Guru Revolusioner itu Berasal dari PGSD

0
Guru Revolusioner itu Berasal dari PGSD
SEMARANG, Islamcendekia.com – Dalam rangka merumuskan dan
memantapkan konsep buku berjudul Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner, Forum
Muda Cendekia (Formaci) Jawa Tengah bekerja sama dengan Smarta School Semarang
menggela diskusi dan bedah sinopsi, Jumat (17/10/2014) di kantor Smarta School
Semarang. Diskusi tersebut dihadiri langsung oleh Hamidulloh Ibda dan Dian Marta Wijayanti selaku
penulis buku.
Menurut Ibda, guru revolusioner itu sebenarnya idiom baru
yang ia gagas lewat guru tersebut. “Selama ini sudah banyak idiom guru, seperti
guru ideal, profesional, guru idaman, guru unik, namun kami hanya mengusung
guru revolusioner,” ujarnya.
Guru revolusioner, lanjut Ibda, memiliki beberapa karakter,
tipe dan ciri. Dalam buku yang kami tulis itu, katanya, sudah ada beberapa
landasan epistemologis dan empiris mengapa guru harus revolusioner. “Dalam
sejarah, baik dunia maupun di Indonesia sudah ada contoh revolusi secara
mendasar dan menyeluruh. Seperti revolusi Perancis, Aufklarung, Renaissance,
Fatkhul Makkah, revolusi nasional Indonesia, gagasan pencerahan Ali Syariati
tentang Rausyanfikr dan sebagainya,” jelas Ibda.
Guru revolusioner ini bukan meniru Revolusi Mental Jokowi,
justru Jokowi lah yang menjiplak revolusi-revolusi di atas. “Kami bertesis
dalam buku yang belum cetak ini, bahwa guru revolusioner itu sebenarnya menjadi
kunci kemajuan pendidikan di Indonesia,” pungkas mahasiswa Pascasarjana
Universitas Negeri Semarang itu.
Senada dengan hal itu, Dian Marta Wijayanti menyatakan
sebenarnya guru revolusioner itu berasal dari PGSD. “Pendidikan dasar
itu kan kunci pendidikan menengah, atas dan tinggi. Jadi guru SD itu lah
sebenarnya yang memiliki peluang untuk menciptakan revolusi pendidikan dari
akar dan menyeluruh,” jelas guru SDN Sampangan 01 Kota Semarang itu.
Revolusi, lanjut Dian, menjadi jalan nyata untuk memajukan
pendidikan. “PGSD itu pabrik pencetak guru SD. maka, sebenarnya guru revolusioner
itu berasal dari PGSD,” ungkap asesor USAID Prioritas Jateng tersebut.
Selama ini, menurut Dian magnet mahasiswa kuliah di PGSD semakin banyak. Terbukti banyak lulusan SMA mendaftarkan diri di PGSD. “Hasil SNMPTN 2014 juga menempatkan PGSD pada prodi tertinggi dari prodi keguruan lainnya. Maka, di Bab I kami juga mengkaji masa depan PGSD dan lulusannya dalam menyambut era digital dan termasuk MEA,” ujarnya.
Sesuai rencana, buku yang akan diterbitkan Kalam Nusantara
tersebut akan dilaunching pada tanggal 25 November 2014 yang betepatan dengan
Hari Guru. “Kami sudah mendapat ISBN dari Perpustakaan Nasional. Buku kami
berjudul Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner ini mendapat ISBN 978-602-97319-9-6. Kami berharap
pada guru SD se Indonesia untuk berjuang memajukan pendidikan di negeri ini,”
harap Dian.
Menurut Dian,
buku tersebut berisi 3 bab. Untuk bab pertama, berisi tentang PGSD sebagai
embrio guru SD, bab kedua mengkaji guru SD revolusioner, bab ketiga mengkaji
guru digital, mencetak guru melek IT dan guru revolusioner sebagai inti
perubahan pendidikan. (IC/NM)

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan