Bank Muamalat adalah Kios Islam di Pasar Yahudi

0

SEMARANG, Islamcendekia.com – Menurut Emha Ainun Najib (Cak
Nun), Bank Muamalat saat ini adalah kios Islam di pasar Yahudi. Ya, intinya Bank
Muamalat adalah kios Islam di pasar Yahudi.
Apa alasannya? Zaman Islam
dulu, ada pasar Yahudi yang berdiri saat Nabi Muhammad Saw hidup. Lalu,
Muhammad bukan ikut di pasar Yahudi, namun beliau mendirikan pasar Islam
sendiri, dengan sistem dan struktur serta aturan Islam.
Lama-lama, akhirnya sistem ekonomi dan pasar Islam yang
dikembangkan Rasulullah berkembang pesat sehingga mengalahkan pasar Yahudi.
Maka dari itu, pasar Yahudi justru bergabung dan melebur di pasar Islam yang
diterapkan Nabi Muhammad.
Namun saat ini berubah. Kalau Bank Islam, seperti Bank
Syariah, Bank Muamalah justru meniru dan bergabung di pasar Yahudi. “Bank
Muamalah itu adalah kios Islam di pasar Yahudi,” tutur Cak Nun dalam pengajian
Maiyah.
Pertanyaannya, mengapa Islam tidak buat sistem dan pasar
Islam sendiri? Seharusnya, menurut Cak Nun istilah itu bukan bank, Islam harus
mencari formula sendiri dan mencari nama sendiri untuk menghidupkan ekonomi
Islam.
Menanggapi hal itu, Hamidulloh Ibda, Direktur Forum Muda
Cendekia (Formaci) Jawa Tengah mengatakan bank di negeri ini adalah jiplakan.
Tidak hanya bank Islam, namun semua bank juga menerapkan sistem ekonomi
kapitalistik. “Bukan hanya dalam hal ekonomi, saat ini kita meniru dan
bergabung dengan sistem Yahudi, ya budaya, tradisi, sistem politik dan
sebagainya. Padahal kita bisa membuat sistem sendiri sesuai ajaran Islam,”
jelasnya.
Bank Muamalat, Syariah, BMT atau apa pun jenisnya, lanjut
Ibda, seharusnya menerapkan sistem Islam. “Mereka hanya meniru, belum bisa
mendirikan sistem yang akarnya dari Islam. Padahal mereka membawa embel-embel Islam,”
katanya.
Kita, lanjut
Ibda, memang tidak mau menjadi Islam. Apa saja, menurut Ibda masih
berbau Barat, berbau Yahudi. “Kita ini memang inlander. Indonesia tak
jelas nasionalismenya, Islam juga tidak jelas sistem yang kita
terapkan,” paparnya Jadi, kalau ada pameran, seminar, atau apa saja harus menerapkan sistem Islam sendiri. Bukan justru meniru dan ikut sistem Yahudi.
Reporter dan Editor: Achmad Hasyim. Foto: BM.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan