Barongan Blora sebagai Media Kesehatan dan Sumber Penghasilan

0

Oleh Indra
Bagus Kurniawan
Siswa SMA Negeri 1 Blora, Jawa Tengah
Banyak peran dan manfaat budaya Indonesia yang bisa digunakan sebagai media
kesehatan dan sumber penghasilan, salah satunya Barongan Blora, Jawa Tengah. Kekayaan
budaya Indonesia yang melimpah, harus dimanfaatkan dengan sebaiknya.

Alo
Liliweri (2003:8) menyatakan Indonesia merupakan negara yang kaya akan suku,
bahasa dan kebudayaannya. Setiap wilayah Indonesia memiliki suku, bahasa dan
kebudayaan berbeda. Tidak hanya wilayah lintas pulau, bahkan wilayah yang
berdekatan juga memiliki perbedaan-perbedaan kebudayaan yang mencerminkan
keunikan tiap-tiap daerah tersebut.

Kebudayaan
merupakan pandangan hidup dari sekelompok orang dalam bentuk perilaku,
kepercayaan, nilai dan simbol-simbol yang mereka terima tanpa sadar atau tanpa
dipikirkan. Semuanya diwariskan
melalui proses komunikasi dan peniruan dari satu generasi kepada generasi
berikutnya.

Kekayaan
Kebudayaan juga dimiliki Blora. Salah satu kebudayaan yang termashur di Blora
adalah Barongan Blora. Barongan merupakan tarian topeng besar yang
menggambarkan binatang berkaki empat (Soedarsono, 2002:17-18). Pada awalnya Barong
merupakan bentuk tarian ritual terkait dengan kepercayaan totemisme (kepercayaan terhadap
binatang berkaki empat yang memiliki kekuatan melindungi).

Di Bali maupun di Jawa
pertunjukan yang terkait dengan totemisme dikenal dengan Sanghiang Jarang di
Bali dan di Jawa dikenal dengan Jarang Kepang. Genre tari Barong di Jawa biasanya
diikuti dengan Jaran Kepang. Di Blora tari Barong tidak terkait dengan Jaran
Kepang penampilannya hanya berdampingan dengan Gedruwon seorang tokoh bertopeng hitam berwajah
menyeramkan bertaring dan selalu membawa pedang atau pecut. Penampilan ini yang
menjadikan Barongan di Blora sebuah seni pertunjukan khas Blora.

Penampilan Barongan
di Blora tidak menyertakan Warok dan bentuk tokoh Singa Barong tidak berwujud
Dadak Merak seperti di Ponorogo,
melainkan berbentuk topeng Macan berkaki empat. Perwujudan ini
sangat mempengaruhi gerak tari, sehingga Barongan di Blora pada awalnya hanya dipakai dalam
arak-arakan bila ada dalam pertunjukan Barong dengan tarian Barong dinamakan
Kucingan ditarikan satu orang yang menggambarkan gerak-gerik seekor kucing.
Tarian Kucingan ini yang menjadi ide dasar penggarapan Barongan saat ini.
Barongan di
Blora saat ini tidak hanya ditarikan dalam arak-arakan melainkan berkembang
menjadi tarian panggung. Penggarapan gerak pun terjadi pada pertunjukan
Barong panggung. Barongan di Blora tampil beragam karena dipengaruhi faktor “tanggapan” Barongan. Persaingan Barongan
pada grup-grup Barongan menjadikan ajang kreativitas senimannya. Jumlah
Barongan Blora saat ini mencapai 1449 grup.

Barongan telah mengakar di hati
masyarakat,
mulai dari pertunjukan ritual sampai pada tontonan. Barongan di Blora pada
awalnya hanya ada dua tokoh yaitu Barongan dan Gendruwon (Soedarsono, 2002:58). Namun saat ini
Barongan Blora telah ditambah Untub Nayantaka, Gainah, Bujang Ganong, Jaranan
dan kadang ada beberapa group menambah Reog Ponorogo.

Pertunjukan
Barongan pada saat ini telah memiliki perubahan. Pada awalnya Barongan hanya
berupa arak-arakan yang musik iringannya hanya terdiri dari Bonang barung bernada 5 (limo),
6 (nem), kethuk, kempul bernada
6 (nem) dan kendang. Perkembangan
selanjutnya Barongan berbentuk tarian kelompok yang menirukan keperkasaan
seekor singa yang garang.

Dalam pentas Barongan, tokoh Singa Barong sangat
dominan bahkan terkadang menjadi ikon suatu grup barongan, di samping ada
beberapa tokoh yang tidak dapat dipisahkan, yaitu Bujangganong, Jaka Lodra/Gendruwon,
Pasukan Berkuda, Gainah, Nayantaka
dan Utub. Selain tokoh tersebut pementasan kesenian Barongan juga dilengkapi beberapa perlengkapan, antara lain: kendang, gedhug, bonang barung, saron, demung,
gong, dan kempul.

Seiring dengan perkembangan jaman ada beberapa penambahan
instrumen modern, berupa drum, terompet, kendang besar, dan keyboards. Adakalanya dalam beberapa pementasan
sering dipadukan dengan kesenian Campur Sari (Slamet,
2003:49). Jika zaman dulu
pentas Barongan diadakan lesehan, saat ini banyak pentas Barongan diadakan di
panggung yang megah atau panggung Kethoprak dengan perpaduan lampu dan dekorasi
yang menarik.

Barongan di
Blora merupakan bentuk seni pertunjukan yang sangat digemari  masyarakat Blora, bahkan kehadirannya dari tahun ke tahun
berkembang pesat. Dari sudut pandang penonton, Barongan Blora merupakan
tontonan murah, merakyat, sekaligus menghibur sehingga minat untuk menyaksikan
pentas Blora relatif tinggi.

Hal ini dapat dibuktikan dengan datangnya ribuan
penonton,
baik yang kaya atau miskin, orang desa maupun kota, atau pun pejabat
dan tidak pejabat berbondong-bondong melihat acara festival Barong Nusantara
pada tanggal 1 November 2014. Walaupun panas matahari menyengat dan harus berdesak-desakan, tidak mengurangi
semangat mereka menyaksikan Barongan Blora.

Dari sudut pandang pemain Barongan
Blora, kesenian ini menjadi ladang menjalankan hobi menari atau menabuh
gamelan. Selain itu, saat ini Barongan Blora menjadi media untuk berolahraga
maupun untuk mencari uang guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Barongan Blora Sebagai Media Kesehatan
Di dalam
kesenian Barongan Blora, terdapat tokoh Singa Barong, Bujang Ganong, Gendruwon/Jaka
Lodra, Untub Nayantaka, Gainah dan Jaranan. 
Khusus  beberapa  tokoh yang ada dalam pementasan Barongan
Blora tidak bisa dimainkan sembarang orang. Mengapa? Karena harus memiliki bakat khusus dalam menari, penjiwaan terhadap
tokoh yang ditarian dan juga pengalaman yang cukup dalam mementaskannya.

Dalam memainkan musi
pengiring Barongan juga harus dilakukan orang-orang yang mahir memainkan musik
gamelan. Dengan mementaskan Barongan Blora, para pemain tidak hanya merasa
senang tetapi juga akan menambah kesehatan karena gerakan yang dilakukan dalam
pentas Barongan Blora. Hal itu sama seperti berolahraga, khususnya bagi yang memainkan Singa Barong, Bujangganong, Jaranan
dan pemain musik pengiring Barongan. 

Tokoh paling
sentral dalam pementasan Barongan Blora adalah Singa Barong. Tokoh ini terbuat
dari kayu dadap yang diukir menyerupai kepala macan, kemudian agar lebih mirip
dengan macan ditempeli kulit kambing yang diwarnai dengan tinta agar lebih
menyerupai kepala macan dan diberi rambut menggunakan pelepah aren atau yang
biasa disebut dengan “duk”.

Untuk menambah keindahan, kepala Singa barong seringkali ditambah
mahkota maupun diberi tambahan rambut dari ekor kuda. Bagian dalam dari kepala Singa
Barong ini terdapat kayu melintang berfungsi memudahkan penari Barongan ketika
mengunakannya. Kayu tersebut nantinya digigit penari Singa Barong. Selain itu
terdapat pula kayu pegangan di bagian atas kanan dan kiri bawah.

Pegangan ini
digunakan ketika penari Barongan menari tanpa menggigit kayu yang terdapat pada
kepala Singa Barong tadi. Penari dapat melihat luar melalui celah-celah mulut Singa
Barong. Agar lebih nampak seperti macan, ditambah kain yang dilukis kulit macan
sekaligus untuk menutupi penari Singa Barong. 

Ketika menarikan
Singa Barong, kekuatan utama diletakkan pada otot leher. Harus ada pemanasan
dahulu sebelum menarikan Singa Barong karena beratnya bisa 6-9 kilogram. Dalam
gerakan kucingan, penari meletakkan kedua telapak tangan di lantai sedangkan
kaki belakang ditekuk sehingga menyerupai gerakan macan. Dalam gerakan
kucingan, kekuatan utama bertumpu pada otot leher, otot tangan dan otot
pinggang.

Apalagi terkadang penari harus melompat-lompat seperti macan. Beratnya beban
kepala Singa Barong harus ditahan dengan otot leher. Berat ini bisa bertambah
ketika penari harus menggerak-gerakkan kepala Singa Barong sesuai dengan irama
musik khususnya gendang. Dengan menarikan Singa Barong, membuat seseorang
seperti melakukan fitnes khusunya untuk lebih menguatkan otot leher dan
pinggang.

Hal ini dapat dibuktikan dengan kerasnya otot leher dan pinggang penari
yang telah terbiasa membawakan tarian Singa Barong. Dengan menarikan Singa
Barong, membuat penari tidak hanya menjiwai gerakan macan tetapi juga dapat
menyehatkan tubuh khususnya menguatkan otot tubuh.

Tokoh yang tidak
kalah penting dalam pementasan Barongan Blora adalah Pujangga Anom atau biasa
disebut Bujangganong. Bujangganong berbentuk topeng yang terbuat dari kayu
diukir kemudian dicat berwarna merah dengan hidung memanjang. Rambut dari
topeng ini berasal dari ekor sapi maupun ekor kuda atau biasa disebut gubat.
Pada bagian belakang, diberi kain yang berfungsi untuk menutupi kepala sang
penari ketika mementaskan tari Bujangganong. Pada bagian dalam, terdapat kayu
melintang yang berfungsi sebagai gigitan ketika penari mementaskan tari
Bujangganong. 
Tidak sembarang
orang bisa menarikan Bujangganong. Harus ada latihan yang cukup karena tarian
ini memadukan gerakan tari, kelincahan dan keseimbangan. Dalam tarian ini, yang
paling penting adalah penari harus menguasai gerakan senam lantai seperti
salto, headstand, handstand, kayang dan lain-lain. Dalam pementasannya,
gerakan yang dibawakan adalah tarian yang diselingi dengan gerakan-gerakan senam lantai.

Pada perkembangannya, tarian ini biasanya ditambah guyonan-guyonan yang
dibawakan penari melalui gerakan-gerakan jenaka. Penari Bujangganong harus
memiliki perbendaharaan gerakan yang cukup banyak agar gerakan yang ditarikan
tidak monoton. Dengan menarikan Bujangganong, membuat otot semakin kuat, makin
lincah dan menambah keseimbangan seseorang. Dengan begitu, penari akan makin
sehat karena gerakan yang ditampilkan seperti gerakan senam lantai. Akan tetapi, penari juga harus
hati-hati agar tidak terkena cidera setelah menampilkan tarian Bujangganong.

Dalam pementasan
Barongan Blora, tokoh yang tidak kalah penting dan memiliki daya tarik bagi
penonton juga adalah jaranan, yaitu gerakan tarian di mana penarinya membawa
kuda kepang yang telah digambar bentuk kuda atau biasa disebut kuda lumping.
Dahulu, jaranan pada pementasan Barongan Blora umumnya hanya dimainkan dua
orang dan
ditemani seorang yang menarikan Gendruwon.

Namun saat ini telah banya
dimodifikasi dengan menampilkan banyak orang khususnya perempuan muda yang
menarikan tarian ini. Jaranan pada pementasan Barongan Blora jika dilihat
sepintas hampir sama dengan gerakan jathilan. Jika cermati, gerakan jaranan pada pementasan
Barongan Blora lebih atraktif, lincah dan yang paling khas adalah biasanya
diiringi tembang “Orek-orek” yang merupakan lagu khas Blora.

Guna menarikan
tarian Bujangganong, harus memiliki bakat menari dengan gerakan yang lincah
luwes dan berwibawa. Berbeda dengan gerakan Singa Barong dan Bujangganong yang
bersifat spontanitas, gerakan jaranan pada pementasan Barongan Blora bersifat
hafalan guna menciptakan kekompakan antar sesama penari.

Dengan demikian, perlu ada latihan yang
mendalam agar menghasilkan gerakan jaranan yang kompak dan indah. Dalam gerakan
jaranan yang dipentaskan dalam Barongan Blora, banyak ditampilkan gerakan
jingkrak-jingkrak (melompat-melompat) dan gerakan tarian lincah. Dengan
mementaskan tarian ini, penari seperti melakukan gerakan badan khususnya kaki
dan tangan seperti halnya olahraga yang akan menghasilkan keringat, sehingga akan lebih
menyehatkan badan penarinya. 

Tokoh dalam
pementasan Barongan Blora selain Singa Barong, Bujangganong dan Jarana adalah
Gendruwon, Untub Nayantaka, dan Gainah. Topeng Gendruwon terbuat dari kayu yang
dipahat menyerupai seorang raksasa bertaring, memiliki hidung besar, mata
besar, dan umumnya berwarna hitam. Untuk menambah unsur menyeramkan, ditambah
rambut yang terbuat dari pelepah aren berwarna hitam atau biasa disebut “duk”. Gerakan tarian
Gendruwon mencerminkan seorang raksasa gagah, galak dan menyeramkan. Tarian ini
dibawakan secara individu atau kadang digabungkan dengan tari jaranan. Biasanya
penari akan membawa pedang yang terbuat dari kayu atau pecut saat menarikan
tarian ini. 
Sementara itu,
Gainah dan Untub Nayantaka berbentuk topeng dipahat menjadi sosok lucu, humoris
dan buruk rupa. Gainah merupakan tokoh perempuan tua sedangkan Untub Nayantaka
merupakan sosok laki-laki tua berwajah lucu. Gainah biasa ditarikan orang
laki-laki walaupun sosok Gainah sendiri sebenarnya seorang perempuan. Gainah
dan Untub Nayantaka biasanya ditarikan secara bersamaan dengan diiringi gendhing-gendhing
(lagu-lagu) jawa ataupun campursari.

Dengan menarikan Gendruwon, Gainah dan
Untub Nayantaka membuat penari mengolah badan melalui gerakan-gerakan yang
ditarikan sehingga menghasilkan keringat sekaligus sebagai media olahraga. Dari
uraian tersebut, Barongan Blora sangat bermanfaat untuk menyehatkan badan. Secara kualitatif, jika Barongan Blora dimainkan
dengan penuh kesadaran rohani, hal itu juga menjadi wahana mengolah jiwa dan
rasa, tidak sekadar fisik. Dalam konteks ini, yang paling terlihat tampak
adalah dengan memainkan Barongan, badan menjadi sehat dan kuat.

Barongan Blora Sebagai Sumber Penghasilan
Bagi kalangan tertentu, khususnya penjual asesoris barongan, bisnis ini
sangat menghasilkan uang. Mengapa? Peralatan yang digunakan dalam pementasan
Barongan Blora dibuat pengrajin asli Blora. Pengrajin itu biasanya membuat
kepala Singa Barong, maupun topeng-topeng berdasarkan adanya pesanan dari toko
maupun konsumen. Biasanya para konsumen langsung datang ke rumah pengrajin
untuk memesan sesuai ukuran maupun bentuk yang dikehendaki  konsumen.
Selain itu, banyak juga pengrajin yang memasarkan asesoris itu di beberapa
toko. Bahan dasar kepala Singa Barong dan topeng-topeng yang ada dalam Barongan
Blora biasanya terbuat dari kayu dadap karena teksturnya empuk, sehingga mudah
dipahat tetapi bersifat tidak gampang pecah. Para
pengrajin peralatan Barongan Blora memiliki keahlian khusus dalam hal memahat,
mengukir, melukis dan memasang rambut. Waktu pembuatan Singa Barong bisa hampir
satu bulan, tetapi untuk topeng-topeng tidak kurang dari seminggu sesuai dengan
banyaknya pesanan. 
Para pengrajin
peralatan Barongan Blora sangat menggantungkan hidupnya pada usaha ini. Dengan
modal sekitar 400 ribu rupiah, sebuah kepala Singa Barong dapat dijual dengan
harga 1 juta sampai 1,5 juta rupiah. Harga tersebut tidak terlalu tinggi, jika kita memperhatikan rumitnya proses pembuatan peralatan
Barongan Blora khususnya kepala Singa Barong. Hasil dari keuntungan tersebut
mereka gunakan untuk modal membeli kayu, cat, kulit binatan, duk, maupun
peralatan lainnya. Pesanan pembuatan Barongan Blora tidak dapat dipastikan. Kadang
banyak pesanan, tetapi tidak jarang juga sepi pesanan. Dengan keuntungan hasil
penjualan peralatan Barongan Blora membuat para pengrajin dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya.
Barongan Blora
masih menjadi idola guna meramaikan beberapa acara seperti pernikahan, sunatan,
maupun pesta rakyat di Blora. Guna dapat mendatangkan sebuah grup Barongan
untuk pentas, biasanya harus merogoh kocek sekitar 2 hingga 6 juta rupiah
tergantung kualitas grup Barongan yang diundang, maupun terkenal atau tidaknya
grup tersebut.
Semakin mahal harga grup Barongan,
maka mereka
menampilkan pementasan yang semakin baik dan dengan jumlah penari yang lebih
banyak pula.

Uang tersebut nantinya akan dibagikan sebagai honor kepada para
penari maupun penabuh gamelan yang biasanya total anggota grup Barongan sekitar
25 hingga 35 orang. Sisa dari pembagian honor tersebut biasanya digunakan
sebagai kas suatu grup Barongan. Dengan menjadi seniman Barongan Blora, tidak
hanya dapat menyalurkan hobi dan menyehatkan badan, tetapi dapat juga sebagai
ladang memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam pementasan
Barongan Blora tidak hanya melibatkan para penari dan penabuh gamelan, tetapi
juga melibatkan banyak pihak. Dalam pementasan Barongan Blora biasanya
menggunakan  panggung megah dan sound
system
untuk mengeraskan suara. Panggung dan sound system itu biasanya tidak milik grup Barongan itu sendiri tetapi berasal
dari penyewaan panggung dan sound system.

Dengan adanya pementasan Barongan Blora, seorang
yang menggeluti usaha penyewaan panggung dan sound system akan
memperoleh penghasilan yang berasal dari uang sewa panggung. Para pekerja yang tugasnya memasang dan menyetel panggung dan sound
system
untuk pentas juga memperoleh honor dari hasil kerjanya. Dari uraian tersebut, Barongan
Blora tidak hanya sebuah kebudayaan Blora yang patut dilestarikan, tetapi juga
sebuah media yang dapat digunakan untuk mencari penghasilan.

Banyak potensi dan nilai ekonomi, kesehatan dan budaya yang bisa
dikembangkan secara konsisten dalam rangka meningkatkan kualitas hidup.
Artinya, Barongan Blora seharusnya dikembangkan dalam konteks memacu
perekonomian pengrajinnya, toko-toko dan penjual asesoris Barongan sebagai
wahana mengembangkan ekonomi lokal. Selain laba di budaya, hal itu juga laba di
bidang ekonomi.
Imbauan
Barongan Blora menjadi salah satu budaya yang harus dilestarikan. Barongan telah menjadi ikon Blora bahkan mendapatkan sambutan yang
sangat baik di kalangan masyarakat tanpa membedakan status ekonomi, jabatan,
maupun usia. Barongan Blora telah berkembang menjadi tontonan murah meriah
tetapi tetap menghibur bagi sebagian kalangan masyarakat Blora. Fungsi Barongan
Blora tidak hanya sebagai penghibur, kesenian rakyat ini juga memiliki manfaat
positif dalam kesehatan bagi para penarinya dan juga dapat sebagai sumber
mencari nafkah.
Jika kita cermati, gerakan Singa Barong, Bujangganong, Jaranan,
Gendruwon, Untub Nayantaka, maupun Gainah telah mencerminkan gerakan-gerakan
atraktif, mengolah tubuh, dan banyak memperkuat otot bagi para penarinya. Apabila seorang
banyak mempraktikkan gerakan dalam Barongan Blora terutama gerakan Singa Barong
dan Bujangganong akan merasa seperti berolahraga yang dapat menghasilkan banyak
keringat atau bahkan seperti sedang melakukan fitnes.
Pementasan
Barongan Blora banyak dinantikan tidak hanya para penonton, tetapi juga para pemain
dalam pementasan Barongan Blora. Hal ini terjadi karena dengan mementaskan tari
Barongan Blora, mereka memperoleh penghasilan dari honor yang mereka peroleh
setelah mementaskannya. Banyak pihak yang diuntungkan dari pementasan Barongan Blora, antara
lain pembuat perlengkapan Barongan Blora, penyewaan panggung, penyewaan sound
system
atau juga pemilik suatu grup Barongan Blora. Barongan Blora menjadi
sebuah media yang dapat digunakan untuk mencari penghasilan. Oleh karena itu, mari kita lestarikan Barongan
Blora yang penuh manfaat. Jika tidak
sekarang, kapan lagi?
Esai berjudul Barongan Blora sebagai Media Kesehatan dan Sumber
Penghasilan
ini disusun untuk lomba di Universitas Gajah Mada. Mau tahu
tentang Barongan Blora lebih detail, baca juga Membumikan Blora Kota Barongan.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan