Buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner Resmi Dirillis

0
Semarang, Islamcendekia.com – Buku Siapkah Saya Menjadi
Guru SD Revolusioner
resmi dirillis. Buku yang ditulis Hamidulloh Ibda dan Dian Marta Wijayanti tersebut
dirillis dan dibedah pada Hari Guru Nasional, Selasa (25/11/2014). Bedah Buku
Siapkah Saya Menjadi Guru Revolusioner
ini diselenggarakan Forum Muda
Cendekia (Formaci) Jawa Tengah, Jalan Karonsih Timur, Ngaliyan, Semarang.
Hamidulloh Ibda selaku penulis buku mengatakan buku tersebut
hadir atas kegalauan yang selama ini terjadi. “Saya galau memikirkan kondisi
pendidikan di Indonesia, terutama gurunya. Dalam berbagai penelitian, poros
utama kemajuan pendidikan ternyata ada di kualitas SDM dan gurunya. Entah
kementerian, kurikulum, sistem dan pola pendidikan seperti apa saja, yang
penting gurunya revolusioner, pendidikan pasti maju,” jelasnya.
Mengapa harus guru revolusioner? Kok tidak guru pendobrak,
ideal, guru idaman, guru pencerah, lanjut Ibda, karena revolusioner lah yang
bisa melakukan perubahan mendasar dan menyeluruh. “Guru SD kan peletak dasar
intelektual, moral, bahasa dan peletak semuanya. Jika gurunya tidak
revolusioner, maka untuk ke jenjangan berikutnya, di SMP, SMA dan perguruan
tinggi akan tidak inheren,” ujar Direktur Utama Formaci Jateng itu.
Dian Marta Wijayanti juga hadir dalam diskusi tersebut.
“Saya menulis buku ini berdua dengan Hamidulloh Ibda. Saya sebagai praktisi,
kapasitas Ibda sebagai pemerhati, ilmuwan dan pemerhati,” tuturnya. “Menjadi guru
SD sebenarnya sangat berat. Pada pelaksanaan kurikulum 2013, misalnya, guru
lebih disibukkan dengan administrasi. Bayangkan saja, tiap 1 kelas ada 8 tema,
tiap tema ada beberapa sub tema, dan dari sub tema itu ada beberapa
pembelajaran,” ujarnya.
Jika tidak memiliki jiwa revolusioner, kata Dian, guru hanya
akan menjadi tukang ketika dan nulis RPP. “Tugas guru memang mendidik. Tapi
jika sekadar mendidik, semua orang tentu bisa. Maka, diharapkan ia harus
memiliki jiwa revolusioner dengan melakukan perubahan sekuat tenaga. Ia wajib
meneliti, menulis, mendesain pembelajaran revolusioner. Guru menjadi pioner
kemajuan pendidikan,” tandas lulusan terbaik PGSD Unnes itu.
Rilllis buku tersebut bertepatan dengan Hari Guru Nasional
25 November 2014. “Hari ini bertepatan Hari Guru Nasional, kami memberi hadiah
berupa buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner? Yang sebelumnya pada
2013 sudah kami siapkan, kaji, konsep dan tulis,” paparnya. (IC/Hasyim/foto:Formaci Press).

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan