PR Matematika Anak SD

0

Baru-baru ini, di media sosial ramai memperdebatkan tentang pekerjaan
rumah (PR) siswa SD kelas 2 di Semarang. PR Matematika itu tentang 4+4+4+4+4+4,
bila dinyatakan dalam perkalian, 6 x 4 atau 4 x 6? Banyak yang berpendapat secara
logika mengekspresikan 4+4+4+4+4+4 dalam perkalian menjadi 6 x 4 atau 4 x 6
sama saja, karena hasilnya sama. Sebagian menganggapnya sebagai kebebasan
bernalar dan ada juga menganggap guru “salah konsep”.
Awalnya, PR Matematika anak SD, yaitu milik Habibi, murid SD
kelas 2 di Semarang, ramai dibahas di media sosial setelah diunggah kakaknya ke
facebook. Dari 10 soal matematika, hanya dua yang betul. Erfas kakak Habibi
tidak terima dengan penilaian guru. Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Universitas
Diponegoro itu merasa yakin dengan jawaban soal yang ditulis adiknya, karena dia
membantu mengerjakannya.
Erfas mengajarkan Habibi jawaban 4+4+4+4+4+4 = 4 x 6 = 24. Ternyata
jawaban itu salah, versi guru yang benar adalah 4+4+4+4+4+4 = 6 x 4 = 24. Hasil
sama namun konsep beda. Atas kejadian itu, ramai di media massa dan muncul
beberapa pendapat yang menjadi kontroversi. Akar masalah sebenarnya ketika
kertas PR tersebut diunggah di media sosial dan akhirnya mengundang perhatian
banyak orang, hingga ramai di media massa.
Polemik
Banyak respon dari beberapa akademisi, ahli Matematika, guru dan
beberapa kalangan. Dosen Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB) Ahmad
Muchlis berkomentar soal polemik itu, antara siswa SD dengan mahasiswa yang mau
menjadi ahli Matematika pasti beda. Untuk mahasiswa, metodologi Matematika
menuntut persyaratan yang lebih ketat. Itu tentunya terlalu berat untuk anak
SD.
Soal 4+4+4+4+4+4 itu sama dengan 6×4 atau 4×6? Menurut Ahmad Muchlis bergantung
argumentasinya. Sepanjang bisa dipertanggungjawabkan, sesuai dengan levelnya, maka
sah-sah saja. Jika guru mengatakan 6×4 itu lebih banyak bersifat konvensi,
kesepakatan. Ada yang tidak sepakat? Silakan saja, tetapi beri argumentasi yang
baik (Merdeka.com, 23/9/2014). Pada intinya, pendapat dosen ITB ini menekankan yang
lebih penting untuk dapat ditangkap siswa SD daripada 4+4+4+4+4+4 itu 6×4 atau
4×6 adalah gagasan tentang mengapa 6×4=4×6.
Pendapat lain juga dilontarkan Thomas Djamaluddin profesor astrofisika
dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Menurutnya,
antara 4 x 6 dan 6 x 4 memang berbeda. Hasilnya sama, 24, tetapi logikanya
berbeda. Itu adalah model matematis yang kasusnya berbeda. Konsekuensinya bisa
berbeda juga (Kompas, 23/9/2014). Lewat kasus ini, Thomas mengajak semua kalangan
untuk memahami Matematika dengan logika, bukan menjadi generasi kalkulator yang
sekadar tahu hasil. Dengan kemampuan berlogika, suatu kasus bisa dimodelkan
dengan rumusan matematis sehingga mudah dipecahkan.
Akibat ramai dibicarakan, Kemdikbud ikut berpendapat dan meminta Dinas
Pendidikan setempat menegur guru yang bersangkutan. Kemdikbud menilai guru SD
itu membatasi penalaran anak-anak, karena kurikulum 2013 menganjurkan
penalaran.
Memaknai PR matematika anak SD
Kita bisa memaknai kejadian tersebut bergantung sudut pandang, angle
dan paradigma yang digunakan. Pasalnya, dalam dunia pendidikan, Abdullah
Munir (2009) menjelaskan metode lebih penting daripada materi yang bertele-tele
dan menjenuhkan. Apalagi, prinsip belajar anak SD adalah bermain sambil
belajar. Keduanya bagai dua keping mata uang. Prof. Dr. Rustono, MHum (2014)
mengharamkan guru SD yang melarang dan merampas hak anak untuk bermain.
Banyak orang menyepelakan guru SD, padahal tugas guru SD lebih berat daripada
SMP dan SMA karena mengampu kelas dan harus bisa mengusai semua mata pelajaran.
Lebih penting lagi, di dalam pendidikan harus mengutamakan pembangunan
karakter. Zainal Aqib (2012) menyatakan character building lebih utama
daripada transfer of knowledge.
Ada beberapa hal yang perlu dimaknai dan diluruskan. Pertama;
seharusnya siapa saja tak perlu mengunggah foto yang tak terlalu penting di
media sosial. Apalagi hal itu bermaksud menjelekkan orang yang menyangkut
profesi. Jika Erfas dinilai secara kualifikasi akademik, jelas berbeda antara
konsep Matematika dengan Teknik Mesin. Hal itu menjadi pelajaran bagi kita
bahwa “facebookmu” adalah “harimaumu”.
Kedua; prinsip belajar di SD adalah bermain sambil belajar. Prof. Dr.
Dandan Supratman, M.Pd (2014) menyatakan pendidikan dasar itu ihwal sentuhan
kalbu, penanaman pohon hati dan goresan kasih sayang. Artinya, pembelajaran di
SD tak sekadar transfer of knowledge namun yang lebih peting adalah
penanaman moral dan karakter. Itu lah yang menjadi cita-cita kurikulum 2013
pada substansi KI “religius”. Mengapa demikian? Saat ini banyak orang cerdas
tapi miskin karakter, hal itu harus diawali dari pendidikan dasar dengan
mengutamakan kecerdasan dan moral. Keduanya harus berjalan seimbang.
Ketiga; polemik PR Matematika SD itu secara konsep memang sama-sama
benarnya, yang salah adalah yang “berhenti belajar”. Kita tak bisa menghakimi
guru SD dan Erfas kakak Habibi. Keduanya menggunakan dasar dan berlandaskan
konsep. Erfas mengajarkan Habibi jawaban 4+4+4+4+4+4 = 4 x 6 = 24. Jawaban itu
salah versi guru yang benar adalah 4+4+4+4+4+4 = 6 x 4 = 24.
Dalam paradigma Matematika perlu ada kesepatakan. Versi guru sangat
simpel dan mudah diterima anak SD, sedangkan veris Erfas sangat tinggi dan
sulit jika diterapkan di SD. Untuk anak kelas 2 SD belum sampai pada konsep
tersebut. Meskipun secara logika pendapat Erfas bisa dibenarkan, namun bagi
anak SD belum sampai pada taraf tersebut.
Keempat; pemahaman kita harus diluruskan. Artinya, belajar Matematika
tak sekadar belajar angka-angka, statistik yang menjenuhkan, namun juga
berlogika dan mengambil pesan moral. Hal ini sangat rancu jika anak-anak SD
belajar di lembaga Bimbel yang rata-rata mentornya tidak mengajarkan substansi moral
dan tidak memahami “konsep kesepatakan” dalam Matematika.
Kelima; didik-mendidik adalah ihwal memanusiakan manusia. Hal itu tak
dapat tercapai jika tak ada perlakuan sentuhan hati yang kompak, konsisten dan
dipatri dengan keteladanan. Jadi, mengajar di SD bukan sekadar mengejar materi,
namun juga menyelipkan nilai moral, etika dan karakter.
Keenam; tragedi itu juga menjadi kritik bagi guru untuk memperbaiki
kualitas diri meskipun guru SD itu dibenarkan beberapa kalangan. Mengapa? Secara
konsep pembelarajan, konsep Matematika versi guru SD itu lebih “mudah” daripada
versi Erfas. Itu lah yang harus dipahami. Mengapa? Dasar yang paling penting
adalah memahani paradigma didik dan paradigma ajar. Guru dituntut mampu membuat
kelompok model, karakeristik siswa, membuat model baru, bukan sekadar
pengembangan, menjiplak dan sekadar mengutamakan materi.
Hal itu menjadi penting bagi guru SD, khusunya dalam mengajarkan
Matematika, karena berbasis tematik kecuali kelas 3 dan 6 SD. Mengapa demikian?
Pendidikan nilai terwujud bergantung pada kemahiran guru mengelola
pembelajaran, bukan pada banyaknya materi yang diserap siswa. Dasar belajar
bukan mencari ilmu dan meraup pengetahuan sebanyaknya, namun lebih pada “menata
cara berpikir” dan “mengubah perilaku”. Itu merupakah hakikat belajar, baik di
SD sampai perguruan tinggi.
Jadi, polemik PR Matematika SD itu hanya masalah simpel yang menjadi
refleksi kaum pendidikan. Tak perlu dibesar-besarkan dan harus menjadi motivasi
bagi semua kalangan untuk belajar lebih banyak lagi.

Oleh Dian Marta Wijayanti, S.Pd
Guru Kelas 2 SDN Sampangan 01 Kota Semarang,
Asesor Early Grade Reading Assessment USAID Prioritas Jawa Tengah

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan