara islami, hadist tersebut sudah terbukti dhaif. Kita harus
memaknai tidur sebagai ibadah jika hal itu dimaksudkan menjadi ibadah. Seperti apa
kata budayawan Emha Ainun Nadjib (2013), menurutnya apa saja menjadi ibadah
ketika tujuannya baik termasuk tidur, dan apa saja menjadi dosa ketika
tujuannya buruk.
Prof Dr Din Syamsudin (2013) juga menyatakan bahwa tidurnya
orang puasa menjadi ibadah ketika memang ditujukan untuk istirahat bukan untuk
bermalas-malasan. Itulah tidur yang benar dan berkualitas serta mendapat pahala.
Nailul Mukorobin, Ketua Umum
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Unnes Konservasi menilai tidurnya
orang puasa menjadi ibadah ketika tidur itu berkualitas. “Kalau tidurnya dalam
rangka ibadah ya menjadi ibadah. Tapi kalau tidurnya hanya sekadar untuk
manja-manjaan dan bermalasan, saya yakin Tuhan tidak memberi pahala pada orang yang
seperti itu. Karena bulan ibadah adalah bulan produktif, bukan bulan
bermalasan,” ujarnya.
Berbeda dengan itu, Dian Marta
Wijayanti, guru SDN Sampangan 01 Kota Semarang menilai tidurnya orang berpuasa
itu akan menjadi ibadah ketika tidur tersebut bertujuan baik. “Di bulan
Ramadan, memang kondisi fisik agak melemah, tapi bukan berarti kita harus
tidur. Daripada tidur, jika masih ada kerjaan, mending kita gunakan untuk
tadarus Alquran, zikir atau membaca buku. Hal itu lebih baik daripada kita
tidur. Tapi kalau sekadar melepas lelah, saya kira juga tidak masalah,” tutur
Direktur Eksekutif Smarta School Semarang itu.
Tidur itu menjadi ibadah, lanjut
Dian, ketika diniatkan sebagai istirahat untuk mengisi tenaga. “Setelah tenaga
full, maka kita wajib melanjutkan aktivitas dunia dan yang berhubungan dengan
Tuhan. Itu baru dinamakan tidur yang menjadi ibadah,” jelas Dian.

Lebih lanjut lagi, imam An Nawawi
dalam Syarh Muslim (6/16) menyatakan “Sesungguhnya
perbuatan mubah, jika dimaksudkan dengannya untuk mengharapkan wajah Allah
Ta’ala, maka dia akan berubah menjadi suatu ketaatan dan akan mendapatkan
balasan (ganjaran).”
Maka, bisa ditarik
kesimpulan bahwa tidurnya orang puasa akan menjadi ibadah ketika dimaksudkan
untuk mengharapkan rida Allah Swt.
Karena sesungguhnya, baik dan
buruknya sesuatu bergantung pelakunya. Asalkan tidur tersebut bertujuan baik
dan karena Allah, hal itu akan menjadi ibadah.

Reporter dan Editor: Achmad
Hasyim. Foto: awiwicaksono

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan