Malam 1 Suro menurut Islam, Alquran, Hadits dan Kejawen

0

Malam 1 Suro menurut Islam, Alquran dan Hadits adalah malam untuk menyambut tahun baru Hijriah. Maknanya sama dalam konteks Kejawen. Dan bulan ini memang memiliki keistimewaan menurut mistisme Kejawen.

Sebelum pembaca sekalian tahu arti dan makna malam satu suro, redaksi islamcendekia.com ingin mengajak Anda untuk mengetahui sejarah lahirnya kalender Jawa yang menjadi cikal bakal munculnya tradisi malam satu suro.

Kalender Jawa diciptakan oleh cucu Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram, yaitu Sultan Agung Anyakrakusuma. Beliau adalah raja Islam yang masih memegang teguh ajaran leluhur Jawa.

Kapan kalender Jawa diciptakan, yaitu pada tahun 1555 Saka atau 1633 Masehi. Apa itu tahun Saka? Yaitu tahun yang dipakai umat Hindu-Buddha, termasuk secara resmi dipakai orang Jawa pada zaman sebelum Sultan Agung, mulai dari peradaban Jawa Kuno (Aji Saka), Singhasari, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, hingga diubah oleh Raja Mataram ketiga, yaitu Sultan Agung.

Sejak saat itu, masyarakat Jawa menggunakan kalender Jawa yang dibuat Sultan Agung dan mengenal istilah malam 1 Suro untuk menyambut tahun baru dalam kalender Jawa.

Jadi, kalender Jawa saat ini sesungguhnya hasil penggabungan dari kalender hijriah (Islam) dan kalender Saka (Jawa), karena masih mengenal istilah pasaran seperti Kliwon, Legi, Pon, Pahing, Wage hingga Wuku yang menjadi tradisi Hindu-Buddha.

Sultan Agung bukan orang sembarangan. Beliau adalah raja ketiga Mataram yang selain taat pada agama Rasul, juga tahu tentang mistisme Jawa, termasuk sufi dan tasawuf.

Lalu, apa itu kejawen? Kejawen adalah sebuah keyakinan umat Islam yang masih memadukan tradisi leluhur. Jadi, kejawen sesungguhnya bukan ajaran murni Jawa, tapi ajaran Islam saat Walisongo masuk ke Tanah Jawa, kemudian dipadukan dengan ajaran leluhur yang relevan dengan tauhid.

Pelopor ilmu kejawen adalah Kanjeng Susuhanan ing Ngampeldhenta atau Sunan Ampel, Kanjeng Susuhunan ing Kalijaga atau Sunan Kalijaga, termasuk Syekh Abdul Jalil atau Syeh Siti Jenar. Namun, Syekh Siti Jenar lebih ke mistisme, sufisme, tawasuf, ilmu hakikat.

Karena banyak orang Jawa yang lupa sejarah, kemudian saat ini muncul namanya Islam Nusantara. Padahal, Islam yang membaur dengan Jawa-Nusantara sesungguhnya sudah ada sejak zaman Walisongo, istilahnya Kejawen atau Islam Abangan.

Islam Abangan bukan berarti Islam yang masih mentah, justru Islam yang memiliki nilai dan spirit hakikat yang tinggi, Islam sejati yang mempertahankan ajaran leluhur Jawa yang sesuai dengan semangat tauhid.

Baca juga:
Sejarah Singkat Tahun Baru Islam Hijriah Muharram Lengkap dengan Arti dan Makna Sesungguhnya

Malam 1 Suro menurut Islam, Alquran dan Hadits
Dalam Islam, satu Suro adalah satu hijriah. Bulan ini merupakan salah satu dari empat bulan yang istimewa dalam ajaran agama Islam.

Dalam Alquran Surat At Taubah ayat 36 dijelaskan, bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan. Saat Allah menciptakan langit dan bumi, ada empat bulan yang suci.

Alquran itu kemudian dijelaskan lebih lanjut dalam Hadits Riwayat Bukhari Nomor 3025 di mana Nabi Muhammad SAW bersabda, empat bulan suci yang dimaksud yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Dan satunya lagi adalah bulan Rajab.

Keempat bulan suci itu juga disebut bulan haram. Kenapa? Karena pada bulan suci itu diharamkan untuk membunuh dan juga ditekankan untuk menghindari apa yang diharamkan Allah, mengingat bulan tersebut adalah bulan suci.

Bahkan, dalam Islam, bulan Muharram (Suro dalam Kejawen) adalah bulan Allah atau Syahrullah. Jadi bulan ini juga istimewa, karena disebut bulan Allah dalam Islam.

Hadits Riwayat Muslim Nomor 2812 menyebutkan, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah bulan Muharram atau Suro.

Malam 1 Suro adalah tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut tahun baru Hijriah, bulan suci sekaligus bulan Allah, yakni masyarakat Jawa Islam Kejawen yang diprakarsai Sultan Agung, Raja ketiga Mataram. (*)

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan