Cara Merangsang Perkembangan Otak Bahasa Anak

0
Cara Merangsang Perkembangan Otak Bahasa Anak
SEMARANG, Islamcendekia.com – Bagaimana Cara Merangsang
Perkembangan Otak Bahasa Anak
? Hal ini sebenarnya sangat sulit, karena
masyarakat di Indonesia sangat multietnis, multisuku dan bahasa.

Dr Ida Zulaeha, MHum, dosen bahasa Indonesia Program
Pascasarjana Universitas Negeri Semarang mengatakan anak-anak Indonesia harus
pintar bahasa dan literasinya bagus pada saat memberi materi Teori dan
Pembelajaran Membaca, Kamis (23/10/2014).

Cara merangsang perkembangan otak bahasa anak menurut
Ida bisa dilakukan dengan mencontohkan hal-hal konkret. Seperti meja, botol,
kapur. “Dek, ini apa? Meja. Ini apa? Botol. Ini apa? Kapur,” ujar Ida. Kalau binatang,
lanjut Ida, bisa mencontohkan kucing, cicak dan sebagainya.

Saat anak di PAUD, pengasuh atau gurunya jangan mendiamkan
anak tersebut. Tapi dirangsang diajak berbicara. “Ini kucing, kakinya berapa,
apa bunyinya,” jelas Ida. Dosen bahasa Indonesia dari FBS Unnes itu menganjurkan orang
tua dan guru untuk merangsang dengan ekspresi bahasa lisan.

Dengan demikian,
kosakatanya akan banyak. Merangsang bunyi, agar pelafalannya sesuai dengan
orang dewasa. “Meluruskan pelafalan agar benar. Misalnya, mimik cucu, namun
harus mimik susu. Guru dan orang tua harus mengerti hal itu,” tandas dosen
kelahiran Kudus tersebut.

Hal-hal di atas hanya sebagian cara merangsang otak bahasa
anak dari segi kata saja. Lalu bagaimana cara merangsang bahasa semantik
anak?

Merangsang bahasa anak itu sangat banyak sekali. Tidak hanya
dari kata, fonologi, pelafalan dan semantik (makna). Bagaimana cara merangsang
makna kata, kalimat dan ujaran kepada anak?

Ketika anak bayi usia balita, seringkali mencoba makanan. “Bagaimana,
Dek rasanya, enak? Atau anak diajak memegang air, bisa dingin atau panas. Jadi,
anak bisa membedakan konsep dingin dan panas. Itu sudah merangsang makna, tapi
makan konseptual,” jelas Ida Zulaeha.

Untuk anak pra SD, lanjut Ida, belum sampai ke tahap makna
asosiatif, seperti “dia dipegang anunya”. Anak sebelum SD belum sampai ke makna
seperti itu. Tapi untuk SD sudah, seperti konsep es dingin, AC dingin dan
sebagainya.

Orangtua juga harus merangsang pragmatiknya anak. Misalnya,
ketika anak melihat mainan, seharusnya dirangsang dan diarahkan ke jalan benar.
Seperti contoh ketika anak melihat mainan bagus. “Mainannya bagus ya, Bu. Ya,
bagus, tapi nabung dulu ya, besok kalau sudah punya uang kita beli,” jelas Ida. Anak tidak boleh dirusak pragmatiknya oleh orang tua. Misalnya, mainan itu
jelek dan mudah patah, padahala anak sudah tahu kalau mainan itu memang bagus.

Reporter dan Editor: Ibda. Foto: Islamcendekia.com.

Baca juga artikel selanjutnya yang berkaitan dengan perkembangan bahasa anak: Wanita Cerewet Sangat Baik Bagi Perkembangan Bahasa Anak

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan