Sinopsis Buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner?

0
Setelah menulis buku Demokrasi Setengah Hati (Kalam Nusantara, 2013) dan Stop Pacaran Ayo Nikah (Lintang Rasi Aksara Books, 2014), kini Hamidulloh Ibda bersama Dian Marta Wijayanti menulis buku berjudul Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner?
Mau tahu sinopsisnya seperti apa? Baca saja Sinopsis Buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner?
Judul :
Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner?
Penulis :
Hamidulloh Ibda dan Dian Marta Wijayanti
Tebal : xi + 156
Halaman
Penerbit : Kalam
Nusantara, Depok
Cetakan: Pertama, November
2014
ISBN : 978-602-97319-9-6
Harga: Rp 25.000 (berhadiah 1 pena cantik)
Ibarat pacaran, menjadi guru perlu nekat. Ya, nekat untuk menjadi guru
berkualitas, cerdas dan revolusioner. Jika sekadar menjadi guru, semua orang
bisa dikatakan bisa. Namun yang paling utama adalah bagaimana cara meningkatkan
kualitas, profesionalitas dan mengembangkan potensi. Tanpa kualitas, guru akan
menjadi “buruh” tiada arti.
Menjadi guru itu bisa mudah, bisa sulit. Mudah jika ada keseriusan
tinggi, modal ilmu, motivasi kuat, semangat berjuang dan tidak salah jurusan
ketika kuliah. Menjadi guru harus berpendidikan guru, karena saat ini
kualifikasi akademik sangat diutamakan. Jangan sampai muncul “guru abal-abal”
yang meresahkan dunia pendidikan. Menjadi guru akan sulit jika tidak ada niat
mengabdi pada bangsa, hanya mengejar recehan dan tidak berlatarbelakang pendidikan/keguruan.
Guru sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah profil guru
penuh cinta, kasih sayang, senyum dan keceriaan. Tiada sedih dan “galau” bagi mereka,
karena setiap hari mengajarkan kegembiraan. Dengan alasan apa pun, guru tetap
profesi mulia dan terhormat di dunia dan akhirat. Tanpa guru, pendidikan sunyi,
jika manusia tidak berpendidikan, dunia akan berhenti, peradaban stagnan bahkan
hancur dan mati.
Guru SD di Indonesia harus sehat dan bebas penyakit. Para guru di era
digital seperti ini tidak boleh mengidap penyakit-penyakit seperti Tidak Punya
Selera (Tipus), Mutunya Amat Lemah (Mual), Kurang Disiplin (Kudis), Asal Masuk
Kelas (Asma), Kurang Strategi (Kusta), Tidak Bisa Computer (TBC), Kurang
Terampil (Kram), Asal Sampaikan Materi Urutan Kurang Akurat (Asam Urat), Lemah
Sumber (Lesu), Di Kelas Anak-anak Diremehkan (Diare) dan Gaji Nihil Jarang
Aktif dan Terlambat (Ginjal). Penyakit-penyakit tersebut diyakini bukan saja
menghambat mutu pendidikan, tetapi juga menjauhkan apresiasi masyarakat
terhadap guru dan pendidikan.
Semua calon guru SD/MI atau bagi guru-guru SD/MI sejak saat ini harus
introspeksi atau berobat ke dokter akademik. Artinya, meskipun secara jasmani
sehat, namun secara edukatif masih banyak guru SD/MI yang mendera
penyakit-penyakit di atas. Bagi calon guru SD/MI harus mencegah penyakit di
atas, dan bagi guru yang sudah terlanjur mengajar di sekolah harus segara
mengobati penyakit tersebut jika mengidapnya.
Ini menjadi penting karena belajar dari guru SD/MI yang sehat ibarat
seperti minum es jus yang segar. Namun belajar dari guru yang mengidap penyakit
ibarat minum air comberan. Maka sehat lahir batin dan sehat edukatif menjadi
keniscayaan bagi guru SD/MI atau calon guru SD/MI. Jika Anda sakit, apakah Anda
akan memberi air comberan kepada peserta didik? Tentu hal itu sama saja
meracuninya. Sebelum terjangkiti penyakit di atas, semua insan guru SD/MI harus
meningkatkan kualitas menjadi guru ideal, profesional sesuai rukun iman dalam
pendidikan yang sudah ditentukan pemerintah.
Jika ingin menjadi guru SD/MI profesional, maka jangan sampai calon
mahasiswa memilih jurusan selain PGSD/PGMI. Ini mutlak dilakukan jika serius
ingin menjadi guru SD/MI profesional dan berkompeten di bidang pendidikan
dasar. Salah jurusan adalah pintu gerbang kecelakaan akademik.
Jumlah jurusan/program studi PGSD/PGMI di Indonesia saat ini
sudah menjamur. Bahkan hampir tiap tahun saat digelar SNMPTN/SBMPTN/SMPTAIN,
jurusan PGSD/PGMI selalu menjadi pilihan pertama. Apalagi jumlah PNS yang
pensiun dari formasi guru SD sangat banyak sekali. Inilah yang menjadi alasan
pelajar memilih jurusan PGSD/PGMI. Akhirnya, siapkah Saya menjadi guru SD
revolusioner?

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan