Euforia Perjalanan Partai Islam di Indonesia

0
Oleh Hakim Alif Nugroho

Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang
Keberadaan partai Islam di Indonesia sudah dimulai senjak zaman Orde
Lama. Partai Islam tersebut adalah Masyumi dan NU yang merupakan cikal bakal
partai Islam lainnya. Dalam perekembangannya, partai Islam tersebut mendapatkan
hasil suara yang hampir sama dengan suara partai nasionalis (PNI) dan komunis
(PKI).
Runtuhnya rezim Orde Baru, di mana pemerintahan Indonesia dipimpin oleh
Soeharto telah menjadikan berkembang dan menguatnya partai dengan pengaruh
agama yang sangat kuat. Terutama adalah kelompok dengan basis Islam. Dalam
konteks demokrasi, hal ini seperti halnya pada masa 1950-an. 
Pada masa
tersebut, telah terjadi banyaknya bermunculan partai politik berbasis aliran.
Hal ini merupakan kecenderungan dari menguatnya kebebasan berpolitik di
Indonesia, akibat dari terbukanya keran demokrasi.
Euforia era reformasi tersebut, telah melahirkan berbagai macam partai
bebasis aliran, di antaranya adalah partai berbasis Islam. Kelompok- kelompok
yang merasa dipinggirkan oleh partai- partai yang sudah ada (PPP, Golkar, dan
PDI) juga mengadu keberuntungan dengan cara mendirikan partai sendiri (Dhakidae,
2004 ).
Dari partai-partai tersebut muncullah di antaranya adalah Partai Persatuan
dan Partai Bintang Reformasi yang berasal dari PPP, Partai Keadilan dan
Persatuan (Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia), Partai MKGR, dan Partai
Karya Peduli Bangsa merupakan dari Golkar. Sedangkan dari PDI sendiri telah
muncul PDI Perjuangan, Partai Nasional Demokrat, Partai Penegak Demokrasi
Indonesia, dan Partai Nasional Banteng Kemerdekaan.
Kemajemukan partai tersebut juga berawal ketika dibebaskannya asas dari
suatu partai tersebut untuk menggunakan asas Pancasila maupun Islam. Meskipun
dalam pelaksanaannya, ditemukan adanya partai yang menyebut dirinya sebagai
nasionalis dan religius seperti PAN dan PKB, corak Islam dari partai tersebut
tetap menonjol.
Tidak mengherankan jika menjamurnya partai berbasis Islam pada era
reformasi ini, menjadikan persaingan pada pemilu tahun 1999 yang merupakan awal
mula dari proses demokrasi di indonesia. Meskipun dalam pelaksanaannya tidak
semua partai islam bisa mengikutinya. Dalam pelaksanannya, pemilu tahun 1999
tersebut telah diikuti oleh sekitar 48 partai politik dengan berbagi macam
aliran maupun golongan dan sebagai pemenang adalah PDI-P.
Namun yang patut untuk dicermati adalah komposisi parlemen yang 33.3%
berasal dari partai Islam. Dengan hasil tersebut membuat hasil keputusan dari
MPR dalam pemilihan presiden dapat dimenangkan oleh Abdurrahman Wahid. Hasil
tersebut berbanding terbalik dengan hasil yang diterima oleh Megawati Soekarno
Putri yang mendapat dukungan partai dengan hasil 33,7%.
Selain pada pemilu tahun 1999, menguatnya patai Islam juga terjadi pada
pemilu 2004. Dalam pelaksanaannya, pemilu tersebut hampir didominasi oleh
partai Islam. Dengan hasil 37,5% partai Islam di Indonesia sangatlah berkembang
dengan pesat dan cepat dari pemilu sebelumnya. Berkembangnya partai Islam tersebut,
bisa dilihat pada hasil pemilu tahun 2004. Jumlah partai Islam yang menduduki
jabatan di parlemen bertambah lagi. Bukan hanya bertambah dari perolehan suara,
namun bertambah pula jumlah partai yang ada di dalam parlemen. Pada pemilu 1999
hanya ada PKB, PPP, PAN, PBB, dan PKS sedangkan, pada pemilu 2004 ada PKB, PPP,
PAN, PBB,PKS, dan PBR.
Meskipun demikian dengan hasil yang cukup dominan, dalam pemilihan
presiden tersebut tidaklah seperti pada pemilu sebelumnya. Pemilu presiden 2004
merupakan pemilihan langsung oleh rakyat untuk menetukan presidennya. Dalam
pemilu presiden tersebut partai islam tidak bisa berkoalisi penuh dalam
menentukan calon presiden. Itu terbukti dengan adanya pasangan calon presiden
dan wakil presiden dari partai islam dan partai sekuler.
Berbeda dengan pemilu sebelumnya, kebesaran partai berbasis Islam pada
pemilu tahun 2009 mulai menurun. Penurunan hasil perolehan pemilu tersebut
disebabkan oleh berkembangnya partai yang berasal dari kaum sekuler yang selama
ini merupakan musuh dari partai islam dalam memperoleh suara di pemilu. Namun
yang patut kita cermati bersama adalah dalam pemilu pasca era Orde Baru sejak
tahun 1999 sampai 2009 adalah fenomena naiknya persentase Partai Keadilan
Sejahtera dalam setiap pemilu.
Partai tesebut merupakan partai yang mulanya bernama partai keadilan
yang bediri pada tahun 1998 dan berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera
semenjak tahun 2002 karena adanya electoral threshold yang mengharuskan batas minimal peserta
pemilu adalah dua persen. Dengan penggabungan tersebut, pada pemilu tahun 2004
akhirnya partai tersebut berhasil memperolehan suara sebesar  7,34%. Perolehan suara tersebut menjadikan
PKS mendaptakan 45 kursi  dalam parlemen.
Keberhasilan PKS tersebut tidak hanya dalam pemilu legislatif saja, namun dalam
pemilukada DKI Jakarta juga telah menjadi bukti bahwa partai tesebut mempunyai
massa pendukung yang tidak sedikit. Dalam pelaksanaannya PKS tersebut menjadi
partai pendukung Fauzi-Prijanto yang berhasil memperoleh suara 58,59%.
Keberhasilan PKS dalam pemilu
tidak hanya berhenti sampai itu itu saja. Pada pemilu tahun 2009, perolehan
suara partai berbasis islam yang dimotori oleh PKS sendiri berhasil mendapat
suara 7,8% dan merupakan partai satu-satunya partai islam yang persentasenya
naik dan merupakan partai yang naik persentasenya juga dalam pemilu selain
tentunya partai Demokrat.
Dalam pemilu presiden, partai
berbasis islam ini tidak mendapatkan koalisi. Namun, dalam pelaksanaanya
berkoalisi dengan partai demokrat yang merupakan partai berbasis nasionalis
untuk mendapatkan suara di parlemen dan menempatkan salah satu menterinya dalam
kabinet.
PKS sendiri mempunyai
strategi- strategi dalam mencari suara dan target dalam beberapa pemilu yang
diikuti. Strategi tersebut antara lain adalah membentuk sayap barisan muda yang
sering disebut KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) selain tentunya
adanya Lembaga Dakwah Kampus. Maka, sungguh wajar jika hampir semua
anggota/alumni KAMMI identik dengan PKS. Praktek yang dilakukan dalam pencarian
kader adalah melalui liqo’ yang merupakan cara untuk menegakkan interpedensi.
Tidaklah mustahil, dalam hal ini seluruh PTN/PTS berhasi dikuasi dengan mudah
melaui BEM.
Adapula target yang harus
didapatkan dari beberapa pemilu antara lain adalah mendapatkan suara untuk
masuk dalam 7 besar parpol di Indonesia pada pemilu 1999. Target tersebut terus
bertambah besar, yakni pada pemilu tahun 2004 naik menjadi parpol 5 besar dalam
dunia politik di Indonesia. Dari target tersebut telah dicapai, namun dalam
target pemilu 2009 belum bisa terpenuhi. Meskipun secara keseluruhan jumlah
suara naik dan berhasil mendapatkan kursi menteri di kabinet. Selain itu target
yang diusung dalam pemilu tahun 2014 besok adalah adanya capres maupun wapres
yang berasal dari partai berbasis islam tersebut. Hal itu tidaklah mustahil
jika dalam proses pengkaderannya berjalan seperti sebelumnya dan tentunya
diimbangi dengan pencitraan yang baik.
Tantangan masa depan oleh
partai PKS maupun partai berbasis islam lainnya adalah diberlakukannya  Parliement
Treshold
yang cukup tinggi selain tentunya adanya perpecahan antara partai
islam tersebut. Sehingga ini merupakan tantangan yang serius yang perlu
diperhatikan untuk meningkatkan jumlah suara pada pemilu 2014 nantinya.

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan