Tranformasi Pendidikan Islam dalam Kurikulum 2013

0

Oleh Barorotul Ulfah Arofah

Apabila pendidikan Islam ditransformasikan ke kurikulum 2013, maka
nilai-nilai Islam akan tersalurkan dan akan mencetak masyarakat khairo
ummah.
Pendidikan Islam tidak hanya diperuntukkan orang-orang Islam saja,
tetapi seluruh komponen negara. Masyarakat non-muslim hanya mendapat
nilai-nilai pendidikan Islam tanpa “embel-embel” pendidikan Islam. Dengan
demikian, pendidikan Islam baik formal maupun non-formal dapat dinikmati dan
diaplikasikan seluruh masyarakat.
Menurut Mohammad Hitammi Salim dan Erwin Mahrus, pendidikan Islam
adalah upaya sadar untuk mengubah tingkah laku individu dan kehidupannya ke
arah yang lebih baik dan berarti (2009: 13). Oleh karena itu, sangat diperlukan
esensi pendidikan Islam turut serta mewarnai kurikulum 2013.
Sosialisasi konsep kurikulum 2013 telah dilakukan pemerintah pada akhir
November lalu. Kurikulum Sekolah Dasar akan mengalami perubahan, lebih tepatnya
akan dibuat lebih sederhana. Kementerian pendidikan dan kebudayaan
menyederhanakan mata pelajaran yang dari rata-rata sebelas menjadi tujuh.
Namun, ada empat mata pelajaran yang masih tetap menduduki tujuh pelajaran
tersebut, yaitu PKN (Pendidikan Kewarganegaraan), bahasa Indonesia, pendidikan
agama, dan matematika.
Penyederhanaan bidang studi dapat diartikan sebagai langkah kongkret
dalam menjalankan amanat yang termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional (SPN). Pemerintah menyatakan bahwa perubahan
kurikulum tersebut akan dilaksanakan pada awal tahun 2013. Secara tidak
langsung, menekan segala jajaran kependidikan untuk segera beradaptasi dengan
kurikulum baru yang menghasilkan sistem baru.
Sungguh tak mudah bagi pelaku pendidikan, seyogyanya waktu beradaptasi
tidak cukup dengan waktu satu atau dua bulan. Padahal, belum tentu dengan
diadakannya perubahan kurikulum akan semakin mewujudkan tujuan pendidikan
nasional. Bahkan, lebih parah lagi akan semakin membuat pendidikan
terkotak-kotak dengan kurikulum yang gontaganti.
Dalam konteks kerangka historis, sejak Peraturan Presiden No. 8 Tahun
2012 tentang Kerangka klualifikasi nasional Indonesia diproklamirkan, dapat
dengan mudah menebak tujuan perubahan kurikulum. Hal ini sesuai dengan UU no.
20 Tahun 2003 tentang SPN  Pasal 26 Ayat
1 yang menyatakan bahwa Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada
standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Sebenarnya, bila ditelaah dengan detail, PP No. 8 tahun 2012 tersebut
menandakan bahwa adanya ancaman bahaya. Sebab, ada beberapa unsur yang
dijadikan sebagai syarat (standar kualifikasi) dalam setiap jenjang pendidikan
di Indonesia. Misalnya, seorang doktor harus menghasilkan karya melaui riset,
seorang pendidik harus memiliki kemampuan yang mumpuni, dan lain sebagainya.
Mengapa ditranformasikan?

Di era modren ini, ilmu pengetahuan Islam mengalami degradasi. Dulu,
pengenalan ilmu pengetahuan Islam berporos pada individu-individu. Dengan
begitu, secara tidak langsung mencetak insan-insan intelektual Islam tinggi,
sehingga mereka bisa menarik perhatian para pencari ilmu di daerah sekitar atau
daerah lain untuk belajar dengan mereka.
Tidak perlu diherankan, jika pada zaman dahulu mereka mengeluarkan
sertifikat sesuai kehendak mereka kepada murid yang telah mencapai titik
intregitas sesuai standar. Dengan begitu para murid secara resmi mendapatkan
ijin dari guru untuk melanjutkan perjuangan mereka dalam proses belajar
mengajar. Dan terkadang isi dari sertifikat tersebut berupa pelajaran yang
dikuasai atau bahkan beberapa pelajaran. 
Kini, semua telah berubah seiring perkembangan zaman. Dan parahnya
lagi, nilai-nilai pendidikan Islam hampir saja punah. Hal itu dikarenakan oleh
penyepelean pendidikan Islam, sehingga melupakannya. Oleh sebab itu, pendidikan
Islam perlu ditranformasikan sebagai usaha sadar dalam memperbaiki pendidikan negara.
Sebelumnya, perlu adanya pembaharuan pendidikan Islam agar ilmu
pengetahuan Islam dapat bangkit kembali. Menurut Fazlur Rahman, sebaiknya
melakukan pendekatan dengan cara menerima pelajaran-pelajaran sekuler modern
yang berkembang dan yang sudah tidak asing lagi di Barat, kemudian
mengeksporasi ke dunia pendidikan Islam dengan cara menambahkan dasar-dasar
Islam ke dalamnya. 
Sebenarnya, pendekatan ini, berfungsi sebagai arah pembentukan watak
pelajar dengan asas-asas Islam yang akan diterapkan dalam kehidupan dan
masyarakat. Tidak hanya itu, konsep ini juga berfungsi untuk para ilmuan yang
mempunyai kompetensi yang tinggi untuk memberikan nama pada masing-masing
bidang yang dikuasai dengan nama-nama Islam dan mengubah isi atau kajian-kajian
(jika perlu) yang terkandung, disesuaikan dengan pandangan Islam. Tetapi,
menurut Ahmad Syafii Maarif (1997: 1), jika menggunakan pendekatan ini,
konsekuensinya adalah paradigma pendidikan Islam yang baru harus tetap berasal
dari pemahaman yang secara tepat dalam memahami isi dari al-Qur’an.
Rahman juga memberikan ide cemerlang lagi dalam mengatasi masalah ini,
yaitu dengan perumusan pemikiran konsep pendidikan Islam yang akan dikembangkan
haruslah membangun pondasi yang kuat berupa paradigma yang kokoh spiritual, cerdas,
dan moral yang sesuai dengan al-Qur’an yang menjadi tolak ukur atau acuan. Dan
kurikulum terbuka dalam pengembangan filsafat dan ilmu-ilmu sosial, karena
dengan begitu akan menimbulkan sifat berfikir kritis dalam menciptakan
gagasan-gagasan bebas. Wallahu a’lam bi al-Shawaab.
-Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang dan
Aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Semarang.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan