Syekh Quro Karawang: Karomah, Nasab, Keturunan dan Silsilahnya

  • Whatsapp
Syekh Quro Karawang Karomah Nasab Keturunan dan Silsilahnya
Syekh Quro Karawang (kanan) dan Prabu Siliwangi, Raja Pakuan Pajajaran Pasundan. (Ilustrasi)

Syekh Quro adalah ulama penyebar agama Islam pertama dan paling sepuh di tanah Pakuan Pajajaran Sunda, makamnya terletak di Pulo Bata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Nama aslinya adalah Syekh Hasanuddin atau Syekh Qurotul Ain atau Syeh Mursahadatillah. Asal-usul dipanggil Syekh Quro karena beliau hafal Alquran (hafidz), sekaligus memiliki kelebihan atau karomah dengan suara qori’ yang sangat merdu.

Read More

Dari kata-kata qori’ inilah asal-usul Syekh Quro dipanggil. Beliau adalah peletak pertama bibit-bibit ajaran Rasulullah Muhammad SAW di Tanah Sunda, setara dengan Peran Sunan Ampel yang meletakkan dasar-dasar ajaran Islam di Jawa atau Majapahit.

Jika Sunan Ampel mendapatkan restu dari Prabu Brawijaya atau Bhre Kertabhumi untuk mendirikan pasreman (pesantren) di Ngampeldhenta (Surabaya sekarang) dan menyebarkan agama Rasul di bumi Majapahit, berbeda halnya dengan Syekh Quro. Beliau ditentang oleh Raja Pajajaran waktu itu, yaitu Prabu Angga Larang.

Bahkan, penguasa Pajajaran waktu itu mengirim utusan untuk mengusir Syekh Quro dan pengikutnya karena banyak warga Pajajaran yang mulai tertarik dan mengikuti ajaran Syekh Quro.

Namun melalui karomah yang dimilikinya, Syekh Quro lantas mengatakan bahwa kelak keturunan Prabu Anggalarang akan masuk Islam dan menjadi penyebar agama Islam di Tanah Sunda Galuh. Dan ucapan sang waliyullah pada akhirnya terbukti.

Untuk cerita terbuktinya ucapan Syekh Quro bahwa keturunan Raja Sunda Galuh kelak akan menyebarkan agama Islam di Kerajaan Pakuan Pajajaran Pasundan, silakan baca:

Karomah Syekh Quro
Karomah utama Syekh Quro adalah kelebihannya dalam melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Kemampuan itu ditularkan kepada santri-santrinya, salah satunya Nyai Subang Larang.

Beliau juga hafal Alquran. Dan karomah Syekh Quro yang tercatat dalam naskah Purwaka Caruban Nagari, di antaranya ucapan beliau yang menjadi kenyataan ketika misi penyebaran agama Islam yang dilakukan ditentang oleh Raja Sunda Galuh waktu itu, yaitu Prabu Angga Larang.

Dalam program Dua Dunia yang ditayangkan Trans7, salah satu santri Syekh Quro bernama Siti Khaifah saat memasuki raga mediator mengatakan, saat diusir dari Tanah Sunda, Syekh Quro berkata:

“Ingatlah, dengar, prabu musuhku. Tidak akan berhenti perjuanganku sampai di sini. Kelak perjuanganku akan ada yang meneruskan, dari keturunannya sendiri.”

Ucapan tersebut terbukti. Anak Prabu Anggalarang, Prabu Siliwangi masuk Islam saat menikah dengan Dewi Subang Larang, serta cucu-cucunya menjadi tokoh penting dalam penyebaran agama Rasul Muhammad SAW di tanah Pasundan, yakni Pangeran Walangsungsang (Cakrabuana), Rara Santang (Ibu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati), dan Kian Santang atau Raja Sangara.

Karomah Syekh Quro selanjutnya, seperti dihimpun islamcendekia.com dari berbagai sumber, konon kabarnya, beliau membangun masjid agung yang megah kemudian dipindahkan secara gaib ke Gunung Sembung Cirebon. Masjid itu diberi nama Mangal Mangil Mangup.

Pada masa modern, pernah seseorang (Sunda) yang berziarah ke makam Syekh Quro. Dia mendoakan kedua ibunya yang sedang menunaikan ibadah haji. Tak disangka, kedua orang tua anak tersebut saat di Mekkah melihat dirinya bersama seorang syekh, yang menurutnya adalah Syekh Quro.

Dengan karomah Syekh Quro, seseorang yang berziarah di makamnya tersebut diajak “berhaji” gaib di Mekkah. Wallahualam bishawab, hanya Allah yang tahu. Subhanallah!

Nasab, keturunan, silsilah Syekh Quro
Ayah Syekh Quro adalah ulama besar di Negeri Champa (China Muslim) yang bernama Syekh Yusuf Siddik. Beliau masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin Akbar al Husaini dan Syekh Jalaluddin, seorang ulama dari Mekkah.

Dari garis nasab ibunya yang bernama Dyah Kirana, Syekh Quro juga masih ada garis silsilah dari Sayidina Husein, putra Sayidina Ali bin Abi Thalib, menantu Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, beliau masih keturunan Rasulullah SAW.

Beliau juga masih saudara seketurunan dengan Syekh Nurjati Cirebon, yaitu dari generasi keempat Amir Abdullah Khanudin.

Syekh Quro menikah dengan Ratna Sondari memiliki anak bernama Syekh Ahmad yang meneruskan perjuangan ayahnya menyebarkan agama Islam di Pesantren Quro Karawang. Saat ini, pesantren itu menjadi Masjid Agung Karawang. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 comments

  1. Maaf . Artikelnya sangat bagus. Tapi untuk kata2 terakhir saya kurang setuju. Bahwa ada keturunan Rasulullah Saw. Karna Rasulullah Saw tidak mempunyai anak laki2. Maka dikatakan sudah pupus keturunannya. Alangkah baiknya dikatakan saja keturunan Saidina Ali bin Abi Thalib.. itu lebih bagus.

    1. terima kasih masukannya.. tapi seluruh orang di dunia pun tahu jika yang dimaksud keturunan Rasulullah, maka yang dimaksud adalah keturunan putri beliau dengan sayyidina Ali.

  2. Jika ada orang yang berpikir Rasulullah SAW Terputus keturunannya. Apa bedanya dengan dia dengan Abu Jahal yang memanggil Rasulullah SAW Al-Abtar “orang yg terputus keturunannya” disaat Putra Lelaki Rasulullah Wafat Ketika Usia Belia.
    Di berbagai riwayat Rasulullah SAW pun memberi tahu kalau Putra Fatimah Azzahra RA adalah Keturunannya Nasabnya.

  3. Dalam artikel diatas tadi disebutkan, jika syech quro diusir oleh raja anggalarang, itu secara tempat diusir dari daerah mana? Dan ke daerah mana beliau pindah?

  4. Suaeb Ansori… Syekh Quro di usir dari Cirebon dan pergi ke Malaka bersama Nyi Subang Larang… Kemudian pada tahun 1418 Syekh Quro kembali lagi ke Pulau Jawa bersama Nyi Subang Larang dan para santrinya dengan kapal yang di Nahkodai oleh Laksamana Cheng Ho dan berlabuh di pelabuhan Pura Dalam Karawang… Dan di Karawang Syekh Quro membangun masjid Agung Karawang tahun 1418 masehi

  5. Suaeb Ansori… Syech Quro di usir oleh utusan raja Anggalarang di Cirebon, kemudian Syech Quro pergi ke Malaka bersama Nyi Subang Larang putrinya Ki Gedeng Tapa atau Ki Jumajan Jati… Setelah beberapa waktu di Malaka, kemudian Syech Quro kembali lagi ke Pulau Jawa tepatnya ke Pelabuhan Pura Dalem Karawang… Kemudian di Karawang Syech Quro membangun masjid Agung Karawang sekaligus pondok pesantren pada tahun 1418 masehi..