Mewaspadai Kekerasan di Sekolah

0

Oleh Dian Marta Wijayanti, SPd
Guru SDN Sampangan 01 Kota Semarang,
Penulis Buku “Siapkah Saya Menjadi Guru SD
Revolusioner?”
Belum lama ini dunia pendidikan digemparkan dengan
beredarnya video kekerasan oleh anak SD di daerah Bukittinggi. Kekerasan
tersebut memberi pesan kepada semua orang agar waspada dalam segala hal. Video
berdurasi 1 menit 52 detik tersebut sangat mencoreng wajah sekolah sebagai
tempat mengenyam pendidikan formal. Lalu, yang salah siapa? Bagaimana
solusinya?

Dalam video itu secara bergantian beberapa anak
menganiaya temannya di dalam kelas. Jika beberapa bulan lalu, kasus kekerasan
seksual pelakunya adalah guru. Saat ini justru “siswa” yang menjadi pelaku
kekerasan pada temannya sendiri. Hal ini sangat tidak sesuai dengan tujuan
kurikulum 2013 yang menempatkan afektif siswa sebagai poin utama dalam
penilaian. Sangat terlihat siswa tidak memiliki sikap spiritual dan sosial yang
patut dilakukan oleh pelajar usia SD.

Pertanyaannya, di mana tanggung jawab guru kelas?
Pembelajaran di SD menempatkan guru sebagai penanggungjawab kejadian yang
terjadi di dalam kelas. Setidaknya, guru tidak diperbolehkan meninggalkan kelas
dalam waktu lama tanpa melimpahkan ke guru piket yang mampu mengondisikan
kelas. Jika hal yang demikian terjadi di dalam kelas, apakah guru siap
bertanggungjawab? Sementara orang tua telah mengamanahkan kepada sekolah dan
guru sebagai orang tua kedua ketika siswa berada di sekolah.
Kejahatan Anak
Penelitian kriminalitas remaja di Inggris oleh Wilson,
dkk (2007) menemukan pelaku kejahatan anak banyak yang berasal dari keluarga
tidak harmonis. Selain itu, kejahatan juga disebabkan anak-anak dari latar
belakang sosial ekonomi rendah, akses senjata tanpa pengawasan, anak-anak yang
pernah mengalami kekerasan dan pengabaian, serta anak yang menggunakan atau
menyalahgunakan zat adiksi terlarang.
Anak melakukan kekerasan berdasarkan hasil mengamati.
Keluarga yang kasar dapat menjadi pemicu terbentuknya “watak kasar”. Kekerasan
Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang hampir setiap hari diamati anak secara berlanjut
juga dapat mendorong siswa untuk melakukan hal sama di luar rumah. Sehingga
bukan tidak mungkin siswa melakukan kekerasan di sekolah. 
Secara psikologis, siswa yang melakukan kekerasan di
sekolah berada pada posisi ketidakstabilan mental. Mereka belum tahu yang
dilakukannya benar atau salah. Seperti halnya ketika anak mengerjakan soal “Apakah
bertengkar merupakan kegiatan terpuji?” Anak bisa menjawab “Tidak”. Namun dalam
kehidupan sehari-hari siswa masih saja bertengkar dengan temannya di sekolah. 
Hal itu yang harus diperhatikan guru sebagai orang tua
di sekolah. Anak perlu pendampingan intens, sehingga anak terbiasa berperilaku
baik dan akan mendapat teguran ketika melakukan penyimpangan. Subyantoro (2011)
menjelaskan anak yang sering bertengkar adalah mereka yang kurang kasih sayang
dari orang tua. Maka tugas guru sebagai orang tua ideologis harus mampu
menggantikan peran orang tua ketika di sekolah.
Waspada!
Kekerasan di sekolah harus diwaspadai dan dicari
solusinya. Tidak hanya kewaspadaan anak sebagai korban, tapi juga pelaku. Meskipun
hanya sedikit kuantitas pelaku kejahatan anak di sekolah, namun hal itu harus
menjadi perhatian ketika kejahatan terjadi di sekolah. Mengapa? Sekolah
seharusnya menjadi tempat tumbuhnya karakter bukan kasus-kasus kriminal.
Perlindungan anak di lingkungan sekolah adalah
tanggungjawab kepala sekolah, guru dan karyawan. Berbeda saat di luar jam
sekolah, anak menjadi tanggung jawab orang tua. Upaya melindungi tidak hanya
berupa menjauhkan anak dari hal-hal berbahaya, namun juga menempatkan anak pada
karakter yang “dilindungi” dan “melindungi” sesama. Pembentukan karakter saling
menyayangi di antara teman sangat penting untuk diwujudkan. Dengan terciptanya
sikap sopan-santun dan toleransi tentu anak-anak akan terhindar dari
penyimpangan yang berbau kekerasan fisik.
Lalu, bagaimana cara menerapkannya? Sementara dapat
kita ketahui bahwa anak-anak saat ini sangat jauh berbeda dengan perkembangan anak
zaman dulu. Globalisasi telah membawa mereka mengetahui banyak hal di luar usia
normal mereka. Dengan kata lain, ada fenomena “dewasa dini” yang menjangkit
anak-anak SD saat ini.
Ada beberapa solusi yang bisa dilakukan. Pertama,
kepekaan, kepedulian dan intensitas pengawasan guru. Guru harus peka terhadap
karakter masing-masing siswa yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam struktur
jenjang kelas, tentu sekolah telah memilih guru sebagai “wali kelas”. Salah
satu tugas utama wali kelas adalah senantiasa mengontrol perkembangan siswa
baik akademik maupun nonakademik. Segera memberikan tindakan bagi siswa
bermasalah sangat penting dilakukan guru. Masalah yang dibiarkan berlarut akan
membuat anak tetap merasa pada “zona nyaman”sehingga ia tidak akan merasa ada
masalah pada dirinya. 
Kedua, menanamkan karakter cinta, santun dan kasih
sayang pada anak. Seto Mulyadi (2006) menyatakan anak adalah anak, ia bukan
manusia dewasa mini. Artinya, dunia anak-anak bukan seperti orang dewasa yang
bisa berpikir luas. Dunia anak adalah dunia bermain dan belajar. Maka guru
harus mampu membuat anak menikmati dunianya agar tidak terjadi kekerasan.
Ketiga, komunikasi inten antara guru dan orang tua.
Pendidikan akan menjadi pincang jika guru berjalan sendiri. Guru perlu
melakukan komunikasi terhadap orang tua atas perkembangan siswa. Tidak hanya
untuk hal-hal negatif, hal positif juga perlu dikomunikasikan agar potensi
siswa dapat terus berkembang. Siswa yang terus-menerus mendapat sorotan “nakal”
oleh guru dan teman-temannya akan merasa berkecil hati. Ia akan merasa tak
memiliki potensi dan kemampuan positif yang mampu mendukung dirinya dalam
mencapai cita-cita di masa depan.
Keempat, peran guru BK harus dioptimalkan, khususnya
di tingkat SD. Pasalnya, selama ini untuk SD Negeri rata-rata tidak memiliki
guru BK. Padahal peran dan pendidikan kasih sayang bisa didapat dari guru BK.
Kelima, semua warga sekolah harus waspada dan menciptakan atmosfer cinta yang
menjadi tempat mendapatkan kasih sayang.

Sekolah adalah tempat suci untuk
menuntut ilmu. Sedikit kecerobohan yang dilakukan sekolah, maka akan  rusak pula kehidupan yang di dalamnya. Sudah
saatnya sekolah menjadi surga dan tempat menyenangkan bagi anak. Yang jelas, mewaspadai kekerasan di sekolah
menjadi tugas bersama!

Mau tahu, penjelasan tentang  Analisis
Perlindungan HAM dalam Ketentuan Pidana Anak di Berbagai Perundang-Undangan di
Indonesia, baca juga Analisis Perlindungan HAM dalam Ketentuan Pidana Anak di Berbagai Perundang-Undangan di Indonesia.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan