Ini Perbedaan Bendera Tauhid dan HTI yang Benar

0

Perbedaan bendera tauhid dan HTI yang benar sesuai pandangan umum, termasuk perspektif Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) terletak pada tulisan Hizbut Tahrir Indonesia.

Menurut Kemendagri, jika bendera itu tidak bertuliskan Hizbut Tahrir Indonesia, maka tidak bisa disebut sebagai bendera HTI. Namun di tengah situasi dan kondisi kebangsaan saat ini, kita juga harus jeli melihat fenomena yang tengah terjadi.

Kasus pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid di Garut yang dilakukan oknum Banser tidak bisa dimaknai sebagai penghinaan terhadap simbol tauhid yang menjadi ajaran inti dari agama Islam.

Redaksi islamcendekia.com akan mengulas secara independen dan berimbang dalam kasus ini. Banser diketahui sebagai badan otonom (banom) NU, ormas Islam terbesar di Indonesia berbasis tradisi, sehingga tidak mungkin berniat membakar simbol tauhid yang menjadi ajaran panutannya sendiri.

Sementara pembawa bendera bertuliskan tauhid yang ditangkap mengaku bahwa bendera yang dibawa merupakan simbol HTI yang dibeli dari situs online. Kasus ini jelas bukan murni persoalan akidah atau keyakinan, melainkan ada unsur kepentingan di dalamnya.

Seperti diketahui, HTI adalah ormas berjejaring dunia yang sudah dilarang di Indonesia, bahkan juga dilarang di sejumlah negara Islam seperti Arab Saudi, Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Uzbekistan dan lainnya. Kenapa? Sebab bendera tersebut dinilai sebagai bendera separatis atau radikal jihadis.

Lantas apa perbedaan bendera tauhid dan HTI? Secara kasat mata memang susah dibedakan, karena bendera HTI (sengaja) menggunakan kalimat tauhid berbunyi “La ilaha illallah Muhammadur rasulullah” yang artinya “tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah.”

Maka membedakan bendera tauhid dengan HTI harus menggunakan pendekatan kontekstual-fenomena kekinian, bukan menggunakan pendekatan tekstual. Bisa juga menggunakan pendekatan sosio-historis yang menjelaskan bagaimana sesungguhnya bendera yang digunakan Nabi Muhammad SAW pada saat itu.

Dalam Alquran tidak disebutkan adanya informasi tentang adanya bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid. Sementara penggunaan bendera hitam lengkap dengan kalimat tauhid ditemukan pada sejarah fenomena modern abad kekinian yang dipelopori kelompok separatis atau ekstemis jihadis.

Sumanto Al Qurtuby, prefosor antropologi asal Indonesia yang mengajar di King Fahd University Arab Saudi menjelaskan, dalam sejarahnya, Nabi Muhammad pernah memakai bendera hitam tapi tidak menggunakan kalimat tauhid yang dikenal dengan Ar Rayah.

Fungsi dari bendera itu sebagai pembeda antara kelompok Muslim yang sedang berperang dengan kelompok lawan atau musuh. Adapun hadits yang menjelaskan tentang Ar Rayah dan Al Liwa (bendera putih bertuliskan kalimat tauhid hitam), menurut Sumanto Al Qurtuby, masih diperdebatkan tentang akurasi kebenarannya.

Sementara itu, ustadz Muhammad Arifin Ilham melalui akun media sosialnya menjelaskan, bendera hitam bertuliskan tauhid merujuk pada hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam At Tirmidzi dan Imam Ibn Majah dari Ibn Abbas RA.

Dalam hadits tersebut menjelaskan, “Rayah Rasulullah SAW berwarna hitam dan Liwa beliau berwarna putih.”

Ustadz Arifin Ilham menambahkan, hadits itu dipertegas dengan Kitab Fathul Bari (VI/147) karangan Ibnu Hajar al-Asqolani bahwa rayah dan liwa bertuliskan “Laa ILaaha Illaallah Muhammadar Rasulullah”.

Namun, lagi-lagi jika melihat kasus Banser yang membakar bendera yang dianggap HTI dan dianggap kalimat tauhid oleh sejumlah orang lainnya, harus melihat situasi-kondisi secara kontekstual. Artinya, tidak mungkin ormas Islam yang juga menjunjung tinggi tauhid sebagai ajaran Islam, berniat membakar bendera tauhid sebagai keyakinannya sendiri.

Sesungguhnya ada yang jauh lebih penting dari hiruk-pikuk perbedaan pendapat tentang bendera HTI dan bendera tauhid, yaitu kalimat tauhid yang dimaknai dari hati yang paling dalam bahwa kita bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, lantas diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika kita bersaksi secara sungguh-sungguh dengan kalimat tauhid tersebut, maka sudah semestinya kita mengamalkan ajaran Allah dalam kitab-Nya (Alquran) dan ajaran Rasulullah SAW dalam haditsnya.

Kalau kita sudah mengamalkan dari ajaran tauhid, maka yang ada adalah perdamaian-kedamaian, cinta kasih saling menyayangi dan mengasihi kepada sesama makhluk, bukan hanya manusia tetapi juga hewan, tumbuh-tumbuhan serta alam yang merupakan ciptaan Allah.

Fokuslah pada ajaran Islam yang cinta damai, karena Islam adalah rahmat bagi semesta alam. InsyaAllah, Allah akan meridhoi dan memberikan rahmat bagi orang-orang yang berupaya mendedikasikan diri sebagai “khalifah” di bumi dengan menebar kebaikan, kebajikan, kebenaran, cinta dan kasih sayang kepada semua makhluk sesuai dengan ajaran-Nya.

Ingat! Perlawanan dan perang yang diserukan Rasulullah SAW zaman dulu bukan tanpa sebab, tetapi karena beliau dan umatnya disiksa bertahun-tahun lamanya oleh kaum kafir, bahkan hak-haknya dirampas. Itupun setelah beliau mendapatkan wahyu dari Allah, baru mau membalas apa yang dilakukan oleh kaum kafir dengan menyerukan perang.

Artinya, Nabi Muhammad SAW tidak mau menggunakan “ego” diri untuk menyerukan perang melawan kaum kafir, tetapi menunggu perintah dari Allah melalui wahyu yang diberikan kepada Rasulullah SAW. Beliau sangat berhati-hati sebelum memutuskan sesuatu. Sudahkah kita menyontoh perilaku Rasul yang demikian?

Perang dan pemberontakan tanpa disertai alasan yang benar sesuai ajaran Rasulullah SAW (alasan murni, bukan alasan pembenar), nyata-nyata hanya mengikuti hawa nafsu dan angkara murka belaka atau bahkan mengikuti kebodohan dan ketidaktahuan tentang pengetahuan keagamaan yang mumpuni. Jika memang mau meneladani ajaran Nabi Muhammad SAW, teladanilah secara utuh dengan melihat pula alasan-alasan dan sebab-musababnya terlebih dahulu. Semoga kita semua senantiasa mendapatkan rahmat dari Allah. Amin. (*)

Tulis Komentar

Alamat email anda dirahasiakan