Ujian Nasional Menurut Islam

0
Ujian Nasional Menurut Islam

SEMARANG, IslamCendekia.Com – Ujian Nasional menurut Islam bisa ditinjau dari berbagai sudut
pandang, bisa secara tekstual maupun kontekstual. Pasalnya, selama ini sudah
muncul wacana penghapusan UN. Demikian yang disampaikan Hamidulloh Ibda, Selasa
(16/12/2014) pada agenda bedah buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner
yang ditulisnya.

Menurut mahasiswa Pascasarjana Unnes itu, UN itu merupakan
salah satu proses evaluasi yang didesain pemerintah untuk mengukur kemampuan
siswa. “Kalau di KTSP masih menggunakan taksonomi Bloom, yaitu kognitif, afekti
dan psikomotorik. Tapi kalau di Kurikulum 2013 ada 4, yaitu kompetensi inti
terbagi atas religius, sosial, pengetahuan dan keterampilan,” ujarnya.
UN, kata Ibda, yang perlu dikaji lebih mendalam bukan hanya
tujuannya, namun prosesnya yang selama ini masih terjadi kecurangan. “Semua
guru, siswa dan sekolah di negeri ini rata-rata Islam. Jadi, prinsip yang harus
dijalankan saat UN adalah keobjektifan dan kejujuran,” ujar Ibda yang juga
penulis buku Demokrasi Setengah Hati itu.
Menurutnya, Islam sangat mendukung UN jika hal itu dilakukan
dengan kejujuran. “Kejujuran ini ada 3 hal, yaitu sebelum, saat dan sesudah UN.
Kadang, orang hanya melihat ketika sesudah UN saja,” ujarnya.
Bedah buku yang digelar di Semarang ini juga dihadiri Dian
Marta Wijayanti yang juga penulis buku. 
Menurutnya, dalam UN prinsip yang
paling penting adalah kejujuran. “Sapa
wonge jujur, bakale nasibe mujur,”
ujar Dian. Siapa pun yang jujur, katanya, nasibnya akan beruntung. Begitulah
sekiranya yang harus melekat di hati peserta didik negeri ini. “Meskipun
kebijakan adanya UN bertahun-tahun mengalami penolakan, tampaknya hal tersebut
tidak menggetarkan untuk meniadakan UN, khususnya tingkat SMA,” ujar salah satu
asesor USAID Prioritas Jawa Tengah tersebut.
Selama ini, menurut Dian, UN masih menjadi momok besar
karena masa depan anak ditentukan selama tiga hari tersebut. Hingga berbagai
cara dilakukan baik pra maupun ketika UN berlangsung. Dari memberikan tambahan
jam pelajaran di sekolah, mengikuti les di berbagai bimbingan belajar (bimbel),
dan keanekaragaman wujud doa dengan satu tujuan, yaitu lulus ujian.
“Lulus ujian adalah tujuan yang ingin dicapai oleh peserta
UN. Padahal sebenarnya, lulus adalah alat untuk menanjak tingkat selanjutnya.
Jika lulus hanya menjadi tujuan, maka yang terjadi adalah dilakukannya berbagai
cara baik positif maupun negatif untuk memperoleh selembar ijazah bertuliskan lulus,”
katanya.
Kalau dalam Islam, prinsip dalam UN yang harus dijalankan
adalah kejujuran, keterbukaan dan keotentikan hasil belajar. “Dalil apa saja,
di dalam Islam sangat mengutamakan kejujuran daripada kebohongan. Hal itu harus
dimulai dari hal paling kecil dalam pendidikan, termasuk UN,” paparnya.

Menurut Dian, menyesakkan dada tapi tidak bisa
dihindari. Peserta didik berada pada satu sistem pendidikan yang mau tidak mau
mereka harus melalui alurnya. “Tanpa mengikuti ujian, mereka tidak bisa
mendapatkan prasyarat untuk melamar kuliah di perguruan tinggi atau langsung
bekerja. Namun masalahnya adalah kejujuran di negeri ini mulai dipertanyakan.
Mengingat banyaknya pejabat yang tidak jujur dengan menyalahgunakan uang negara
sampai besarnya kasus kecurangan saat ujian diasumsikan kecurangan UN telah
menjadi budaya,” jelasnya.

Baca juga: Buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner Dikoleksi Perpustakaan UIN Walisongo.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan