Hitungan Jodoh Menurut Islam dan Jawa

0
Hitungan Jodoh Menurut Islam dan Jawa

Hitungan jodoh menurut Islam dan Jawa seringkali dibenturkan oleh dua kepentingan yang berbeda, yaitu umat muslim dan orang Jawa yang masih memegang teguh ajaran nenek moyangnya terkait dengan primbon ramalan jodoh berdasarkan neptu dan weton.

Oleh karena itu, untuk menjawab permasalahan tersebut, kami menyuguhkan beberapa pendapat yang pro dan kontra agar bisa dijadikan sebagai pertimbangan. Semua keyakinan adalah milik masing-masing individu yang tidak bisa dipaksakan.

Di daerah Jawa sendiri, banyak umat muslim yang masih percaya primbon ramalan jodoh, meski tidak semuanya. Beberapa yang yakin pada hitungan jodoh Jawa sampai tidak jadi menikah, meski saling mencintai, lantaran hitungan menurut primbon ramalan Jawa buruk yang dikhawatirkan keburukan terjadi pada masa yang akan datang.

Uniknya, redaksi IslamCendekia.Com menemui beberapa orang yang sudah menikah dan memiliki anak terpaksa harus bercerai lantaran dampak buruk terjadi karena dulu mereka melanggar neptu jodoh yang seharusnya tidak diperbolehkan dalam Jawa.

Jodoh menurut Islam
Dalam Islam, sama sekali tidak disebutkan perhitungan jodoh yang baik. Al Quran dan Hadis sendiri menyarankan untuk memilih jodoh yang memenuhi kriteria bibit, bebet, bobot dalam arti kualitas watak dan karakternya, bagaimana latar belakangnya, termasuk Nabi Muhammad menyarankan untuk mencari jodoh yang cantik atau tampan.

Hal ini membuktikan bahwa perhitungan jodoh dalam Islam tidak ditemukan. Bahkan, Al Qur’an surat An Nur ayat 26 secara eksplisit menjelaskan bahwa wanita keji cocoknya untuk pria keji pula dan sebaliknya. Sementara itu, perempuan baik jodohnya juga akan mendapatkan laki-laki baik.

Oleh karena itu, banyak para ulama kemudian menyarankan untuk memperbaiki sikap, karakter dan kepribadian yang baik sesuai tuntunan ajaran Islam agar jodohnya juga baik.

Dalam Islam, sebelum menentukan untuk menikah, kita tidak diminta untuk mencari neptu masing-masing jodoh sebagaimana dalam hitungan Jawa, tetapi Allah menyarankan untuk melakukan sholat istikarah agar diberikan petunjuk yang baik, apakah si idaman merupakan jodoh terbaik atau tidak.

Bahkan, Allah secara tersurat meminta hambanya untuk berdoa meminta jodoh sebagaimana dijelaskan dalam QS Al Furqon ayat 74 yang artinya: “Ya Allah, berikanlah kami anugerah istri dan keturunan kami sebagai penggembira hati, serta jadikanlah kami imam untuk orang-orang bertakwa.”

Jodoh dalam hitungan Jawa
Jodoh dalam hitungan tradisi, adat, dan kebiasaan orang Jawa sangat diperhatikan. Beberapa orang modern yang tidak percaya pada tradisi mereka terpaksa harus kawin lari tanpa direstui orang tua lantaran biasanya ortu yang masih memegang teguh prinsip neptu jodoh.

Menurut Jawa, apabila hitungan jodoh yang didasarkan pada neptu dan weton itu baik, maka para mempelai akan menjumpai kebahagiaan luar biasa pada masa yang akan datang hingga menjadi nenek-nenek.

Namun, jika neptu dan weton yang dihitung dengan pemjumlahan masing-masing ternyata hasilnya jelek, maka rumah tangga ke depan selalu kisruh, berantakan, bahkan dampak yang lebih mengerikan, ia akan menemui ajalnya mendahului takdir kematian yang ditetapkan Allah.

Sejumlah ulama Islam yang masih mempertahankan keyakinan dan ajaran orang Jawa ada juga yang melakukan kolaborasi antara ajaran Jawa dan Islam. Artinya, setiap orang yang bertanya kepadanya, ia akan melakukan perhitungan sesuai dengan perpaduan Islam dan Jawa. Ini yang dinamakan sinkretisasi.

“Sudah banyak buktinya, Mas. Tetangga saya tidak percaya pada hitungan Jawa pada pernikahannya. Padahal, dia dan suaminya jumlahnya 24 di mana artinya angka kematian. Setelah punya anak dua, dia tertabrak. Sebelumnya, ia mimpi dikejar-kejar bola api, sebelum meninggal,” ujar Jeng Tatik, pakar hitungan Jawa asal kota seribu paranormal Pati, Jawa Tengah.

“Bahkan, ada juga yang sudah punya anak dua besar-besar bercerai demi kebaikan mereka. Pasalnya, mereka saling mencintai dan tidak percaya pada hitungan Jawa. Setelah berpuluh tahun tidak ada masalah, akhirnya salah satu di antara mereka selalu bermimpi dikejar Batara Kala atau malaikat kematian. Menyadari kesalahan itu, tanpa konsultasi dengan ahli hitung Jawa, mereka memutuskan untuk bercerai. Sampai saat ini, mereka baik-baik saja setelah bercerai,” imbuh Jeng Tatik.

Sampai saat ini, kepercayaan terhadap ramalan primbon perhitungan Jawa berdasarkan neptu dan weton masih sangat melekat dalam tradisi orang Jawa, meski mereka beragama Islam dan sepenuhnya percaya pada takdir Allah. Sejumlah kalangan mempercayai bahwa hitungan jawa adalah formula pengetahuan yang didapatkan leluhur untuk generasi anak cucu mereka. (IslamCendekia.Com/Lismanto)

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan