Makna Syukuran Menurut Pandangan Islam

0

Oleh Hamidulloh
Ibda
Pengkaji Filologi

Waktu saya masih berstatus mahasiswa S1, di kalangan teman-teman akrab dengan
istilah “syukuran”. Tidak hanya dipakai di lingkungan kampus, namun
idiom syukuran juga sering digunakan aktivis mahasiswa, baik internal maupun
eksternal kampus.


Makna syukuran menurut pandangan Islam, menurut saya adalah ungkapan rasa syukur yang dilakukan dengan
ucapan maupun tindakan kepada Allah sebagai Tuhan yang maha memberi. Misalnya, alhamdulillah aku lolos seleksi beasiswa.
Alhamdulillah proposal skripsiku disetujui pembimbing dan sebagainya. Syukuran,
saat ini sudah menjadi budaya unik.

Hampir setiap kesuksesan mahasiswa digelar
syukuran. Misalnya, wah kamu lolos ujian skripsi, ayo makan-makan, syukuran
dengan teman-teman. Seolah-olah, syukuran hanya dimaknai dengan
“makan-makan”, entah secara sederhana di Kucingan, atau secara
besar-besaran di warung makan yang untuk kelas mahasiswa sangat menggoda.


Secara filologis, syukuran menjadi ekspresi kegembiraan. Tiap ada syukuran, ada
yang mendapak rezeki, entah berupa makanan, minuman atau pulsa.

Syukur itu tidak eman-eman
Syukuran, biasanya diagandekan dalam acara syukuran pernikahan, syukuran
aqiqah, syukuran wisuda, syukuran kemenangan Jokowi-JK dan sebagainya. Namun
jarang orang yang melakukan syukuran ketika tertimpa musibah.
Syukuran itu
hakikatnya adalah tidak eman-eman (pelit). Mana ada di dunia ini orang yang
bersyukur yang pelit? Kalau masih eman-eman, berarti dia belum bersyukur. Pelit
ketika syukuran adalah syukur yang masih dalam tahap latihan. Masih mending
daripada tidak pernah syukuran sama sekali.
Syukuran itu bisa
dilakukan dengan apa saja, termasuk lewat ucapan. Namun itu kurang mulia,
karena yang mulia itu diungkapkan dengan ucapan, perbuatan, sedekah dan spirit
berbuat baik lebih banyak lagi.
Syukuran dengan ikhlas
merupakan embrio rezeki berikutnya. Orang yang bersyukur merupakan orang yang
menggali lobang untuk menuju rezeki berikutnya. Jadi jangan eman-eman kalau
bersyukur.
Ada Musibah Juga
Bersyukur
Saya pernah ditraktir
makan, minum sampai dibelikan rokok dari teman yang saat itu sedang diputus
pacarnya. Setelah tak tanya, ia berkata “Meskipun sakit, tapi bersyukur bisa
menghibur diri. Apa pun saya syukuri, termasuk ketika dalam kondisi sedih”. Dalam
hati saya berpikir, hebat sekali temanku yang ini.
Memang benar,
rata-rata orang bersyukur ketika mendapatkan nikmat. Tapi sebenarnya tidak
demikian. Bersyukur itu wajib, dan dilakukan dalam kondisi apa saja, termasuk
tertimpa musibah. Maka jangan heran, dengan makam yang tinggi, orang sering
bilang “Alhamdulillah saya diberi nikmat sakit”.
Luar biasa. Memang musibah
itu ibarat tamparan bisa juga belaian. Dalam konteks syukur, nikmat dan musibah
tetaplah belaian Tuhan pada manusia. Tuhan tidak setega yang kita bayangkan. Jika
kita sendiri zalim, Tuhan juga memberi peluang maaf. Kasih sayang Tuhan kepada
kita lebih banyak dari murkanya. Jadi, jangan eman-eman bersyukur.
Saya menulis tulisan
ini karena mengekspresikan rasa syukur kepada Tuhan. Saya diberi akal, tangan,
jari dan kekuatan untuk menulis, maka saya menulis. Ini adalah fenomena menulis
yang bersyukur.
Syukuran embrio rezeki
Rezeki, merupakan
sesuatu yang abstrak. Maka orang menyebut rahasia kehidupan selain jodoh dan
kematian juga rezeki. Ia seperti bayangan. Dikejar menjauh. Tapi didiamkan
justru menghampiri.
Cak Nun (2013)
menjelaskan rezeki itu ada 3, rezeki transaksi, rezeki dari orang kepepet/butuh
dan rezeki dari orang bersyukur. Rezeki transaksi adalah rezeki tipe paling
bawah dan rendah. Anda kerja, 1 bulan digaji 1 juta, itu rezeki paling rendah. Mengapa?
Prinsip orang transaksi adalah mengeluarkan sedikit dan untung banyak.
Rezeki dari orang
kepepet maksudnya adalah ketika ada orang datang dan ingin membeli sesuatu yang
kita memiliki karena ia butuh sekali. “Saya mau beli berapa pun asal barang itu
bisa tak miliki, saya butuh sekali”. Demikian itu merupakan rezeki yang kurang
baik.
Rezeki selanjutnya
adalah dari orang bersyukur. Prinsipnya, tidak ada orang bersyukur yang
eman-eman. “Wis, pokoknya berapa pun tak beli, jangan ditolak ini karena saya
bersyukur”. Contohnya seperti itu. Tapi praktik lain, banyak orang bersyukur
memberi kita uang atau sesuatu lebih dari yang kita sangka. Islam menyebutnya “min
khaisu la yahtasib”. Jadi, apakah Anda
masih eman-eman dalam bersyukur?

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan