Hukum Membahagiakan Istri Menurut Islam

0

ISLAMCENDEKIA.COM – Bagi kaum
Adam yang sudah memiliki istri, membahagiakan istri hukumnya adalah wajib.
Kalau tidak membahagiakan, tampaknya mereka pura-pura menjadi suami. Itu harus
dipahami bagi semua suami di dunia ini. Karena menjadi suami itu tidak semudah
membalik telapak tangan.
Dalam Islam, di Alquran
disebutkan bahwa suami adalah pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian bagi
suami. Pesan Alquran itu memberi pengertian bagi kita bahwa suami istri harus
saling melengkapi, menyayangi dan tidak boleh melecehkan apalagi membuat sedih
dan galau. Jadi, hukum membahagiakan
istri adalah wajib.
Mengapa wajib? Suami merupakan
kepala rumah tangga. Ia imam dan terdepan. Tugas imam adalah membahagiakan
makmumnya. Ibarat sopir, ia harus menjadikan suasana bus yang nyawan, wangi,
harmoni dan membuat senyum semua penumpang. Begitu pula dalam bahtera rumah
tangga. Tanpa memberi kebahagiaan, maka rumah tangga menjadi gersang dan tandus
serta istri akan mengalami kekeringan spiritual.
Menurut Hamidulloh Ibda, Penulis
Buku Stop Pacaran Ayo Nikah, menjadi suami itu seperti penggembala. Ia harus
tahu karakter dan kebutuhan yang digembalai. “Pengembaraan hidup istri itu akan
indah dan bahagia, ketika suami mampu menciptakan kegembiraan dan membuat
dialektika asmara dengan indah pada istri. Tanpa itu, istri akan mengalami
kekeringan asmara,” ungkap Dia.
Prinsipnya, menurut Ibda sangat
simpel. “Berumah tangga itu kan seperti berorganisasi. Jadi semua tak harus
linier seperti pendapat orang umum. Kalau istri tak sempat memasak, mencuci
baju, menyapu rumah, sang suami juga bisa membantu pekerjaan tersebut. Karena
semua baik ya yang mau membantu pekerjaan sepele di rumah,” ujarnya.
Tak kalah penting, lanjut Ibda,
semua harus tahu posisi dan tugas serta wewenang masing-masing. “Suami juga
tahu posisinya, istri juga demikian. Kalau tidak, rumah tangga pasti rentan
terjadi pertikaian,” katanya. Ibda juga menjelaskan bahwa sebenarnya membahagiakan istri tak hanya urusan biologis atau urusan ranjang. Meskipun membahagiakan istri di ranjang adalah ibadah, namun selain itu harus dipacu usaha membahagiakan istri dalam berbagai hal bahkan di semua hal.
Senada dengan itu, M Qomarudin,
Pegawai UPT Perpustakaan IAIN Walisongo Semarang juga menilai baik dan buruknya
istri sangat ditentukan suami. “Banyak perempuan nakal ketika menikah dengan
suami baik, mereka menjadi baik bahkan menjadi saleha seratus persen. Intinya
ada pada suami,” ungkapnya.
Tak hanya kebutuhan biologis,
lanjut Qomar, kebutuhan sepele seperti jalan-jalan dan belanja juga harus
dipahami suami. “Membahagiakan istri itu simpel. Tak perlu kita ajak ke tempat
mewah. Kita ajak jalan-jalan pakai motor keliling di alun-alun saja sudah
senang. Intinya, suami harus tahu kebutuhan istri, baik spiritual maupun
material,” ungkap bapak dari 1 anak tersebut.
Qomar juga mencontohkan Nabi
Muhammad Saw yang dulu membahagiakan istrinya dengan cara simpel, jitu dan
revolusioner. “Kalau suami cerdas dan kreatif, cara sesimpel apa pun bisa
terlihat waw di depan istri,” pungkas Dia.
Reporter dan Editor: Achmad
Hasyim. Foto: Arsti

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan