Tuhan Membusuk

0
Tuhan Membusuk

Oleh Hamidulloh Ibda

Tuhan Membusuk; Rekonstruksi Fundamentalisme Menuju Islam Kosmopolitan. Demikian tulisan spanduk ketika acara Orientasi Akademik dan Cinta Almamater (OSCAAR) oleh Senat Mahasiswa Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) yang tak lama ini menimbulkan kontroversi, hujatan, terutama di media sosial. Bagi kaum intelektual di lingkungan kampus IAIN, UIN maupun STAIN, tema seperti itu sudah biasa, bahkan menjadi makanan sehari-hari. Namun bagi masyarakat awam tentu sangat ekstrem. Tema seperti itu sangat kontroversial dan berpotensi menimbulkan pertikaian, karena dianggap “menistakan” Tuhan.

Sebagian kaum intelektual menyatakan perbuatan senat itu merupakan contoh liberalisme yang tidak bermutu. Pilihan katanya buruk, mentah, tidak radikal dan tidak memiliki rujukan akademis dan tidak bisa dipertanggung jawabkan. Ini kaum liberal “gadungan” alias “abal-abal”.

Setidaknya, tragedi tersebut membuat pemeluk agama di negeri ini sadar akan tingkat keberagamaannya dan belajar tentang makna, filosofi dan belajar spiritualisme dalam beragama dan bertuhan. Ahmad Fauzi (2013) dalam bukunya Agama Skizofrenia menyatakan banyak orang beragama dan beriman pada Tuhan, tapi sebenarnya mereka tidak “beragama”. Mengapa? Sejatinya, agama bukan sekadar masalah ketuhanan, sebuah konsep abstrak, rumit dan berbelit-belit, tapi tentang kemanusiaan, ajaran yang seharusnya mendarah-daging dalam sejarah.

Dekonstruksi
Di beberapa media massa, tema itu menjadi kontroversi karena rata-rata hanya mengutip di awal saja, yaitu “Tuhan Membusuk”. Sedangkan lanjutannya, yaitu “Rekonstruksi Fundamentalisme Menuju Islam Kosmopolitan” tidak diikutsertakan dalam pemberitaan. Itulah penyebab kontroversi.

Selama ini banyak orang salah dan setengah hati dalam memahami agama. Pemeluk agama di Indonesia mengalami “kejumudan” spiritual dalam bertuhan. Akibat keterbatasan manusia memahami Tuhan yang sebenarnya, lebih tepat didefinisikan sebagai “tiada daripada ada”. Pengetahuan manusia mengalami keterbatasan dalam mendefinisikan konsep Tuhan yang transenden, sehingga pengertian Tuhan selama ini dalam agama Abrahamik/Samawi lebih bisa disebut berhala daripada Tuhan yang sebenarnya.

Inilah yang harus didekonstruksi. Banyak orang “menuhankan” sesuatu yang bukan Tuhan. Sehingga, tuhan-tuhan kecil tersebut justru menjadi “tuhan” daripada Tuhan yang sebenarnya. Nurcholis Madjid (2011) menyatakan kensepsi “ketuhanan” sangat rumit dan selalu menimbulkan perdebatan dalam sepanjang kehidupan manusia. Oleh karena itu, pemeluk agama tak boleh terjebak dalam perangkat yang jika salah bisa menyesatkan.

Istilah  “ketuhanan”  merupakan  istilah  yang  sangat  abstrak; bukan  “Tuhan”,  melainkan  “ketuhanan”,  suatu  prinsip  mengenai Tuhan, tetapi bukan Tuhan sendiri. Oleh karena itu, ia pun sangat sulit diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Dalam bahasa Inggris barangkali dapat diterjemahkan dengan istilah divinity, bukan  “deity”  atau “God”, dan dalam bahasa Jerman Gottheit atau Gottlichkeit. Ia pun bukan  Gott. Hanya teologi yang dapat menjelaskan dengan memberikan definisi mengenai apa yang dimaksudkan dengan ketuhanan itu secara nyata (Aritonang, 2004: 256).

Tuhan Membusuk dalam konteks ini bukan berarti Tuhan sudah busuk, melainkan nilai-nilai dan ajaran tentang agama dan ketuhanan sudah membusuk. Tuhan membusuk bukan berarti membusuk secara fisik, namun lebih pada substansi ajaran Tuhan yang kini mengalami pergeseran.

Hal itu muncul sebagai antiklimaks suatu negara yang beragama, namun mereka seperti orang yang tak memiliki nilai religius. Seperti contoh, banyak pemuka agama di negeri ini terjerat korupsi, penyelewengan dana haji dan sebagainya. Padahal mereka adalah pemeluk agama yang taat. Tragedi di UINSA itu merupakan replika dari patologi dan anomali agama yang makin berkembang.

Walter Kaufmann (1974) menyatakan istilah “Tuhan telah mati” sebenarnya sudah ada sejak dulu. Tuhan sudah mati (bahasa Jerman: Gott ist tot) adalah sebuah ungkapan yang banyak dikutip dari Friedrich Nietzsche. Tuhan sudah mati tidak boleh ditanggapi secara harfiah, seperti dalam “Tuhan kini secara fisik sudah mati”. Sebaliknya, inilah cara Nietzsche untuk mengatakan bahwa gagasan tentang Tuhan tidak lagi mampu untuk berperan sebagai sumber dari semua aturan moral atau teleologi.

Dalam konsep akidah Islam, untuk mencapai Tuhan harus ada dua syarat, yaitu “peniadaan” dan “pengecualian”. Yaitu la ilaha illallah (tiada tuhan selain Allah). Artinya, untuk mengadakan Tuhan, kita harus mengecualikan, membunuh tuhan-tuhan kecil seperti mobil, rumah, jabatan, perempuan dan sebagainya. Jika Tuhan dikatakan “membusuk”, sebenarnya itu secara substansial mengritik “membusuknya” ajaran dan nilai-nilai Tuhan.

Gus Dur (2011) menyatakan secara tegas “Tuhan tak perlu dibela”. Dalam konteks ini, Tuhan adalah proyeksi tertinggi manusia. Kita tak perlu berlebihan dalam mendiskusikan Tuhan, karena dimensi kita sangat berbeda jauh.

Beragama substantif
Bertuhan memang tak harus beragama. Pasalnya, di era digital seperti ini, banyak orang beragama hanya kulitnya saja. Hanya pada tataran ritus, liturgi dan sakramen saja. Tesis inilah yang menjadikan banyak orang beragama yang seakan-akan “gila” dan kehilangan kesadaran. Bahkan, pemeluk agama rata-rata “memonopoli” Tuhan. Mereka menganggap orang yang tak beragama tak bertuhan.

Karen Armstrong  (1993) menjelaskan ketika sebuah konsepsi tentang Tuhan tidak lagi mempunyai makna/relevansi, ia akan diam-diam ditinggalkan dan digantikan teologi baru. Tesis ini harus diruwat. Artinya, jalan terbaik dari masalah ini adalah beragama dan bertuhan secara substantif dan sampai akar.

Jalaluddin Rakhmat (2006) menjelaskan Tuhan sejati adalah Tuhan yang disaksikan bukan Tuhan yang didefinisikan. Albert Ellis (1913-2007) menyebut orang yang sehat secara emosional bersifat fleksibel, terbuka, toleran dan siap berubah. Sedangkan orang yang sangat taat beragama cenderung tidak fleksibel, tertutup, tidak toleran dan tidak mau berubah. Ini memberi pesan pada manusia agar meskipun beragama tak harus “kaku” dan harus toleran.

Emha Ainun Nadjib (2013) menyatakan sebenarnya kita tak perlu beragama pun harus toleran dan menciptakan kegembiraan pada semua manusia. Kita diharuskan menjadi manusia dulu sebelum beragama. Mengapa? Jika sudah menjadi manusia sebenarnya, pasti kita tidak melukai, menyakiti orang lain.

Hamidulloh Ibda,
Direktur Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah, Akademisi Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes)

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan