Formaci Jateng Gugat Kemdikbud Hapus Materi “Gaya Pacaran Sehat” di Buku Penjaskes

0

SEMARANG, Islamcendekia.com – Dewasa ini, ramai polemik
materi “gaya pacaran sehat” di buku mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan
Kesehatan (Penjaskes). Dianggap tak cocok diterapkan di sekolah, Komisi
Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun berharap buku tersebut dihapus.

Alasannya,
materi gaya pacaran sehat yang ada di buku Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
SMA/MA/SMK kelas XI semester 1 terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut
dinilai berbahaya jika diajarkan kepada siswa.

Asrorun Niam Sholeh Ketua KPAI berpendapat buku dengan
muatan “gaya pacaran sehat” tidak memiliki unsur pendidikan dan tidak ada
hubungannya dengan pendidikan.  Ketua
KPAI juga menjelaskan bahwa buku materi Penjaskes itu seharusnya fokus ke dalam
topik ajar yang sesuai. “Buku itu hadir untuk memenuhi kepentingan bahan
ajar dalam pendidikan. Secara sosiologis, topik tentang pacaran tidak
berkesuaian dengan hal jasmani dan kesehatan,” ujarnya tak lama ini.

Menanggapi hal itu, Forum Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah berharap
Kemdikbud segera menghapus materi tersebut. “Jika untuk mahasiswa sih bisa
dimaklumi, tapi untuk anak SMA sangat berbahaya,” tutur Hamidulloh Ibda
Direktur Utama Formaci Jateng.
Atas fenomena tersebut, Formaci Jateng gugat Kemdikbud hapus
materi “Gaya Pacaran Sehat” di buku Penjaskes
yang bisa membahayakan siswa.
“Kami menggugat Kemdikbud agar tidak meracuni pelajar Indonesia. Pendidikan itu
bisa menjadi alat menuju surga, namun jika salah, bisa jadi malah menuju neraka
pertama kali karena salah menanam konsep pada anak,” ujar Ibda selaku pemerhati
pendidikan Pascasarjana Unnes itu.
Hamidulloh Ibda yang juga penulis buku Stop Pacaran Ayo
Nikah menilai tidak ada pertimbangan dan landasan yuridis,
epistemologis dan edukatif yang dilakukan Kemdikbud. “Materi pengertian
pacaran sehat
sangat belum cocok diterapkan di SMA. Saya sepakat kalau
nilai-nilai itu diterapkan di kurikulum mahasiswa. Tapi, hal itu pun tidak
dalam suatu mata kuliah, melainkan hanya sisipan dalam suatu pembelajaran,”
katanya.
Ini adalah tanggung jawab Kemdikbud, lanjut Ibda, kami dari
Formaci Jateng menggugatnya agar ada perbaikan ke arah yang lebih baik. Pasalnya,
Ibda menilai bahwa saat ini pelajar kita miskin moral. “Sudah pelajarnya miskin
moral, malah digembosi dan diracuni Kemdikbud lewat materi ngawur di buku
tersebut,” ujar Dia. KPAI sudah mengritik dan meminta Kemdikbud untuk merevisi
buku itu, lanjut Ibda, maka Formaci Jateng gugat Kemdikbud hapus materi “Gaya
Pacaran Sehat” di buku Penjaskes tersebut.
Menyelipkan materi gaya pacaran sehat, menurut Ibda sama
saja memotivasi dan memerintah siswa untuk pacaran. “Yang namanya pacaran itu
sudah tidak sehat, apalagi dilakukan pelajar yang tugasnya belajar. Kalau untuk
suami istri ya sehat, tapi kalau diselipkan di buku ajar, itu namanya meracuni,”
jelasnya.
Senada dengan itu, Nailul Mukorobin, staf pengajar Psikologi
Agama Universitas Negeri Semarang mengatakan bahwa logika Kemdikbud menyelipkan
materi gaya pacaran sehat sangat ngawur. “Seharusnya Kemdikbud memberi materi
yang cerdas dan edukatif, seperti cara shalat sehat, cara berzikir sehat,
cara berpuasa sehat, bukan malah memerintah siswa untuk pacaran,” ujarnya
pada Islamcendekia.com, Selasa (14/10/2014).
Intinya, Nailul berharap agar Kemdikbud segara menghapus
materi ngawur tersebut. Materi seperti itu sangat sesat dan menyesatkan, tidak
substansial, fundamental dan sangat tidak perlu bagi siswa usia SMA. “Dalam
dunia psikologi sebenarnya sangat penting materi seperti ini, namun tidak untuk
anak usia SMA, karena cocoknya di jenjang perguruan tinggi,” pungkasnya.
Reporter dan Editor: Solihun. Foto:IC

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan