Seagama Bukan Berarti Seiman, Seiman Tidak Harus Seagama

0
Seagama Bukan Berarti Seiman, Seiman Tidak Harus Seagama



“SEAGAMA bukan berarti seiman dan seiman tidak harus seagama. Banyak orang seagama, tapi tidak seiman dan banyak orang seiman, meski beda agama.”

Begitu status Sumanto Al Qurtuby, seorang profesor muslim dan dosen Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, Rabu (14/2).

Status tersebut disukai lebih dari 2.000 pengguna Facebook, dikomentari ratusan Facebooker dan dishare lebih dari 136 orang.

Lantas apa maksud profesor Sumanto yang jika dilihat sepintas cukup membingungkan? Redaksi islamcendekia.com mencoba untuk membedahnya.

Artinya, sama-sama orang yang memeluk agama tertentu, tidak berarti semuanya mengimani sepenuhnya esensi agama itu sendiri yang bermuara pada satu dzat, yaitu Tuhan.

Mungkin kata “iman” mudah diucapkan di lidah, tetapi sulit diterapkan di dalam hati dan qolbu yang paling dalam. Hanya Tuhan sendiri yang mungkin tahu keimanan seseorang.

Sebaliknya, ada juga orang-orang yang seiman atau mengimani satu dzat yakni Tuhan yang Esa, meski berbeda agama.

Agama adalah jembatan, wadah, kendaraan menuju Tuhan. Namun, sebagian orang justru melupakan tujuan utamannya dan disibukkan dengan kendaraan.

Maka, status Sumanto Al Qurtuby tersebut ingin mengingatkan atau menegaskan kembali bahwa tujuan utama agama adalah Tuhan.

Jadi, meski berbeda agama, berbeda kendaraan, tetapi jika tujuannya sama, maka itu yang disebut “seiman tidak harus seagama.”

Riga Danniswara, salah seorang netizen membalas komentar status Sumanto Al Qurtuby begini:

“Pada dasarnya, manusia (agama apapun yang dianut), tersekat oleh diksi agama yang mereka ciptakan sendiri, sehingga meninggalkan esensi Tuhan sebagai alasan mengapa mereka menghadirkan agama di bumi Tuhan.

Agama lahir untuk menjadi koridor dalam memaknai kehadiran Tuhan yang tak tersentuh. Agama dengan sengaja menjadi batas yang dimaknai positif oleh sebagian sehingga dianggap penting untuk dijaga kesakralannya. Dan ini yang menjadikan kita secara tidak langsung melupakan prinsip ber-Tuhan.

Agama adalah ide untuk menerjemahkan kehadiran Tuhan di alam semesta ini. Dalam teori Wilhelm Schmidt di bukunya The Origin of the Idea of God, menjelaskan sikap monoteisme primitif sudah lahir sebelum manusia menyembah dewa-dewa. Mereka mengakui ada satu Tuhan Tertinggi, disebut Tuhan langit karena diasosiasikan berada di atas

Namun, kelompok suku-suku merasa tidak bisa mengekspresikan kehadiran Tuhan sehingga digantikan oleh ruh yang lebih rendah dan akhirnya Tuhan “dapat dijangkau.”

Monoteisme adalah ide tertua yang dikembangkan hingga kini untuk menjelaskan hal-hal metafisika yang menjadi misteri alam.

Jadi, dalam hemat saya, kita boleh beragama, namun jangan sampai tidak ber-Tuhan. Namun, tak masalah kita tidak beragama, namun ber-Tuhan adalah kewajiban manusia. Karena beragama sebenarnya adalah wujud peng-hamba-an kita terhadap ciptaan manusia-manusia itu sendiri

Maka dalam menyentuh Tuhan, kita tidak bisa dibatasai oleh teritori apapun termasuk tempat ibadah. Tuhan hadir dari dalam diri kita dan selalu ada disekitar kita. Mengapa harus tunduk pada tempat-tempat yang jelas-jelas bukan singgasana atau kerajaan Tuhan terlebih kantor cabang Tuhan di bumi.”

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan