Wisata di Laweyan Solo? Singgah di Makam Ki Ageng Henis

  • Whatsapp
Makam Ki Ageng Henis Laweyan Solo
Makam Ki Ageng Henis, ulama Kraton Pajang di Laweyan, Solo.

Makam Ki Ageng Henis terletak di lokasi kompleks pemakaman Laweyan, samping masjid kuno Laweyan, Dukuh Belukan, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Solo. Kenapa cocok buat wisata religi, siapakah Ki Ageng Enis itu?

Nama Ki Ageng Enis memang tidak populer sebagaimana tokoh raja maupun ulama seperti anggota Walisongo. Namun bagi kalangan Kraton Surakarta Hadiningrat maupun Kasultanan Jogja, nama Ki Ageng Henis sangat dekat dan tidak asing lagi.

Read More

Dia adalah leluhur raja-raja Mataram dan seorang ulama, penasehat spiritual sekaligus teman Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang. Ki Ageng Henis adalah putra Ki Ageng Selo, guru Sultan Hadiwijaya saat masih belum menjadi raja atau masih bernama Mas Karebet atau Joko Tingkir.

Dalam sejarahnya, Ki Ageng Henis pernah berdakwah dan mengislamkan sebagian umat Syiwa-Buddha di kawasan Laweyan, Solo. Konon, pura Hindu yang dikelola sahabatnya, Ki Ageng Beluk dan diubah menjadi masjid yang kini peninggalan sejarahnya masih ada, yakni masjid Laweyan.

Ki Ageng Ngenis adalah kakek Panembahan Senopati ing Alaga, raja Mataram pertama. Selain sebagai ulama Kraton Pajang mendampingi Sultan Hadiwijaya jumeneng nata, ia juga leluhur dari raja-raja Mataram (cikal bakal Kraton Solo dan Jogja).

Dikutip Islamcendekia.com dari Historyofjava.com, putra Ki Ageng Pemanahan ini adalah ulama beraliran Kejawen yang mengolaborasikan Islam sebagai “isi” dan budaya Jawa sebagai “kulit”, sama dengan Islam yang diajarkan Kanjeng Sunan Kalijaga. Artinya, substansi dan nilai-nilainya adalah Islam, tapi dalam lelakunya tidak meninggalkan Jawa sebagai budaya adiluhung bangsa.

Secara genealogis, silsilah Ki Ageng Henis masih memiliki trah Majapahit. Urutannya, Prabu Brawijaya V menikah dengan Dewi Wandan Kuning atau Bondrit Cemara melahirkan Raden Bondan Kejawan, berputra Ki Ageng Getas Pendowo, berputra Ki Ageng Selo, berputra Ki Ageng Henis.

Silsilah selanjutnya, Ki Ageng Henis berputra Ki Ageng Pemanahan, berputra Raden Sutawijaya (Panembahan Senopati ing Alaga), berputra Panembahan Hanyakrawati, berputra Sultan Agung Adiprabu Hanyakrakusuma. Jadi, pahlawan nasional Sultan Agung yang dikenal melawan VOC itu masih terhitung canggah (keturunan ke-4) dari Ki Ageng Henis.

Itu sebabnya, makam Ki Ageng Ngenis masuk ke dalam cagar budaya yang ditetapkan melalui keputusan Walikota Surakarta. Beliau lebih berperan sebagai ulama kharismatik yang berada di balik layar Kraton Pajang.

Objek wisata religi
Kalau lagi jalan-jalan ke Laweyan Solo, travelers akan disuguhi pemandangan perkampungan bernuansa kuno yang seolah akan membawa kita ke masa lalu. Masih cukup asli dan lekat dengan nuansa Jawa.

Nah, kalau lagi di Solo, jangan lupa untuk singgah di Makam Ki Ageng Henis. Di nisannya, terdapat tulisan “Kyai Ageng Henis” dan di sampingnya ada makam yang mengapitnya dengan nama Nyai Ageng Pandanaran (kiri) dan Nyai Ageng Pati (kanan). Namun belum diketahui siapa sesungguhnya kedua sosok perempuan yang mendampingi makam Kyai Ageng Henis tersebut.

Tidak seperti makam para wali yang tergabung dalam Majelis Walisongo, makam Kyai Ageng Henis terbilang cukup sepi. Hanya kalangan tertentu yang biasa berkunjung ke sana, terutama dari kalangan kraton maupun warga yang masih memiliki hubungan silsilah ke sana.

Kalau malam hari, mungkin suasananya akan menjadi lebih mistis dan terkesan angker. Tapi kalau dengan niatan yang bagus, yang ada wisata malam justru akan lebih terasa tenang dan dapat menentramkan jiwa.

Bagaimana? Tertarik singgah ke Makam Ki Ageng Henis saat jalan-jalan dan berwisata di Laweyan Solo? Jangan lupa untuk mendoakan beliau sebagai sosok ulama yang hidup sebagai abdi Sultan Hadiwijaya di zaman Kasultanan Pajang sekitar abad ke-16 itu ya?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *