Hasil Quick Count Pilpres 2014 Menurut Islam

0

SEMARANG, ISLAMCENDEKIA.COM –
Hitung cepat atau akrab disapa quick count menjadi tema panas baru-baru ini.
Banyak pengamat dan pakar politik berpendapat akurasi hasil quick count sangat
akurat dan dipercaya. Namun benarkah demikian? Bagaimana Hasil Quick Count
Pilpres 2014 Menurut Islam
?
Secara terang-terangan,
Burhanudin Muhtadi menjelaskan bahwa hasil quick count yang ia gawangi di
lembaga surveinya sangat akurat daripada hasil KPU. Ia berani menyalahkan KPU
jika hasilnya salah. Ini menjadi polemik karena kubu Jokowi-JK dan
Prabowo-Hatta masih menunggu keputusan KPU pada 22 Juli 2014 mendatang.
Menurut Muharrom Alrosyid, Mantan
Direktur Badan Pengelola Latihan (BPL) HMI Cabang Semarang, quick count
merupakan salah satu instrumen pengumpul data dan hasil pemilu. Dalam Islam,
quick count tidak ada dasar hukumnya. Karena di zaman Nabi Muhammad Saw belum
ada quick count. “Ini kan produk ilmu pengetahuan, jadi hasilnya bisa benar
bisa salah. Tapi tidak benar mutlak, karena yang mutlak adalah hasil dari
hitungan KPU,” tuturnya.
Maka, Islam bisa menempatkan
quick count ini sebagai wahana pengumpul data dan hasil pemilu. “Tapi jika
banyak kepentingan politik dan manipulasi, maka hukumnya dosa dan haram. Karena
sama seperti bohong dan dusta. Tapi, hakikat quick count tetap baik dan tidak
buruk,” terangnya.
Senada dengan itu, Hamidulloh
Ibda, Direktur Eksekutif Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah juga
berpendapat quick count adalah alat. Jadi, mau dibuat apa itu terserah peneliti
dan penyaji data di lembaga survei tersebut. “Kalau itu hasil olahan, gorengan
dan manipulasi ya jelas dosa. Karena masyarakat butuh yang valid, asli, murni
dan tanpa rekayasa. Tapi, apakah ada lembaga survey penyelenggara quick count
yang tanpa rekayasa? Saya kira masih jarang,” terangnya.
Dalam hal ini, quick count bisa
dilihat dari sudut pandang jujur tidak jujur, apa adanya atau rekayasa. “Islam
kan sudah memberi pencerahan bahwa berbuat jujur itu wajib, jadi kalau quick
count itu tak jujur ya berarti tak boleh,” ungkapnya.
Maka, lanjut Ibda, prinsip
peneliti dan akademisi itu kan boleh salah asal jujur dan tak dusta. “Lalu
pertanyaanya, apakah lembaga survei pelaksana quick count di Indonesia sudah
jujur? Kalau sudah berarti menurut Islam sah dan baik, tapi kalau sebaliknya,
maka Anda tak usah percaya dengan hasil quick count,” jelas Dia.
Masyarakat awam juga tentu tahu,
bahwa independensi lembaga survei saat ini diragukan. Semua serba bayaran dan
penuh kepentingan politik. “Tapi, percaya atau tidak pada hasil quick count itu
adalah pilihan. Sedangkan prinsip Islam menilai quick count yang penting jujur
dan dapat dipercaya. Jika demikian, itu sudah representasi sifat Nabi Muhammad
Saw,” papar Ibda.
Reporter dan Editor: Nailul
Mukorobin

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan