Belajar Islam dengan Prabu Dewa Krisna

0

Islamcendekia.com – Belajar Islam dengan Prabu Dewa Krisna menjadi salah satu metode untuk mengenal Tuhan dengan ajarannya di luar konteks syariat Islam. Hal ini bukan bermaksud untuk menegasikan Nabi Muhammad yang juga sebagai pembawa risalah Islam, tetapi lebih kepada mempelajari ajaran-ajaran Prabu Dewa Krisna yang serupa dengan ajaran-ajaran Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad Saw.

Krishna atau dalam ejaan resmi bahasa Indonesia/Jawa adalah Kresna merupakan seorang raja, prabu, ksatria, bahkan dewa dalam kisah Mahabharata yang menjadi penasehat dari para Pandawa saat perang Bharatayuda berlangsung dengan para korawa. Kresna dianggap sebagai perwujudan Tuhan yang Maha Kuasa.

Belajar Islam dengan Prabu Dewa Krisna

Krisna juga dianggap sebagai wujud kebenaran mutlak. Secara genealogi, Prabu Dewa Krishna adalah putra dari Dewaki dan Basudewa, serta memiliki dua saudara bernama Baladewa dan Subadra (istri Arjuna). Sementara itu, Khrisna merupakan sepupu dari pandawa, yaitu Yudistira, Bima dan Arjuna yang merupakan putra Pandu dan Kunti.

Saat perang Bharatayuda berlangsung sebagaimana ditulis dalam kitab Mahabharata, Arjuna bimbang untuk berperang karena ia menyaksikan saudara, sepupu dan para kerabat sendiri terlibat saling membunuh satu sama lain. Dari sini, Khrisna memberikan nasehat kepada Arjuna dan pada puncak tertinggi, Krisna menampakkan diri dengan wujud para Dewa dan menjadi manifestasi dari Tuhan yang Maha Kuasa.

Dalam wejangan Kresna kepada Arjuna yang dirangkum secara lengkap dalam kitab Bhagawadgita (kidung Ilahi), Arjuna diajarkan tentang ketuhanan (iswara), kewajiban (dharma), alam semesta (prakerti), dan mengenai waktu (kala). Dalam suatu perkataan, Krishna mengatakan: “Di mana suatu kebajikan itu merosot dan kejahatan merajalela, pada saat itulah aku menjelma. Aku (lahir) untuk menyelamatkan orang saleh dan memberikan hukuman kepada orang-orang yang jahat dengan menegakkan kebenaran. Aku lahir dari zaman ke zaman.” Kalimat ini termaktub dalam kitab Bhagawadgita 4: 7-8.

Lantas, kenapa redaksi Islamcendekia.com menerbitkan tulisan berjudul Belajar Islam dengan Prabu Dewa Khrisna? Hal ini menjadi usul Lismanto, Chief Executive Officer (CEO) Islamcendekia.com karena ia menilai ajaran-ajaran Krisna saat memberikan nasehat kepada Arjuna menjelang perang Bharatayuda berlangsung dinilai sangat sesuai dengan Islam secara substantif. Ini sangat menarik dan menjadi bagian dari pembahasan Dewa Khrisna dalam Islam.

“Islam secara material adalah agama formal dari Baginda Muhammad Saw untuk kemaslahatan manusia di bumi dengan segala ritual islaminya seperti sholat, zakat, puasa, dan haji. Sementara itu, Islam secara substantif merupakan sebuah ajaran untuk menegakkan keadilan, menyebar perdamaian, dan memerangi kebatilan atau kejahatan. Nah, jika kita urai ke dalam bagian Islam secara substantif, maka apa yang diajarkan Khrisna kepada Arjuna bisa menjadi pembelajaran bersama untuk kita dan sangat identik atau serupa dengan ajaran-ajaran teologi Islam,” ujar Lismanto saat dihubungi via telepon, Senin (27/10).

“Jadi, kalau kita resapi bersama, tayangan kolosal Mahabharata di ANTV yang menyuguhkan nasehat-nasehat Kresna kepada Arjuna saat perang Bharatayuda berlangsung bisa menjadi media pembelajaran yang baik untuk mengetahui lebih dalam hakikat kehidupan yang saya kira sama dengan apa yang diajarkan dalam Islam,” tuturnya.

Adapun ajaran-ajaran dewa Khrisna yang serupa dalam Islam, sebagaimana termaktub dalam kitab Bhagawadgita, antara lain terangkum dalam kutipan sebagai berikut:

Dengan mengabdi kepada sang Maha Kuasa (baca: Tuhan), kita bisa menyatu dengan yang Maha Kuasa.

Dalam tradisi mistis Islam, kalimat penyatuan hamba dengan Tuhannya dikenal dengan istilah manunggal ing kawula lan gusti sebagaimana diajarkan oleh Syeh Siti Jenar. Cara ini, menurut Prabu Dewa Krisna, bisa ditempuh dengan cara mengabdi kepada Tuhan atau Sang Maha Kuasa.

Selanjutnya, berikut kutipan ajaran-ajaran dewa Khrisna yang serupa dengan apa yang diajarkan dalam Islam.

Dalam kenyataan, pengabdian bukanlah tugas, melainkan sebuah keputusan. Sangat penting bagi manusia untuk memurnikan jiwanya melalui doa, penebusan dosa, ritual yoga (dalam Islam bisa diartikan dzikir kepada Allah), dan juga pembelajaran diri.
Setiap manusia harus mencurahkan segenap perhatian dan mengarahkan setiap nafasnya untuk Yang Maha Kuasa (baca: Tuhan).

Lantas Arjuna bertanya: “Kalau hidup adalah pengabdian kepada Sang Maha Kuasa, kenapa kita harus berdoa melakukan penebusan dosa?” Khrisna menjawab: “Setiap hari manusia pasti (disadari atau tidak) melakukan dosa dan menjadi kotor lagi. Untuk itu, manusia harus senantiasa berdoa kepada Yang Maha Kuasa untuk meminta ampun kepada-Nya hingga berulang kali. Karena itulah perlu berdoa, penebusan dosa, pembelajaran diri supaya kau ingat setiap waktu bahwa hidupmu adalah pengabdian kepada Sang Maha Kuasa,” ujar Krisna. Krisna kemudian melanjutkan:

“Tidak penting sungai bagian mana yang engkau selami. Namun, yang paling penting adalah bahwa kau bisa menyelam. Hanya ada satu dedikasi dari bakti yoga bahwa dengan menyerahkan kehidupannya kepada Yang Maha Kuasa, manusia harus meneruskan pengabdiannya untuk Tuhan yang Maha Kuasa agar dia bisa menjaga kebaikan dalam hidupnya.”

Dalam istilah ajaran Islam, menyerahkan kehidupannya kepada Sang Maha Kuasa sebagaimana diajarkan Krisna adalah tawakal, yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt. Bahkan dalam Al Quran dijelaskan bahwa Allah lah tempat terbaik untuk menyerahkan segala urusan dan tempat terbaik untuk meminta pertolongan. Hal ini bisa dijumpai dalam kalimat dalam Al Quran di bawah ini:

Arti dan Makna Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir

Selanjutnya, Arjuna bertanya kepada Khrisna lagi, “Lalu, apa itu kebaikan dan kebajikan itu, Badawa Krisna? Lantas, Kresna menjawab:

“Tanpa alasan, demi kepentingan diri melakukan kekerasan adalah dosa. Sesungguhnya arti kekerasan adalah dharma yang utama. Selain itu, kejujuran, tidak emosi, pengorbanan, ketenangan jiwa, tidak menjelekkan orang lain, berperasaan welas asih, tidak tertarik dengan suka cita, tidak melakukan sesuatu tanpa alasan, tenang, sabar, pemaaf, dan kesucian tubuh serta tidak melawan kebenaran dan tidak angkuh. Sifat-sifat ini disebut sebagai sifat-sifat mulia.”

Dengan ini, lanjut Khrisna, manusia bisa melakukan kebaktian. Artinya, bisa berbakti kepada-Ku (menunjuk pada Kresna sebagai perwujudan material Tuhan) sambil menjalankan kewajiban dalam hidupnya, sambil menegakkan kebenaran dan hidup tanpa mengharap pahala dari perbuatannya.

“Orang seperti itu sudah pasti, aku berikan ketenangan dan setelah kematian, aku berikan tempat bersemayam di dalam tubuhku,” ujar Krisna.

Sebagaimana dalam ajaran agama Islam, puncak tertinggi daripada sebuah penghargaan tertinggi bagi manusia bukanlah surga, tetapi pertemuan kita kepada Allah. Muhammad Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam sebuah ceramah pengajian akbar mengatakan, surga itu tidak penting. Karena kalau manusia sudah bertemu atau bermuwajahah kepada Tuhan, apalah arti sebuah surga?

Pendapat Cak Nun tentang surga itu tidak penting saat manusia bertemu dan menyatu dengan Tuhannya, bisa membaca: Surga Itu Tidak Penting

Hal ini senada dengan apa yang dikatakan Krisna, “Dan setelah kematian (bagi orang-orang yang berbakti kepada Tuhan), akan kuberikan tempat bersemayam di dalam diriku (baca: Tuhan). Hal ini bukan menuhankan atau menjadikan Krisna sebagai Tuhan sebagai wujud material asli, tetapi lebih dimaknai sebagai Krisna merupakan perwujudan Tuhan dalam bentuk material tubuh manusia. Hal ini bisa dipelajari dalam tarekat atau ajaran-ajaran sufisme Syeh Siti Jenar tentang bagaimana Tuhan dan manusia serta alam semesta.

Krisna dalam salah satu ajaran Hindu dikatakan sebagai titisan Dewa Wisnu di mana Krisna mendapatkan tempat sendiri sebagai dewa bagi salah satu aliran umat Hindu. Dalam Islam, Khrisna mirip dengan nabi, yaitu pembawa risalah dari Allah di mana nabi sendiri menjadi bagian dari sifat-sifat Allah untuk dijadikan pembelajaran bagi umat manusia.

Untuk mengetahui kesamaan konsep teologi ketuhanan antara Islam dan Hindu, silakan baca Kesamaan Konsep Tuhan antara Islam dan Hindu

Dari berbagai uraian tersebut, kita bisa ambil hikmah untuk meneladani dan belajar Islam dengan Prabu Dewa Krisna. Belajar Islam bukan hanya soal kesamaan ritualnya, tetapi juga kesamaan substansi ajarannya. Semoga bermanfaat. (IC/Prabu Jayanegara)

Ditulis Prabu Jayanegara berdasarkan wawancara dengan Lismanto, CEO Islamcendekia.com

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan