Analisis Bahasa Politik Wanda dan Permainan Pronomina

0
Wanda Hamidah dipecat dari PAN

Ada banyak strategi bagi politisi untuk mengungkapkan sesuatu yang benar tampak salah dan sebaliknya. Begitu pula, banyak cara yang bisa digunakan untuk mengungkapkan persoalan domestik-personal agar seolah-olah tampak menjadi persoalan publik. Untuk memahami masalah tersebut, saya mencoba untuk membuat sedikit coretan tentang analisis bahasa politik Wanda dan permainan pronomina.

Saat dipecat dari keanggotaan Partai Amanat Nasional (PAN), politisi muda (cantik pula!) Wanda Hamidah mempraktikan strategi permainan pronomina. Pronmina adalah kata ganti untuk menyebut orang atau benda, misalnya aku, kamu, kita, kami, kalian, dan mereka.

Permainan pronomina dilakukan untuk mengacaukan subjek dan objek sebuah kalimat sehingga pendengar rancu. Permainan ini dapat digunakan untuk menghindari tanggung jawab, menokohkan seseorang (glorifikasi), atau menuai simpati.

Mari kita dengar apa yang dikatakan Wanda dalam wawancara engan MetroTV (bisa disaksikan di sini: https://www.youtube.com/watch?v=mHvI_KaJXBE)

“SAYA tidak ada kekecewaan dan SAYA tidak ada penyesalan apa pun atas pemberhentian dari Partai Amanat Nasional. Tapi sebaliknya, kekecewaan saya justru terhadap apa yang mengancam KITA.  Yaitu hasrat kekuatan elit politik yang hendak memasuk suara SAYA, yang hendak memasung suara ANDA. Dan hasrat kekuatan elit yang hendak memasung suara RAKYAT.”

Dengan kalimat itu, Wanda berusaha mengaburkan makna kata SAYA, ANDA, KITA, dan RAKYAT dengan cara menggunakan secara bergantian seolah-olah bersinonim. Empat kata yang maknanya jauh berbeda itu dipertukarkan sehingga seolah-olah sama.

Dengan cara itu, Wanda berupaya mengajak penonton agar dapat merasakan perasaannya. Jika berhasil, pengaburan ini akan membuat persoalan yang merupakan persoalan individu ini seolah-oleh menjadi persoalan publik.

Permainan pronomina tidak hanya diprkatikkan Wanda. Partai Golkar, secara ekstrim menggunakan tagline “Suara Golkar, Suara Rakyat”. Menurut versi tagline ini, Golkar adalah representasi Rakyat. Dan (oleh karena itu) rakyat mestinya mendukung Golkar.

Pada kampanye Pilpres lalu, Prabowo Subianto mereproduksi tagline “Kalau Bukan Sekarang,Kapan Lagi. Kalau bukan KITA, siapa lagi.” Adapun (tim kampanye) Joko Widodo membuat tagline “Jokowi adalah KITA.”

KITA berarti SAYA dan ANDA atau KAMI dan ANDA. Potensi kata KITA telah disadari politisi dapat membangkitkan sensasi kemenyatuan. Oleh karena itulah, kata ini banyak digunakan.  Nyatanya, apakah DIA adalah bagian dari ANDA? Apakah MEREKA adalah representasi dari ANDA?

Oleh Rahmat Petuguran
Dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes)

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan