Pemilwa UIN Walisongo Semarang Memanas, Mahasiswa Islam Kampanye di Media Sosial

0
Semarang, Islamcendekia.com – Pemilu Raya Mahasiswa Pemilwa
UIN Walisongo Semarang Memanas, mahasiswa Islam kampanye di media sosial
menjadi
bahan menarik bagi mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Mengapa? Menjelang Pemilwa,
banyak aktivis kampus UIN Walisongo disibukkan berbagai agenda, mulai dari
pendirian partai mahasiswa, komisi pemilihan mahasiswa, penyaringan presiden,
kampanye dan sebagainya.
Uniknya, kampanye mahasiswa saat
ini tidak hanya digelar di kampus, namun juga di media sosial. Salah satunya
Vera, mahasiswi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo. “Saya
sedang menyiapkan Pemilwa sejak tanggal 1 Desember sampai 17 Desember 2014
nanti,” ungkapnya saat dihubungi Islamcendekia.com, Selasa (2/12/2014).
Menurutnya, saat ini Pemilwa UIN Walisongo harus bersih dari kecurangan dalam
bentuk apa pun.
Tak hanya Vera, kampanye juga
dilakukan Baihaqi Annizar di media sosial. Sesuai informasi yang dihimpun
Islamcendekia.com pada Rabu (3/12/2014), ia menulis dan kampanye di media
sosial yang mendapat berbagai tanggapan, ada yang mendukung dan menolaknya. “Pemilwa
adalah ajang untuk belajar politik bagi mahasiswa. Partai adalah sebagai
kendaraan politik yang akan menghantarkan tujuan tersebut. Perlu rasanya untuk
mengetahui partai partai apa saja yang terdapat di Kampus kita tercinta ini,”
tulisnya di media sosial pada 1 Desember 2014.
Partai Pembaruan Mahasiswa (PPM),
lanjutnya, adalah salah satu partai yang orang-orangnya bukan orang yang cerdas,
bukan orang pemikir maupun revolusioner, bukan orang-orang garda terdepan fakultas,
tidak kreatif, bukan partainya orang-orang berkualitas, bukan tempatnya orang cekatan dan tempatnya orang klemar-klemer. “Namun
kami adalah tetap berpegang teguh dalam ASWAJA, mengajak kalian mandiri dalam
berpikir, tidak dihegemoni oleh banyak pemikiran yang membuat cita-cita partai
ditunggangi oleh kepentingan yang lain,” tulis mahasiswa PAI tersebut. PPM mengajak kalian
semua bergabung dalam mewujudkan cita-cita mulia, katanya, mengingat PPM
merupakan partai yang selama ini mendominasi di segala sendi kehidupan kampus,
maka bergabung bersama PPM merupakan pilihan yang tepat! Salam Pembaruan!
Namun dari cuplikan kampenya
tersebut, dinilai kurang positif bagi kemajuan demokrasi kampus. Hal itu
diungkapkan Ahwani, mantan Sekretaris Jenderal Partai Amanat Mahasiswa (PAM)
IAIN Walisongo Semarang. “Ini bentuk kampanye yang kurang produktif dan
edukatif. Kampanye yang baik itu yang dialogis, bukan gedubris omong kosong,”
katanya.
Hal senada disampaikan Surahmat,
ia menilai bahwa kampanye di media sosial kurang efektif. “Mending di kampus
dengan agenda yang edukatif. Masak mahasiswa kayak politisi busuk di negeri
ini, kan lahirnya politisi juga dari mahasiswa. Jika saat menjadi mahasiswa
bener, tentu nanti jadi politisi juga bener, namun jika sebaliknya ya mereka
nanti kalau sidang bertengkar, kayak anak kecil dan suka korupsi,” tuturnya pada
Islamcendekia.com pada Rabu (3/12/2014). (IC/Foto:loveonrafflesia).

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan